jump to navigation

Renungan Diri Juni 23, 2008

Posted by annisa in Anything.
add a comment

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a.
” Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.
Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit royal adalah hidup mewah, dan
penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan….

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. ,  Rasulullah SAW bersabda :
Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu :
rajin beribadah ketika dilihat orang,
malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala
perkara.
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah :
” Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-2ku yang tersembunyi darinya,
dan janganlah kata-2nya mengakibatkan siksaan bagiku…”

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata:
” Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-2 dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…”

Iklan

ISI KOTAK OBAT DI RUMAH Juni 23, 2008

Posted by annisa in Anything.
add a comment

ISI KOTAK OBAT DI RUMAH

1. Digital thermometer

2.   Sirup parasetamol

3. Calamine lotion, hydrocortisone cream (1/2%),

4.   ALKOHOL

5. Petroleum jelly untuk LUBRIKASI thermometer rectal

6. Antiseptic lotion-ointment

7. Plester – kasa steril – roll pads

8. Alat bantu memberikan obat sirup (dropper, spuit/syringe, cup/mangkok atau sendok kalibrasi

9. Untuk kompres hangat/dingin

10. Senter kecil

11. Oralit/pedialit

12. Kasa Steril – rolls; pads

Rational Use Of Medicine Juni 23, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

RATIONAL USE OF MEDICINE (RUM)
Oleh : Purnamawati S Pujiarto Dr SpAK, MMPed

Semua orang dalam hidupnya suatu saat pasti membutuhkan obat, termasuk tenaga medis. Semua orang, termasuk pemberi jasa layanan kesehatan (provider) adalah konsumen. Semua orang butuh dan berhak memperoleh layanan kesehatan yang TERBAIK. Di lain sisi, apakah semua gangguan kesehatan harus senantiasa dijawab dengan obat? Apakah ketika anak sakit, solusinya harus peresepan sederet obat dalam bentuk puyer?
Memang, tidak sedikit konsumen yang beranggapan bahwa konsultasi medis adalah kunjungan berobat” alias upaya meminta obat. Uniknya, meminta obat ini sudah seolah terpatri, harus” cespleng dan harus” puyer. Ironisnya lagi, anak merupakan populasi yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional antara lain pemberian antibiotika dan steroid yang berlebihan, serta polifarmasi. Padahal, gangguan kesehatan harian pada anak umumnya merupakan penyakit ringan yang sifatnya self limiting”. Demam, diare akut, batuk pilek, dan radang tenggorokan, merupakan kondisi yang umumnya ditangani dengan antibiotika. Keempat kondisi tersebut juga peresepannya polifarmasi. Padahal, ketika orang dewasa mengalami gangguan yang sama, peresepan obatnya lebih ramping” ketimbang buat anak. Padahal, di dalam kamus bahasa Indonesia, konsultasi medis adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk mencari penyebab terjadinya penyakit & untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Singkatnya, konsultasi medis adalah upaya advocacy, upaya berbagi informasi, upaya meminta penjelasan dan kejelasan. Namun demikian, siapa yang paling berperan terhadap terpaterinya pola pikir sakit = obat, obat = puyer (kalau mau murah, praktis dan cespleng”)? Barangkali, sudah waktunya kita merenungkan kembali praktek keseharian kita di lapangan. Membuka hati, karena kita ingin senantiasa memberika yang TERBAIK buat bangsa ini. Waktunya pun terasa cocok karena sudah semakin banyak konsumen yang memahami bahwa konsultasi medis tidak selalu berarti obat, keputusan klinis tergantung penyebab gangguan kesehatan yang tengah dialami si konsumen.
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya perenungan dan upaya berbagi terkait konsep pola pengobatan yang rasional, yag sudah lebih dari 20 tahun di canangkan. Diawali dengan beberapa cuplikan termasuk dari beberapa guru yang saya hormati dan kagumi semangat dedikatifnya bagi pasien-pasien kita tercinta.


PENINGKATAN MUTU PENGGUNAAN OBAT DI PUSKESMAS MELALUI PELATIHAN BERJENJANG PADA DOKTER DAN PERAWAT
Iwan Dwiprahasto; Bag Farmakologi & Toksikologi FK, UGM Yogyakarta

Berbagai studi menemukan bahwa penggunaan obat untuk ISPA cenderung berlebih. Penyebab pertama, keterbatasan pengetahuan petugas kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tak jarang tetap meresepkan obat yang tak diperlukan (misal antibiotika dan steroid untuk common cold). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien. Contoh, kebiasaan memberikan injeksi pada pasien dengan gejala pada otot-sendi.
43 puskesmas ikut dalam penelitian. Jumlah ratarata obat yang diresepkan untuk ISPA anak dan dewasa, yaitu 3.62 dan 3,69. Pasien myalgia mendapat rata-rata 3.24 jenis obat. Di sebagian besar kabupaten penggunaan antibiotika untuk ISPA mencapai lebih dari 90%. Hanya beberapa puskesmas yang meresepkan antibiotika kurang dari 70%.

