UNLOGIC September 24, 2008
Posted by annisa in Merdeka.add a comment
Lagi bingung, sedih, lelah fisik dan mental (depresi dong ya???).
Merdeka ku setelah ultah nya yang kesatu kemaren, koq rasanya jadi aneh ya???? Dari mulai H-2 ultah sampe sekarang (1 bulan lebih 5 hari), dia sering kena demam (sampe 7 X, rekor untuk ukuran anak umur 1 tahun). H-2 demam tinggi manteng di 39,9 – 40,0 derajat, dua hari sembuh akhirnya bisa pulang ke rumah neneknya (neneknya mo rayain ultahnya di cirebon katanya). Sampe cirebon demam lagi tinggi sampe 4 hari manteng lagi di 40,1 – 40,7 derajat celcius. Alhamdulilah gak sampe kejang jangan sampe deh. Dibawa ke dokternya Deka alhamdulilah dalam 3 hari langsung kembali sediakala. Pulang ke Bandung lagi deh. Sampe Bandung 1 minggu kemudian demam lagi 2 hari, kena common cold, home treatment aja alhamdulilah sembuh. kita ajakin ke ITB Ganesha naek kuda soalnya ayahnya janjiin mo naek kuda. Sueneng banget deka. Sampe keingetan terus sampe sekarang sama deka (soalnya tiap kali kita bilang naek kuda dia langsung gerakin badan layaknya lagi naek kuda sambil bersuara “cecak – cecak”). Puas rasanya naek kuda dan naek delman. Malem dari jalan – jalan demam lagi, tinggi juga tapi karena termometer ketinggalan di cirebon gak bisa ngukur deh berapa suhu tubuhnya. Kena flue berat demam tinggi sampe 3 hari maunya tidur terus. Alhamdulilah sembuh di hari ke 4. Seminggu kemudian demam lagi, mo tumbuh gigi kali ini, soalanya dah keliatan bakal gigi, dan nangis terus kesakitan sambil gigit – gigit dot nya. 2 hari sembuh, Seminggu kemudian demam lagi, kali ini rewelnya luar biasa. pake acara batuk dan muntah – muntah terus. Sampe tiap hari cuci sprei 2 biji. Capek tapi tetep harus sabar ya. Gak ketahuan neh demam karena apa (gak ada tanda – tanda bakal gigi) tapi kita tetep ngacunya mo tumbuh gigi, soalnya rewel kayak yang kesakitan. Sikapnya aneh, hari pertama jam 2 pagi minta keluar rumah jalan – jalan, gak dibolehin nangis kuenceng. Tapi seh tetep gak boleh, baru keluar pas jam setengah enem pagi, itu juga badannya langsung dingin semua. Trus dari pagi sampe sore nangis aja susah berhenti. Ketemu orang nangis, padahal biasanya kalo ketemu orang – orang dia langsung ketawa – ketawa jingkrak – jingkrak seneng, minta gendong sama orang, trus kalo lagi posisi digendong pasti langsung minta jalan. Sekarang gak sama sekali. Nangis dan minta digendong terus. Mulai terasa anehnya. Karena terasa pegel dibadan. Kalo tidur ngigau terus, tidur gak mau ditemenin, ayah sama bundanya diusir. Kita pikir wajar. Nah pas malem nya kebeneran pas malem jumat, setelah tidur dari magrib dan udah muntah dua kali banyak pula, jam 9 malem tiba – tiba nangis kejer, matanya sambil melotot dan nangisnya gak keluar air matanya. Minta nya keluar rumah. Nambah bingung deh. Tetangga – tetangga pada dateng. Nambah bikin panik. Telepon deh Kang dani (temen kantor), ngerti kayak gitu – gitu seh. Bis bingung harus telepon siapa. trus cuma disuruh bacain surat An- Nashr 7 X kasih air, minumin. Berhasil langsung bobo lagi. trus aku tinggal sholat Isya’ terus baca yassin, tapi pas lagi baca yassin, tiba – tiba barang – barang yang kita bawa buat pindahan ambruk, jatoh. Kaget juga seh, tapi positif thinking aja, posisinya gak bener kali ya. Tapi setelah itu deka nangis lagi. Sekarang lebih kuenceng tapi ada air mata. Minta keluar lagi tapi gak boleh ma kitanya. Jam 10 malem gitu loh. Telepon lagi deh Kang dani, dan langsung dateng ke rumah. Ketemu kang dani deka malah nangis ketakutan. Trus kang dani telepon gurunya. Katanya seh kemaren sukmanya deka dibawa ke cirebon ma jin. Duh …… miris dengernya. Gak yakin seh. Katanya pada saat kita bilang mo pindah ke cirebon ada yang denger dan ada yang seneng deka mo pulang ke cirebon. Tapi gak sabar jadi pengen cepet – cepet bawa deka ke cirebon. Dibawa aja sukma anakku. Hughhhhhhh …………. unlogic ya.