Tujuan penelitian (1) menilai pola peresepan ISPA dan myalgia di puskesmas di 8 kab/kota, SumBar (data peresepan retrospektif), dan (2) meningkatkan mutu penggunaan obat untuk ISPA dan myalgia (dilakukan intervensi pelatihan penggunaan obat rasional, melibatkan dokter dan perawat di 15 puskes).
Enam bulan pasca intervensi, penggunaan obat termasuk antibiotika dan injeksi menurun bermakna. Rata-rata jumlah obat untuk ISPA pada anak turun dari 3.74 + 0.58 menjadi 2.47 + 0.67 (p<0.05) (dokter) dan dari 3.67 + 0.49 menjadi 2.39 + 0.73 (p<0.05) (perawat). Penurunan penggunaan antibiotika pada anak dengan ISPA secara bermakna hanya ditemukan pada perawat, dari 81.37% menjadi 42.40%.
Proporsi pasien dewasa dengan ISPA yang mendapat antibiotika Turun bermakna dari 89.18% menjadi 44.15% (p<0.05) (dokter) dan dari 91.22% menjadi 38.71% (p<0.05) (perawat). Penggunaan injeksi juga turun bermakna pada pasien myalgia, yaitu dari 69.11% menjadi 31.89% (p<0.05) (dokter) dan dari 79.56% menjadi 62.91% (p<0.05) (perawat).

Rabu, 22 November 2000: Obat, Komoditas atau Produk Karitas?

OBAT itu unik. Ia adalah komoditas ekonomi komersial tetapi sekaligus produk yang lekat dengan fungsi sosial, penyelamat nyawa manusia. Obat memag telah lama menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan. Otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan, menimbulkan pengobatan yang irrasional yang merugikan konsumen, namun memperkaya para dokter dan industri farmasi.
Ivan Illich (Medical Nemesis: Expropriation to Health, 1975) mengkritik institusi dan industri medis yang membuat manusia tak lagi memiliki otonomi atas kesehatannya sendiri. Dunia medis justru menciptakan “kesehatan” menjadi “kesakitan”. “Industri kesehatan telah menjadi ancaman besar terhadap kesehatan.” Buku-buku lain yang menggugat kemapanan “kolusi” industri dan para dokter ditulis Dianna Melrose (Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines?, 1984), John Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984), hingga pengarang novel Arthur Hailey (Strong Medicine, 1984). ………
Khusus tentang obat-obat generik bermerek, di Indonesia jumlahnya paling banyak. Obat-obat ini berhasil membangun citra seolah-olah seperti obat paten. Ada nilai tambah dengan kemasan yang baik, merek yang keren, serta biaya promosi yang tidak kecil.
Obat, kecil skala ekonominya. Namun, keuntungan yang diraih luar biasa besar. Di Amerika Serikat, menurut survei majalah Fortune, 12 perusahaan farmasi termasuk dalam kelompok 50 perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling besar. Padahal tidak satu pun yang omsetnya besar. Di Indonesia, ada perusahaan farmasi PMA mematok harga obat lebih tinggi daripada di Kanada dan banyak negara kaya. Ini karena praktik transfer pricing ke perusahaan induk. Sementara perusahaan farmasi swasta nasional juga pesta pora obat generik bermerek yang sebenarnya obat latah (me-too drugs) yang margin keuntungannya jauh lebih besar ketimbang obat paten PMA sehingga mereka leluasa mengontrak dokter.
Apakah masih layak menyebut obat dan dokter itu penyelamat? (ij)

Obat Rasional, Kuncinya Dokter

PROFESI kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan preskripsi. Sampurno berharap masalah ketidakrasionalan penggunaan obat dapat diatasi, sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, antara lain meningkatnya inefisiensi biaya pengobatan dan terjadinya efek obat yang tidak diharapkan. Ia mengusulkan 3 agenda aksi untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: Konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional RS pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan preskripsi yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya. “Sayangnya, justru di Indonesia rumah sakit pendidikan adalah tempatnya mengajarkan preskripsi yang tidak rasional”. Agenda aksi kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. DOEN yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda aksi ketiga, intervensi regulasi. ………
Jumlah dan merek obat yang terus bertambah (sekitar 10.000 merek atau bentuk sediaan), bukan soal mudah bagi seorang dokter untuk menjatuhkan pilihan. Menurut Prof Iwan, dalam proses pemilihan ini dokter mudah dipengaruhi produsen. Sering pilihan dokter jatuh pada preparat yang kurang efektif atau yang malahan merupakan plasebo (obat bohong) dan substandar yang seringkali jauh lebih mahal dibanding obat-obat lama yang telah terbukti keampuhannya. Di tengah rimba belantara ribuan merek obat, dokter harus mempelajari sifat obat yang lama dan yang baru secara terus-menerus seumur hidup.

Selengkapnya : http://www.sehatgroup.web.id/isiHigh.asp?highID=60

Be Smarter Be Healthier

resep buat deka Juni 20, 2008

Posted by annisa in MPASI.
add a comment

Resep Apel Kukus
Bahan :

1. Apel merah,kupas buang bijinya, potong juring 1,5 cm 1 bh (150g)

2. tepung terigu 2 sdm

3. havermut instant (instant oats) 1 sdm

4. minyak zaitun extra virgin 1 sdm

5. Sultana/kismis, rendam air mendidih 2 sdm (diamkan 1 jam hingga mengembang, tiriskan

Cara Membuat :

  1. Campur tepung terigu, havermut dan minyak zaitun hingga menjadi adonan remah.
  2. Campurkan sultana/kismis aduk rata.
  3. Panaskan dandang berisi air mendidih.
  4. Sementara menunggu air mendidih, susun apel dalam mangkuk kaca tahan panas.
  5. Taburkan adonan remah merata diats apel, kukus hingga masak (30 menit).
  6. angkat dan Pindahkan ke mangkuk bayi, sajikan hangat.

Catatan :
Pilih sultana/kismis berlabel “unsulfured sun dried”. Artinya, sultana/kismis tersebut dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari, tanpa tambahan belerang sebagai pemucat.

Resep Pisang Kreol
Bahan :
1. Sultana/kismis 2sdm

  1. Jus jeruk manis (jeruk baby ato jeruk keprok) 100 ml
  2. Minyak zaitun 1 sdm
  3. Pisang raja matang dan empuk, kupas 1 bh kecil (100 g) tekan hingga setengah pipih (potong 3/4 bagian)

Cara Membuat :
1. Rendam sultana/kismis dalam jus jeruk.

  1. Diamkan dalam lemari es 1-2 jam hingga mengembang. Jika perlu lumatkan dengan punggung sendok.
  2. Panaskan minyak zaitun dalam wajan dadar, goreng pisang hingga kedua sisinya kecoklatan.
  3. Masukkan jus jeruk berikut sultana/kismis, masak hingga mendidih dan agak pekat.
  4. Segera berikan pada bayi ketika hangat.

Roti gurih sepinggan
Bahan :

  1. Roti tawar buang pinggirannya, potong 16 (1 lembar)
  2. Daging ikan tuna kalengan (tuna in oil)sudah ditiriskan, lumatkan 25 g
  3. Keju serut 1 sdt
  4. Wortel kupas,serut, rebus hingga empuk 25 g
  5. Buncis muda/buncis baby, iris tipis, rebus hingga empuk 25 g
  6. Kaldu ikan/air 50 ml
  7. Tepung terigu 1 sdm
  8. Telur kocok rata dengan garpu, ambil separuhnya (1 butir)

Cara membuat :
1. Ratakan wortel dan bincis di dasar mangkuk tahan panas.

  1. Atur roti diatasnya,taburi ikan dan keju, sisihkan.
  2. Campur kaldu ikan/air dan tepung terigu.
  3. Masukkan telur, aduk rata. Tuang keatas potongan roti.
  4. Kukus hingga masak (20 menit). Sajikan hangat.

Mi Campur Sayuran
Bahan :

  1. Wortel serut 2 sdm (25 g)
  2. Kacang polong beku,kupas cincang halus 2 sdm (25 g)
  3. Kaldu ikan 200 ml
  4. Mi kering remas-remas menjadi remahan, rebus hingga empuk 2 sdm (25 g)
  5. Tahu putih lumatkan 2 sdm (25 g)

Cara penyajian :
1. Masak wortel dan kacang polong bersama kaldu hingga empuk.