Tapi setelah di obatin ma guru kang dani, dah dibalikin seh tapi yang balikin neh gak mo pulang ke asalnya. Jadi nungguin di depan rumah. Duh Gusti, harus bagaimana hambamu????? Gak ngerti soalnya yang begitu – begitu. Jadi alternatif cara pencegahan ya setengah jam sebelum magrib gak boleh dibawa keluar rumah, takutnya liat soalnya anak seumuran Deka masih sensitive sama Unknown. Trus juga masih dipantau ma guru kang dani. Sempet dibikinin gambar penguncian rumah biar gak berani masuk. 5 titik waktu itu tapi tiba – tiba bertambah satu jadi enam titik dengan sendirinya. Hihihi, unlogic ya. Tapi nyata bener aku liat sendiri.
Sekarang deka jarang ceria kayak dulu, lebih banyak nangis, lebih banyak diem ngelamun dan gak mau ketemu orang, pasti nangis. Sedih deh rasanya liat merdeka begitu. Mungkin seh karena habis sakit ya jadi ogo, tapi jadi sempet mikir yang sebab unlogic juga seh. Sekarang juga masih gak mau makan dari habis sakit yang dulu, maunya digendong terus jarang mo jalan sendiri. Jadi kurus, matanya celong. Gak biasanya. Dulu segala makanan diembat, sampe kita yang larang dia makan karena dah kekenyangan tapi deka masih mo makan terus. Sekarang?????? 180 derajat berubah.
Cobaan buat keluarga ku, ku anggap aja cobaan biar ikhlas menrimanya. Sedih iya, bingung pasti. Tapi life must go on. Merdeka harus kembali seperti Merdeka dulu lagi.
Bunda tahu Deka juga capek, pengen normal kayak dulu lagi. Bunda tahu emosi Deka saat ini masih labil. Bunda ma Ayah pasti bantuin Deka koq. Deka harus kuat ya. Selamat Berjuang anakku. Peluk cium dan sayang dari ayah sama bunda.
Sepucuk Surat Dari Seorang Ayah September 22, 2008
Posted by annisa in Anything.add a comment
Anakku sayang,
aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang
tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang ayah
kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik
Tuhannya.
Anakku, menjadi ayah itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini.
Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang
telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Anakku, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang
terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit.
Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, aku seperti
menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku
terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling
aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku
duduk berduaan berhadapan dengan-Nya.
Anakku, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai
buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti bahwa aku dan ibumu tak lagi
terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau sudah
makin beranjak dewasa, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.
Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena
cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku
menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya
hanya untuk Tuhan.
Anakku, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya
aku dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu
sepenuh-penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu
mencerahkanku.
Sejak saat itu, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada
pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan
segala sesuatu karena-Nya, bukan karena aku dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi
dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi
contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai
dengan keinginan Tuhan, agar perjalananmu mendekati-Nya tak lagi terlalu
sulit.
Kemudian kita pun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau
kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam
jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang
tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti
berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air
matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya anakku, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan
Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, aku akan ikhlas. Karena
seperti itulah aku didunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin
saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita
kembalikan kepada pemiliknya.