2. Setelah kuah mulai kesat masukkan mi dan tahu, aduk rata.

3. Masak hingga mendidih, angkat dan sajikan hangat.

Resep Pasta saus keju
Bahan :

1. Makaroni bengkok (elbow) mini, rebus hingga empuk 6 sdm (80g)
2. Brokoli, cincang, rebus 4 kuntum terkecil
3. Kembang kol, cincang, rebus 4 kuntum terkecil

Saus keju
1. Minyak zaitun/minyak goreng 1 sdm
2. Tepung terigu 1 sdm
3. Susu kedelai tawar/susu cair rendah lemak 175 ml
4. daun seledri, cincang 1 sdt
5. keju cheddar, serut 50 g

Cara membuat :

1. Saus keju :

Panaskan wajan mini diatas api sedang, tambahkan minyak zaitun/minyak goreng. Masukkan tepung terigu, aduk aduk hingga licin. Tambahkan susu, aduk hingga tepung larut. Masukkan seledri masak hingga lembut. Matikan api.

2. Masukkan makaroni dan sayuran, aduk rata. Tuang ke mangkuk bayi. Sajikan hangat.

Bahan :

1. Makaroni bengkok (elbow) mini 3 sdm (25 g) rebus hingga empuk & merekah
2. Filler ikan kakap, cincang 1,5 sdm (25 g)
3. Wortel kupas serut 2 sdm (25g)
4. Daun bayam, cincang 10 lbr
5. Telur, kocok dengan garpu, ambil separuhnya 1 btr
6. Minyak zaitun extra virgin/minyak goreng 1 sdt
7. Kaldu ikan/air 3sdm
8. Keju serut 1 sdt

Cara :
1. Campurkan seluruh bahan hingga rata. Masukka ke mangkuk tahan panas.
2. Kukus hingga masak (20 menit), angkat. Sajikan.

Bayam daging keju (untuk kuah makaroni)
Bahan :

1. 1 cangkir kaldu daging sapi
2. 2 potong daging sapi rebus ukuran 4X4 cm, haluskan
3. Bayam secukupnya, cincang halus
4. 1 sdtkeju parut

Cara membuat:
1.      Panaskan kaldu daging, masukkan bayam aduk hingga bayam lunak
2.      Masukkan keju parut aduk rata, angkat
3.      Masukkan daging giling, sajikan dengan makaroni saring/makaroni rebus

Makaroni saus keju
Bahan:
1. 2 sdm makaroni
2. 1 ½ cangkir kaldu ayam
3. 1 sdtkeju parut
4. 2 sdm Kabocha kuning parut
5. 1 butir kuning telur matang, haluskan
6. Bawang bombay secukupnya, cincang halus

Cara membuat:
1.   Masak makaroni dengan 1 cangkir kaldu ayam hingga matang, haluskan, sisihkan
2.   Tumis bawang bombay dengan 2 sdm kaldu ayam sampai layu dan wangi
3.   Masukkan ½ cangkir kaldu ayam, kabocha kuning, dan keju, aduk rata dan masak hingga kental
4.      Masukkan kuning telur, aduk rata, angkat
5.      Sajikkan makaroni saring dengan saus keju.

Sup Krim Makaroni
Bahan:
1. 1 sdm makaroni
2. 1 sdt oatmeal, grinder halus,ayak, cairkan dengan 2 sdm air matang
3. 1 sdt wortel parut
4. 1 sdt kentang parut
5. 2 sdm daging ayam cincang
6. 1 ½ cangkir air matang

Cara membuat:
1.  Rebus makaroni dengan wortel, kentang dan daging ayam cincang hingga matang

2. Masukkan oatmeal cair, aduk hingga sup kental

artikel simultan Juni 20, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Artikel simultan yang bisa dibawa ke DSA kalo ngotot DSA nya ga mau kasih simultan.  Dari http://www.cdc.gov/od/science/iso/multiplevaccines.htm

diterjemahkan oleh rita-JKT  dari jawaban pertanyaan di milis sehat

THE SAFETY OF MULTIPLE VACCINES

MULTIPLE VACCINES AND THE IMMUNE SYSTEM

1. Berapa jumlah vaksin yg direkomendasikan CDC untuk diberikan pada anak-anak?
Saat ini CDC merekomendasikan pemberian imunisasiuntuk melawan 12 penyakit yang bisa dicegah    melalui vaksin. Seorang anak bisa mendapatkan sampai 23imunisasi begitu dia mencapai 2 tahun karena beberapa vaksin tersebut ada yg harus diberikan lebih dari satu kali. Tergantung pada waktunya, seorang anak dapat mendapat maksimum 6 suntikan dalam satu kunjungan dokter.

2. Mengapa CDC merekomendasikan banyak imunisasi untuk anak-anak?
CDC merekomendasikan imunisasi untuk melawan 12 penyakit menular yaitu: campak, gondongan, rubella, cacar air, hepatitis B, diphtheria, tetanus, pertussis, Haemophilus influenzae type B (Hib), polio,
influenza dan penyakit pneumococcal. Vaksin adalah perlindungan terbaik melawan penyakit-penyakit ini
yang sering menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, meningitis, kanker hati, infeksi dalam
aliran darah dan bahkan kematian.

3. Mengapa imunisasi dilakukan pada waktu bayi? Bukankah lebih aman kalau menunggu sampai mereka lebih besar?
Imunisasi diberikan pada anak-anak karena pada saat inilah mereka lebih rawan terhadap beberapa penyakit.  Bayi yang baru lahir kebal terhadap beberapa penyakit karena mereka memiliki antibodi yang mereka dapat dari ibu. Namun kekebalan ini hanya bertahan sampai umur 1tahun. Selain itu, anak-anak umumnya tidak punya kekebalan maternal terhadap diphtheria, pertussis, polio, tetanus, hepatitis B ataupun Hib. Jika seorang anak tidak memperoleh imunisasi dan terpapar kuman pembawa penyakit, badan anak tersebut mungkin tidak akan kuat untuk melawan penyakit tersebut.  Sistem kekebalan tubuh bayi lebih siap untuk merespon kehadiran sedikit antigen yang sudah dilemahkan dan dibunuh dalam vaksin. Bayi memiliki kapasitas untuk merespon kehadiran antigen asing, bahkan sebelummereka lahir.

4. Saya pernah mendengar orang-orang membicarakan vaksin “simultan” dan “kombinasi”. Apa artinya? Kenapa  pemberian imunisasi seperti itu?
Imunisasi simultan (“Simultaneous vaccination”) adalah pemberian imunisasi ketika lebih dari satu vaksin diberikan dalam satu kali kunjungan dokter, biasanya di bagian tubuh berbeda (contoh: satu di masing-masing lengan atau paha). Vaksin kombinasi (“combination
vaccine”) terdiri dari dua atau lebih vaksin terpisah yang telah dijadikan satu dalam satu kali suntik.
Vaksin kombinasi telah digunakan di Amerika Serikat sejak pertengahan 1940-an. Contoh vaksin kombinasi yang sekarang digunakan adalah: DTap (Diphteria-Tetanus-Pertussis), trivalent IPV (3 strain
polio yang telah dilemahkan), MMR (measles-mumps-rubella), DTaP-Hib dan Hib-HepB.  Ada dua faktor praktis yang mendukung pemberian imunisasi simultan pada anak dalam satu kali kunjungan. Pertama, kami ingin memberikan imunisasi pada anak secepatnya supaya mereka terlindungi pada awal-awal bulan kehidupan mereka. Kedua, memberikan beberapa vaksin pada saat yang bersamaan berarti mengurangi kunjungan dokter dan ini menghemat waktu dan uang orang tua, bahkan dapat mengurangi trauma pada anak.

5. Apakah imunisasi simultan aman dilakukan? Bukankah lebih aman untuk memisahkan vaksin dan memberikan jeda yang cukup antar pemberian vaksin sehingga imunisasi hanya untuk satu penyakit sekali datang ke dokter?
Data ilmiah yang ada menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan menggunakan lebih dari satu vaksin tidak memilik efek yang membahayakan sistem kekebalan tubuh anak normal. Sejumlah riset telah dilakukan untuk meneliti efek dari pemberian berbagai macam vaksin secara simultan dan hasilnya membuktikan bahwa vaksin yg direkomendasikan sama-sama efektif baik diberikan sendiri maupun simultan, dan kombinasi-kombinasi itu tidak memiliki resiko lebih tinggi untuk efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian imunisasi simultan untuk semua imunisasi rutin anak-anak bila memungkinkan.   Benefit lain dari vaksin kombinasi adalah berkurangnya jumlah suntikan imunisasi dan trauma pada anak. Selain itu, merentangkan waktu imunisasi dan memberikannya
satu demi satu dapat memposisikan anak rawan terhadap penyakit yang berbahaya, padahal situasi ini dapat dihindari.