Sources: – anonymous -
Menakar Kebutuhan AA dan DHA September 15, 2008
Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.3 comments
Menakar Kebutuhan AHA/DHA
Susu formula dengan DHA dan AHA belum tentu berefek maksimal untuk pertumbuhan otak. Istilah DHA (Docosahexaenoic acid) dan ARA (arachinoid acid) memang tak asing di telinga para ibu. Dalam iklan di televisi, terlihat sejumlah perusahaan susu berlomba-lomba menawarkan produk yang mengandung DHA dan ARA. Biasanya, susu jenis ini harganya lebih mahal dibanding susu formula tanpa asam lemak esensial itu.
Si ibu yang langsung kepincut dua komponen tersebut dan berkantong tebal langsung berburu produk itu. Padahal, menurut Dr Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K), meskipun banyak susu formula mengklaim mengandung DHA dan ARA, belum tentu semuanya akan memberi dampak yang baik dan maksimal untuk pertumbuhan otak anak.
“Hampir semua produsen susu formula memasukkan berbagai benda dalam produknya, tapi jumlahnya sedikit-sedikit. Padahal, bila perbandingan DHA dan ARA dalam susu formula tak tepat, hasilnya tak akan baik bagi anak. Kecerdasannya tak akan meningkat,” ucap Hardiono, Selasa lalu di Jakarta, dalam konferensi pres mengenai kadar asupan DHA ARA yang tepat dan stimulasi sejak dini untuk nilai IQ anak lebih baik.
Hardiono juga menjelaskan, DHA dan ARA sebenarnya terdapat secara alami dalam air susu ibu (ASI). Konsultan anak bidang neurologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, itu menambahkan, dibandingkan dengan susu formula yang diperkaya DHA dan ARA, kandungan kedua asam lemak yang terdapat dalam ASI masih jauh lebih baik segi kualitas ataupun kuantitasnya. Ini berbeda dengan ASI, kandungan DHA dan ARA secara alami memiliki komposisi yang tepat bagi tumbuh-kembang bayi.
DHA dan ARA merupakan asam lemak yang sangat dibutuhkan bayi untuk pembentukan otak, jaringan saraf, jaringan penglihatan, dan membantu pembentukan sistem imun pada bayi. Melalui ASI, bayi akan mendapatkan DHA dan ARA yang diperlukan sebagai komponen utama lemak membran sel dan merupakan asam lemak tak jenuh dalam rantai panjang utama sistem saraf pusat. DHA juga merupakan komponen utama membran sel fotoreseptor retina.
Otak tumbuh maksimal sejak 3 bulan terakhir dari masa kehamilan sampai kurang lebih usia 2 tahun. Karena itu, dalam periode tersebut, bayi sebaiknya mendapat DHA dan ARA dalam jumlah cukup, yang tentunya dapat diperoleh dari ASI. Agar mendapatkan kandungan DHA dan ARA yang tinggi dalam ASI-nya, ibu hamil bisa mengkonsumsi makanan yang menjadi sumber DHA, seperti ikan laut (contohnya salmon), minyak ikan, daging, dan telur.
Dari suatu penelitian, Dr Craig Jensen dari Departemen Pediatrik pada Baylor College of Medicine Houston, Texas, menyebutkan ibu-ibu di setiap negara memiliki kandungan DHA dan ARA dalam ASI berbeda-beda. Perbedaan ini lantaran asupan makanan yang dikonsumsi sehingga dapat mempengaruhi kadar kedua komponen tersebut. Walau tak ada angka yang pasti, Craig mengatakan DHA dan ARA yang terdapat dalam ASI wanita Indonesia tak jauh berbeda dengan negara tetangga, seperti Malaysia, yaitu sekitar 0,4 atau 0,5 persen dari total asam lemak. “¨Ya, sekitar 0,4 atau 0,5 persen dari total asam lemak. Tapi, meski jumlahnya sedikit, DHA dan ARA penting dalam perkembangan intelektual dan daya penglihatan anak,¨ ujar Craig.
Dia melanjutkan, dari beberapa hasil studi memperlihatkan asupan DHA dan ARA, baik bagi bayi prematur maupun bayi yang lahir normal, bermanfaat untuk perkembangan fungsi penglihatan dan perkembangan saraf otak pada bayi dan balita.