6. Dapatkah begitu banyaknya imunisasi yang  diberikan kepada anak pada umur yang begitu muda  justru menekan sistem kekebalan tubuh anak sehingga malah tidak berfungsi dengan benar?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian imunisasi yang direkomendasikan pada waktu kecil dapat meng- “overload” sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, sejak bayi baru lahir, mereka telah terpapar pada berbagai bakteria dan virus tiap harinya. Makanan membawa bakteria baru ke dalam tubuh, berbagai macam bakteria hidup di dalam mulut dan hidung dan anak kecil memasukkan tangan atau benda lain ke dalam mulutnya beratus-ratus kali tiap jam nya sehingga sistem kekebalan tubuh terekspos pada antigen-antigen lainnya. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) mengekspos seorang anak terhadap 4-10 antigen, dan dalam kasus “strep throat” sampai 25-50 antigen.  Imunisasi yang diberikan dalam dua tahun pertama kehidupan dianalogikan seperti “tetesan hujan di lautan kuman dan antigen yang sistem kekebalan tubuh seorang anak temui dalam lingkungan tiap harinya dan sistem kekebalan tubuh itu sukses melawan kuman-kuman  tersebut.” (Vaccine Education Center, Children’s of Philadelphia.

http://www.vaccine.chop.edu/concerns.shtml#question4)

References
Tortora GJ, Anagnostakos NP. Principles of Anatomy and
Physiology, 3rd ed. Harper and Row Publishers, New
York, 1981.

Whitney EN, Hamilton EMN, Rolfes SR. Understanding
Nutrition, 5th ed. West Publishing Company, St. Paul,
Minn., 1990.

Arsipkan Email Gmail, Jangan Delete Juni 20, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

By : fatihsyuhud.com/tutorial-blog

Sekedar info bagi pengguna baru email Gmail.com yang mungkin belum begitu terbiasa dengan cara kerja pemberi layanan email gratis dari Google.com ini. Seperti diketahui, Gmail saat ini berkapasitas 6.5 GB atau 6.500 MB. Artinya, sebanyak apapun email yang masuk (selagi bukan file video atau image) tidak akan membuat email kita kepenuhan.

Oleh karena itu, ada baiknya kalau email yang masuk tidak didelete tapi diarsipkan sehingga bisa dicari (search) kapan saja kita butuh lagi. Caranya mudah, (a) kasih tanda tik email yang akan diarsipkan; (b) klik “Archive”. Selesai. Email tersebut akan hilang dari inbox tapi dapat dicari / search kapan saja melalui kotak “search email” di bagian atas.

Beberapa fasilitas lain Gmail:

1. Membuat label dan filter. Label sama dengan folder, dengan mensetting Filter, maka suatu email tertentu dapat dimasukkan langsung ke *Label* tanpa masuk ke inbox. Ini penting buat yg ikut milis, agar tidak campur aduk di inbox semua.

2. Delete atau Archive dapat dilakukan dengan memberi tanda tik / centang pada email yg diinginkan atau sekaligus. Caranya, klik Check All -> Delete / Archive All? -> klik.

3. Forward: email dapat diforward ke email lain. Klik Setting-> dst.

kejang demam Juni 20, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Kejang demam adalah kejang pada saat terjadi demam tinggi, muncul dalam fase 24 jam pertama. Kejang demam tidak bias dicegah, dan tidak hanya terjadi di suhu tinggi. Kejang demam dapat muncul berulang bila ada riwayat kejang di rumah.

Treatment kejang demam :

Ø Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak

Ø Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas

Ø Jangan memegangi anak untuk melawan kejang

Ø Sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan
penanganan khusus

Ø Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera
dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan anak
untuk dibawa ke fasilitas kesehatan jika kejang masih berlanjut setelah
5 menit. Ada pula sumber yang menyatakan bahwa penanganan lebih baik
dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit

Ø Setelah kejang berakhir (jika <10 menit), anak perlu dibawa
menemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan
leher, muntah-muntah yang berat, atau anak terus tampak lemas

Deka Belajar Jalan Juni 5, 2008

Posted by annisa in Merdeka.
3 comments

Ga terasa deh ………

Deka dah masuk 10 bulan umurnya. Tambah berat (10 kg) dan Tambah tinggi (7,2 M bulan kemaren, belum ukur lagi). Sekarang lagi belajar jalan. Ga mau digendong, carinya jari telunjuk ayah ato bundanya buat pegangan saat jalan padahal cuma nempel. Tapi lama – lama diperhatiin kalo pegangan tangan ortunya terus jadi ga pede jalan sendiri pegangan kursi didorong ato pegangan tembok. Salah kasih stimulasi neh bundanya. Makanya sekarang lagi ngusahain supaya belajar jalannya ga pegangan tangan orang laen tapi pake benda biar pede dan berani.

Tips buat para ortu yang baru punya anak mulai belajar jalan :

1. Jangan sering digendong, anak jadi malas belajar jalan

2. Pake benda dengan catatan kuat untuk pegangan tangannya biar lebih berani

3. Jangan dilarang kalo anak berdiri sendir pegangan benda, cuma dijagain dan diperhatiin biar ga jatoh

4. Cari alas kaki yang ringan dan ga licin

5. Biarkan kakinya menapak tanah biar syaraf – syaraf kakinya kuat tapi dijaga dari benda tajam

Mungkin bisa jadi acuan.

Mencemaskan Tayangan Anak Di TV Juni 5, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Selasa, 3 Juni 2008 | 20:34 WIB
PELANGGARAN tindak kekerasan tidak hanya terjadi di kawasan Monumen Nasionas (Monas), tetapi juga telah mendarah daging di program-program tayangan anak di stasiun televisi nasional di Indonesia. Bahkan sekurangnya 20 tayangan anak melakukan pelanggaran terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS).

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Don Bosco Selamun, mengemukakan hal itu menjawab Kompas, Selasa (3/6) di Jakarta. Dari kajian yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia setiap bulan sejak satu setengah tahun terakhir terhadap program-program tayangan anak di stasiun-stasiun televisi nasional, umumnya banyak pelanggaran P3-SPS, karena mengandung unsur kekerasan, unsur mistik, pornografi, dan memberi contoh buruk pada anak, ungkapnya.

Don Bosco menjelaskan, KPI melakukan kajian terhadap tayangan anak itu karena banyak keluhan dari para orangtua, kalangan pendidikan, dan masyarakat luas. Ada empat kategori pelanggaran, pertama mengandung unsur kekerasan, seperti misalnya menampilkan kekerasan secara berlebihan sehingga menimbulkan kesan bahwa kekerasan adalah hal lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagi pelaku dan korbannya (pasal 29).

Kekerasan dalam hal ini tidak saja dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal seperti memaki dengan kata-kata kasar (pasal 62 e). Kedua, karena mengandung unsur mistik yang bersumber dari pasal 63 F SPS yaitu menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual masis mistik atau kontak dengan ruh. Sedangkan kelompok ketiga, pelanggaran yang mengandung unsur pornografi, termasuk di dalamnya menampilkan cara berpakaian siswa dan guru yang menonjolkan sensualitas (pasal 14 d), menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, baik bergerak atau diam (pasal 27 ayat 1) dan menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar (pasal 13 ayat 1).

Keempat, kategori pelanggaran tayangan anak yang mengandung unsur perilaku negatif. Seperti misalnya menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru (pasal 63 e) dan menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok dalam tayangan anak (pasal 16 b).

Di sela-sela penjelasannya, Don Bosco juga memperlihatkan cuplikan tayangan-tayangan anak yang melakukan pelanggaran itu, baik pada film kartun, sinetron anak, film fiksi nonkartun. Serta program pendidikan dan kuis. ” Pada bulan April 2008, misalnya, terdapat 47 program tayangan anak setiap minggu dengan durasi tayang rerata 30 menit plus iklan. Namun, yang dianalisis hanya 11 tayangan anak di tujuh stasiun televisi, ” katanya, sembari minta dirahasiakan dulu nama/judul program tayangan anak itu, karena KPI belum memberikan surat teguran.

Menurut Don Bosko, tayangan anak yang dianalisis tidak hanya dari aspek tampilan visual, tetapi juga aspek percakapan (narasi), dan nilai pendidikan, mencakup informasi, moral, dan perilaku positif. Dari aspek visual, terdapat 13 poin kriteria pelanggaran yang mengacu pada P3 – SPS KPI, yaitu menayangkan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak, menayangkan adegan yang memperlihatkan perilaku atau situasi yang membahayakan yang mudah atau mungkin ditiru anak, menayangan adegan yang menakutkan atau mengerikan, menayangkan penggunaan senjata tajam atau senjata api untuk melukai orang lain.

Kemudian, menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru, menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual magis, mistik atau kontak dengan ruh. Menampilkan anak-anak berpakaian minim, bergaya dengan menonjolkan bagian tubuh tertentu atau melakukan gerakan yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual.