Selain itu, penelitian yang dilakukan Dr E. Birch menunjukkan, anak-anak berusia 4 tahun yang mendapatkan asupan DHA dan ARA dengan kadar 0,36 persen DHA (90 miligram DHA/100 gram) dan 0,72 persen ARA (180 miligram ARA/100 gram) selama 4 bulan pertama memiliki tingkat IQ lebih tinggi 7 poin dibanding mereka yang tak mendapat asupan DHA dan ARA dalam kadar tersebut. Di samping itu, studi lain menunjukkan bahwa skor IQ pada anak usia 4 tahun berkorelasi kuat dengan skor IQ pada usia 17 tahun. “Hal ini menunjukkan adanya stabilisasi dalam jangka waktu panjang dan mengindikasikan nilai skor IQ yang kurang lebih sama tingginya pada usia dewasa,” Craig Jensen menjelaskan.
Namun, selain asupan DHA dan ARA dalam kadar yang tepat, Hardiono mengingatkan perlunya stimulasi tepat yang diterapkan sejak dini untuk melatih kecerdasan anak. Menurut Hardiono, kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh rangsangan yang diterimanya pada tahun-tahun awal kehidupannya, terutama dua tahun pertama yang sering disebut dengan the golden years. Stimulasi yang tepat, baik jenis maupun frekuensinya, akan melatih pancaindra anak dan akan mempengaruhi kecerdasan.
Nah, jangan sia-siakan masa keemasan anak Anda. Sebab, bila terlambat, akan sulit memperbaikinya.
Marlina Marianna Siahaan
Sumber : Tempo
Perlukah Suplementasi AA/DHA dalam Susu Formula?
Ditulis Oleh Arifianto MD
Mohon maaf kalau tulisan ini jadinya seperti artikel semi ilmiah. Hanya berusaha menyumbangkan sedikit informasi yang saya punya sebelum meninggalkan Jakarta menuju lokasi tanpa koneksi internet sama sekali (listrik dan telepon saja belum tahu ada/tidaknya). Maraknya iklan susu formula di mana-mana: TV, majalah, koran mendorongku menelusuri lebih lanjut, perlukah suplementasi AA/DHA dalam susu formula.
Tujuan tulisan ini adalah menekankan tidak ada yang mampu menggantikan ASI dalam enam bulan pertama kehidupan bayi. Susu formula dibuat dengan berusaha meniru semirip mungkin kandungan yang ada dalam ASI, untuk memenuhi segala kebutuhan nutrisi bayi: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Sebagian besar formula ini diambil dari susu sapi, yang dinilai kandungannya hampir menyerupai air susu manusia, dan mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi. Sebagian kecil adalah susu kedelai. Ada satu kandungan dalam ASI yang tidak terdapat dalam susu formula kebanyakan, yaitu AA/DHA. Berbagai penelitian menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI sampai usia satu tahun memiliki perkembangan otak lebih baik dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Kandungan yang menentukan ini adalah asam arakidonat (arachidonic acid/AA) dan asam dokosaheksaenoat (docosahexaenoic acid/DHA), suatu asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (long chain polyunsaturated fatty acids/PUFA), yang merupakan batu bata utama pembangun jaringan saraf di retina (saraf mata) dan otak. Mengetahui hal ini, para peneliti biokimia berlomba-lomba memasukkan AA dan DHA dalam kandungan susu formula, dan melihat dampaknya apakah menyerupai keuntungan bayi yang mendapatkan ASI.Sebuah tulisan dalam jurnal Nutrition Noteworthy tahun 2002 yang berjudul: “Finding the Magic Formula: Should Polyunsaturated Fatty Acids be Used to Supplement Infant Formula” yang ditulis Mailan Cao menjelaskan tiga hal utama yang menjadi indikator utama outcome (keluaran) suplementasi AA/DHA ini, mengingat tidak semua hal yang terbukti di laboratorium (in vitro) atau hewan percobaan, lantas sama efeknya ketika diterapkan pada manusia.