Menayangkan adegan ciuman atau mencium yang eksplisit dan didasarkan atas hasrat seksual. Menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, eksploitasi bagian-bagian tubuh yang dianggap membangkitkan birahi. Juga menayangkan perilaku berpacaran saat anak-anak. Menayangkan adegan yang menggambarkan atau mengesankan aktivitas hubungan seks. Menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok, dan menampilkan perbuatan antisosial (tamak, licik, brbohong) tanpa sanksi.

Dari aspek narasi, KPI menemukan empat pelanggaran, yaitu memaki dengan kata-kata kasar, menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar. Mengejek atau menghina seseorang menggunakan kata-kata yang merendahkan, dan mengolok-olok atau menertawakan kelompok masyarakat tertentu bertujuan melecehkan.

“Sedangkan analisis dari aspek pendidikan, pada tayangan anak itu tidak mengandung muatan informasi atau pengetahuan. Tidak mengajarkan perilaku positif, tidak mengajarkan nilai-nilai atau pesan moral yang baik,” papar Don Bosko Selamun.

Sumber : Kompas

Dikutip dari kiriman email ghozansehat@yahoo.com di milis sehat

Infeksi Di RS Mengancam Pasien Juni 5, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Infeksi di Rumah Sakit Mengancam Pasien
Rabu, 4 Juni 2008 | 16:16 WIB
RUMAH sakit sebagai tempat perawatan dan penyembuhan pasien ternyata rentan
bagi terjadinya infeksi penyakit. Infeksi di rumah sakit (Health-care
Associated Infections/HAIs) merupakan persoalan serius karena dapat
menimbulkan kematian pasien.

Menurut keterangan Direktur Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan Farid W Husain saat peluncuran kampanye pengendalian infeksi
nosokomial di Jakarta, Rabu (5/6), kasus infeksi di rumah sakit (nosokomial)
pada pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia saat
ini diperkirakan mencapai sembilan persen.

“Artinya kasus infeksi semacam ini dialami oleh lebih dari 1,4 juta pasien
rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia,” ungkapnya

Di Indonesia, menurut Farid, sejauh ini belum ada data akurat tentang angka
infeksi nosokomial nasional meski sudah sejak lama mengetahui dan melakukan
upaya untuk mencegah dan mengendalikan masalah kesehatan tersebut.

“Di sini juga ada. Hanya belum ada yang mengeluarkan datanya. Karena itu,
selama kampanye diharapkan data-data sekalian bisa dikumpulkan, ” katanya.

Masalah infeksi di rumah sakit, lanjut Farid, adalah persoalan serius karena
bisa menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien.
Kalaupun tak berakibat kematian, infeksi yang bisa terjadi melalui penularan
antar pasien, dari pasien ke pengunjung atau petugas dan dari petugas ke
pasien itu bisa mengakibatkan pasien dirawat lebih lama sehingga pasien
harus membayar biaya rumah sakit lebih banyak.

Oleh karena itu, katanya, kejadian infeksi nosokomial harus ditekan hingga
seminimal mungkin dengan menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian
infeksi yang tepat.

“Supaya tidak ada lagi infeksi, semua yang ada di rumah sakit harus tahu
cara mencegah dan mengendalikannya, baik itu perawat, dokter, petugas
laboratorium, penjaga, pasien, maupun pengunjungnya, ” kata Farid.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petugas
kesehatan akan ancaman infeksi nosokomial mulai tahun ini Departemen
Kesehatan melakukan kampanye dengan memberikan pendidikan dan pelatihan
pengendalian infeksi di rumah sakit bagi tenaga kesehatan di rumah sakit.

Pada tahap awal, kampanye yang akan dilakukan bekerja sama dengan MRK
Diagnostics dan The Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit
(GTZ) itu dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di 100 rumah
sakit selama Juni 2008-Oktober 2009.

“Target awalnya 100 rumah sakit, dan selanjutnya ini akan dilakukan terus
menerus di seluruh rumah sakit,” katanya.

Ia menambahkan, Departemen Kesehatan dalam hal ini telah menetapkan Rumah
Sakit Umum Pendidikan (RSUP) Adam Malik Medan, RSUP dr.Hasan Sadikin
Bandung, RSUP dr Sardjito Yogyakarta, RSUP dr.Sutomo Surabaya dan RSUP
Sanglah Denpasar sebagai pusat pelatihan regional pencegahan dan
pengendalian infeksi.

AC
Sumber : Antara

Diambil dari Kompas.com

Dikutip dari kiriman email ghozansehat@yahoo.com di milis sehat