1.. Suplementasi AA/DHA dan kadarnya dalam asam lemak plasma (darah)
Setelah dibuktikan aman untuk dikonsumsi tubuh manusia, peneliti ingin membutikan apakah suplementasi AA/DHA dapat diserap tubuh sama halnya kandungan dalam ASI, melihat bukti kadar AA/DHA dalam tubuh bayi yang mendapatkan susu formula tanpa suplementasi AA/DHA lebih rendah dibandingkan dengan yang mendapatkan ASI.Ternyata terbukti, suplementasi AA/DHA meningkatkan kadarnya dalam plasma darah, membran sel darah merah (eritrosit), dan jaringan korteks otak, dalam jumlah menyerupai yang mendapatkan ASI. ARTINYA: suplementasi AA/DHA mampu diserap tubuh dengan baik. NAMUN ini sama sekali tidak menunjukkan dampaknya dalam perkembangan saraf otak dan ketajaman penglihatan.
2.. Suplementasi AA/DHA dan Pengaruhnya dalam (Fungsi) Ketajaman Penglihatan
Sebuah penelitian ‘meta-analisis’ menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa penelitian terdahulu tidak menunjukkan adanya perbedaan.
3.. Suplementasi AA/DHA dan Perkembangan Kecerdasan/Perilaku
Inilah KUNCI dari impian semua peneliti mengenai suplementasi AA/DHA: mampukah menyamai dampaknya dalam meningkatkan kecerdasan bayi, layaknya bayi yang mendapatkan ASI? Ternyata dari berbagai penelitian: belum terbukti. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, dan diteruskan sampai usia 1 tahun, memiliki kecerdasan lebih daripada yang mendapatkan susu formula dengan AA/DHA sekalipun.Beberapa kendala juga menghadang model penelitian ini. Antara lain jenis uji yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan adalah:
Bayley Mental Development Index (MDI) dan the Psychomotor Developmental Index (PDI). Berbagai penelitian menunjukkan hasil berbeda-beda, ada yang menggambarkan hasil signifikan pemberian suplementasi AA/DHA, dan sebagian lain tidak ada bedanya. Belum lagi pengaruh sosioekonomi responden yang mempengaruhi uji statistik. Kadar AA, DHA, dan asam lemak lain semacam ALA dan LA juga bervariasi antar penelitian. Sampai perbedaan genetik dan lingkungan di berbagai belahan dunia tempat penelitian dilakukan (Amerika Utara, Australia, dan Eropa). Juga terkadang jumlah sampel terlalu
sedikit, umur bayi yang terlalu dini untuk dilakukan pengujian, dan jangka waktu penelitian yang seharusnya cukup panjang, sehingga dapat dilihat dampaknya hingga usia remaja dan dewasa.Pada akhirnya penelitian mengenai dampak suplementasi AA/DHA masih terus dikembangkan, dan belum berakhir.
Bagaimana dengan pemasarannya di negara kita? Berbagai iklan dan informasi yang tidak jarang datang dari dokter spesialis anak sendiri seolah-olah mengklaim perannya signifikan dalam meningkatkan kecerdasan bayi.Di AS, Food and Drug Administration (FDA) atau serupa Badan POM-nya Indonesia, memberikan ijin kepada dua perusahaan: Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA kepada khalayak sejak awal 2002. Harganya 15-20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi, dan ini pun
memberikan keuntungan kepada dua perusahaan tersebut untuk membiayai penelitian mengenai AA/DHA.American Council on Science and Health memiliki pandangan “the current data has not consistently shown that supplementation of formulas with DHA and AA has a lasting beneficial effect on infant development” juga hal lain seperti keamanan menambahkan asam lemak dalam susu formula belum teruji. Pada akhirnya keputusan
berpulang pada tangan si konsumen. Apakah akan memberikan susu formula dengan suplementasi AA/DHA atau tidak. Yang penting adalah memberikan ASI Eksklusif selagi mampu. Sejak masa kehamilan, persiapkan diri sebaik mungkin dengan pengetahuan menyusui bayi secara optimal. Menjelang persalinan, jika Anda berencana melahirkan di Rumah Bersalin atau Rumah Sakit, bukan di rumah, mintalah kamar rawat gabung. Anda bisa bersama bayi Anda sejak lahir hingga saatnya pulang, tanpa dipisahkan sedikit pun dari sisi sang ibu. Satu hal yang sangat sulit dilakukan di kota besar seperti Jakarta. Begitu bayi lahir, segera dekatkan ke payudara ibu, untuk early
latch-on-menyusui dini-dengan teknik yang telah Anda ketahui baik. Sehingga dipastikan kemampuan Ibu untuk menyusui bayinya penuh sangat baik. Maka tidak ada alasan lagi: “ASI saya tidak keluar”, dan harus memberikan susu formula pada bayi. Dukungan dari keluarga juga sangat penting. Tidak sedikit alasan ibu memberikan susu formula pada bayinya yang mendapatkan ASI dengan baik adalah: khawatir ASI tidak cukup. Pembahasan ASI sangat panjang, tidak dalam bahasan ini.
Kecerdasan bayi tidak hanya monopoli ASI dengan AA/DHA-nya saja. Tapi juga stimulasi eksternal, dari lingkungan, melalui rangsangan yang diberikan Papa-Mamanya, dengan percakapan verbal, pengenalan media visual, dan perhatian penuh orangtua terhadap perkembangan kecerdasan anak. Apalah artinya anak dengan asupan AA/DHA baik, tapi tidak pernah dirangsang kemampuan verbal dan visual oleh orangtuanya. Bisa jadi akan lebih buruk dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mendapatkan ASI atau susu formula, tetapi ibunya mampu memberikan perhatian penuh terhadap stimulasi
kecerdasan buah hatinya.
Sumber : http://arifianto.blogspot.com
Pengaruh Negatif Susu AA dan DHA
Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut. Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak anak termasuk untuk ibu hamil. “Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan
asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta. Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur.
Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi. “Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat.
“Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”. Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat di berikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang.
Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula. Menyesatkan
Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala galanya”, tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masyarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsure tambahan tersebut.
Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. “Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber.
Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda”.
[sumber: Harian MEDIA INDONESIA, Jum'at 22 September 2000]
penyesalan Agustus 4, 2008
Posted by annisa in Anything.add a comment
Lagi merasakan menyesal ……… bangeet. Ga enak rasanya. Kayak yang dicabik – cabik. bener kata pepatah, “menyesal pasti dibelakang”. Kemaren hari Minggu, mungkin karena badanku capek banget, ngasuh Deka pake acara marah – marah mulu. Deka flu, batuk pilek gitu, jadi agak sumeng kali ya badannya. karena sumeng jadi tiap kali pipis dibawa ke kamar mandi nangis, mandi pagi dan sore juga pake acara nangis, kedinginan kali ya cuma bunda nya ga bisa ngerasain pake maen guyur – guyur aja. Sampe pagi tadi juga dimandiin gak mau, tapi gimana lagi dah nanggung. Pas lagi dipakein sabun, ngadat pengen peluk bundanya. Kan basah semua deh bajuku, aku malah makin teges aja ngelapasin tangannya. Jadi nyesel banget. Deka kedinginan kali ya wong pas aku mandi aja dingin banget rasanya. Deka minta peluk malah aku lepasin tangnnya, sampe dia nangis setelahnya. Jadi sedih banget. Langsung kangen pengen peluk, pengen belai Deka, pengen mainan sampe bikin dia ketawa kepingkal – pingkal.
Maafin bunda ya de’. Bunda gak tau kalo Deka kedinginan. Bunda ga bisa ngerasin deka kedinginan. Maafin ya. Bunda nyesel banget. Bunda tau Deka lagi cari perhatian bunda (kan bunda libur ngantor ya), tapi bunda cuek aja. Maaf sekali lagi ya de’. Bunda nyesel banget.
Sufi Kecil Juli 31, 2008
Posted by annisa in Anything.add a comment
Q1: Anak-anak di usia tertentu tidak merasa nyaman dengan abstraksi yang tak mudah dipahami.
Q2: Rasa takjub yang muncul sebagai bentuk respon terhadap kemegahan alam adalah salah satu bentuk pengalaman spiritual yang dapat dialami anak-anak. Kepolosan anak-anak terkadang sanggup membuat kita terheran-heran atau bahkan kehilangan kata-kata. Dari mulut mungil mereka kerap muncul pertanyaan yang tak terduga. Apa jawaban Anda ketika mereka bertanya tentang Tuhan?
Anak dapat diibaratkan seperti filsuf kecil yang penuh rasa ingin tahu dan haus jawaban. Pertanyaannya terkadang sulit dijawab dengan cepat dan ringkas. Sebelum Anda mencoba menjawab pertanyaan anak, pikirkan dulu jawaban Anda karena kemampuan abstraksi anak masih rendah.
Anak-anak di usia tertentu tidak merasa nyaman dengan abstraksi yang tak mudah dipahami. Begitu kata Harold S. Kushner dalam bukunya yang berjudul When Children Ask About God. Ia menyebutkan bahwa pikiran anak-anak haus akan sesuatu yang nyata, konkret, jelas. Mereka akan menerjemahkan abstraksi tersebut ke dalam sesuatu yang lebih mudah dicerna.
Saat Anda menjelaskan sesuatu yang abstrak seperti Tuhan, anak perlu diberi perumpamaan dari pengalaman empiris, yakni berdasarkan hal-hal konkrit yang dialaminya sehari-hari. Sebagai contoh, ketika si kecil bertanya: Ma, Tuhan itu siapa?? Anda bisa menjawab bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian beri penjelasan lebih lanjut melalui perumpamaan yang sederhana, misalnya, Mencipta itu berarti membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Contohnya seperti saat Mama mencampur tepung, gula, dan telur menjadi kue. Dalam teorinya mengenai psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, filsuf sekaligus psikolog perkembangan kelahiran Swiss, menyebutkan bahwa anak usia 2 – 7 tahun sedang berada dalam tahap pra-operasional (pre-operational stage).
Pada tahap ini, anak sudah bisa membayangkan wujud benda sekalipun benda tersebut tidak ada di hadapannya. Anak sudah mulai mengerti, bahwa benda yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Contohnya, ketika bonekanya disembunyikan, si kecil tahu bahwa boneka itu ada, tapi tidak bisa dilihatnya.
Persoalannya, hal itu hanya berlaku pada benda-benda yang pernah dia lihat, kata Bagus Takwin, SPsi, MHum, Psi, dosen Psikologi di Universitas Indonesia. Saat menjelaskan tentang konsep Tuhan yang abstrak, berarti konsep itu harus diciptakan di kepala tanpa melihat bendanya. Dan jawaban berupa contoh biasanya cukup ampuh.
Saat menjelaskan tentang keberadaan Tuhan yang tak kasat mata, Anda bisa memberi contoh dengan menggunakan perwakilan dari hal nyata yang diketahui anak. Katakan, Tuhan itu tidak bisa dilihat, tapi bisa
dirasakan. Sama seperti angin. Adek bisa merasakan angin tapi tidak bisa melihatnya, kan??
Tak perlu berbohong. Berhati-hatilah saat menjelaskan sebuah konsep abstrak seperti Tuhan. Anak balita memang belum bisa memahami gagasan filosofis, tapi bukan berarti Anda boleh memberi jawaban sekenanya hanya karena sudah kehabisan kata-kata. Anak bisa mengalami kebingungan karena konsep yang selama ini dipegangnya ternyata berbeda dengan kenyataan. Boleh jadi Anda takut jika anak tidak mengerti penjelasan yang diberikan. Tetapi, sebenarnya Anda tidak perlu khawatir. Karena daya pikir anak
akan terus mengalami perkembangan. Jadi tenang saja. Begitu perkembangan kognitif anak bertambah, kita beri pemahaman lebih dalam lagi. Jangan takut anak akan begitu terus, kata Bagus Takwin.
Tampaknya, dia tidak puas dengan jawaban saya. Jika anak tak kunjung merasa puas dengan jawaban yang diberikan, sementara Anda sendiri bingung untuk menjelaskan lebih lanjut, Kushner menyarankan agar Anda jujur memberitahukan soal ketidaktahuan tersebut. Katakan, Pertanyaanmu sulit. Sudah banyak orang yang berusaha menjawabnya, tapi mereka pun tidak yakin dengan jawaban itu. Mama akan coba menjawab sebisa mungkin, tapi mungkin kamu baru bisa mengerti saat kamu dewasa nanti. Menurut Kushner, hal ini malah akan mendidik anak mengenai pentingnya mencari jawaban sendiri sehingga mereka bisa belajar lebih banyak mengenai dunia.
Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan mencari orang yang Anda anggap cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan si filsuf kecil. Atau, Anda juga bisa memasukkan sekolah yang bernapaskan agama. Meski begitu, Anda tetap perlu mencermati kualitas dari sekolah tersebut.
Perkenalan yang Sederhana. Ada cara-cara sederhana untuk memperkenalkan Tuhan kepada filsuf kecil kita. Berikut ini di antaranya:
1. Kenalkan lewat alam
Ketika menerangkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, ada baiknya anak turut diperlihatkan pada keindahan alam itu sendiri. Tunjukkan kepadanya tentang matahari yang selalu terbit di timur dan tenggelam di barat. Bawa dia menikmati riak air laut serta sepoi-sepoi angin di tepi pantai. Perlihatkan kepadanya bahwa hanya melalui biji yang berukuran kecil, pohon besar dan kokoh dapat tumbuh. Rasa takjub yang muncul sebagai bentuk respons terhadap kemegahan alam adalah salah satu bentuk pengalaman spiritual yang dapat dialami anak-anak, kata Kushner.
2. Kenalkan lewat cinta
Jika ingin mengajarkan sifat Tuhan untuk membentuk pemahaman anak terhadap kebaikan, salah satu cara yang tepat adalah memperkenalkan lewat cinta yang Anda berikan. Anak yang dilimpahi dengan cinta dan
kepercayaan oleh orangtuanya akan percaya bahwa Tuhan adalah zat yang ada di balik dunia yang ramah dan bersahabat. Nantinya, anak akan memandang dunia secara positif. tutur Kushner.
3. Kenalkan lewat cerita
Membacakan cerita-cerita rohani, misalnya kisah para nabi, sebenarnya akan memudahkan anak untuk memahami keberadaan Tuhan. Anak usia balita memang lebih suka mendengarkan cerita daripada konsep. Dan cerita membantu anak untuk memahami suatu kejadian secara komprehensif, tutur Bagus Takwin.
Hal ini juga diamini oleh Asriani, guru di bagian play group Al-Azhar Syifa Budi, Kemang, Jakarta. Anak usia tiga tahun lebih mengerti kalau kita bercerita langsung, dibandingkan menonton, ujarnya. Sekarang kan ada
film-film rohani untuk anak. Tetapi saat menonton, bisa saja pikirannya ke mana-mana. Tapi kalau mendengarkan cerita bersama gurunya, biasanya lebih mengena.
4.Kenalkan lewat bakat
Jelaskan kepada anak, bahwa kepercayaan terhadap Tuhan berarti juga percaya serta menghargai kemampuan diri sendiri. Misalnya, saat melihat anak yang gemar menggambar, puji hasil karyanya lalu katakan, Tuhan menciptakanmu dengan bakat menggambar yang belum tentu dimiliki teman-temanmu. Kamu harus bangga. Hal ini sebenarnya turut berguna untuk membangun rasa percaya diri. Karena anak merasa Tuhan telah memberinya suatu keistimewaan. Anak pun akan menghargai diri serta mau mengasah kemampuan yang dimilikinya.
5.Kenalkan lewat doa
Bisa dikatakan inilah salah satu cara dasar untuk mengenalkan Tuhan kepada anak. Ajari anak untuk berdoa dengan cara yang mudah, misalnya sebelum makan atau sebelum tidur. Jika dilatih terus menerus, lambat
laun hal ini akan menjadi kebiasaan.
Penjelasan tentang Tuhan adalah langkah awal yang baik jika Anda ingin menerapkan nilai-nilai moral berdasarkan ajaran agama sejak dini. Pendidikan tentang agama akan berlanjut kepada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana harus bersikap baik, sopan, atau bersyukur. Akan lebih baik lagi jika Anda mencontohkan penerapannya sebab anak belajar dari meniru perbuatan orang tuanya.
(PT. Nestle Indonesia bekerja sama dengan Majalah Parents Indonesia)