jump to navigation

Rational Use Of Medicine Juni 23, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
trackback

RATIONAL USE OF MEDICINE (RUM)
Oleh : Purnamawati S Pujiarto Dr SpAK, MMPed

Semua orang dalam hidupnya suatu saat pasti membutuhkan obat, termasuk tenaga medis. Semua orang, termasuk pemberi jasa layanan kesehatan (provider) adalah konsumen. Semua orang butuh dan berhak memperoleh layanan kesehatan yang TERBAIK. Di lain sisi, apakah semua gangguan kesehatan harus senantiasa dijawab dengan obat? Apakah ketika anak sakit, solusinya harus peresepan sederet obat dalam bentuk puyer?
Memang, tidak sedikit konsumen yang beranggapan bahwa konsultasi medis adalah kunjungan berobat” alias upaya meminta obat. Uniknya, meminta obat ini sudah seolah terpatri, harus” cespleng dan harus” puyer. Ironisnya lagi, anak merupakan populasi yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional antara lain pemberian antibiotika dan steroid yang berlebihan, serta polifarmasi. Padahal, gangguan kesehatan harian pada anak umumnya merupakan penyakit ringan yang sifatnya self limiting”. Demam, diare akut, batuk pilek, dan radang tenggorokan, merupakan kondisi yang umumnya ditangani dengan antibiotika. Keempat kondisi tersebut juga peresepannya polifarmasi. Padahal, ketika orang dewasa mengalami gangguan yang sama, peresepan obatnya lebih ramping” ketimbang buat anak. Padahal, di dalam kamus bahasa Indonesia, konsultasi medis adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk mencari penyebab terjadinya penyakit & untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Singkatnya, konsultasi medis adalah upaya advocacy, upaya berbagi informasi, upaya meminta penjelasan dan kejelasan. Namun demikian, siapa yang paling berperan terhadap terpaterinya pola pikir sakit = obat, obat = puyer (kalau mau murah, praktis dan cespleng”)? Barangkali, sudah waktunya kita merenungkan kembali praktek keseharian kita di lapangan. Membuka hati, karena kita ingin senantiasa memberika yang TERBAIK buat bangsa ini. Waktunya pun terasa cocok karena sudah semakin banyak konsumen yang memahami bahwa konsultasi medis tidak selalu berarti obat, keputusan klinis tergantung penyebab gangguan kesehatan yang tengah dialami si konsumen.
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya perenungan dan upaya berbagi terkait konsep pola pengobatan yang rasional, yag sudah lebih dari 20 tahun di canangkan. Diawali dengan beberapa cuplikan termasuk dari beberapa guru yang saya hormati dan kagumi semangat dedikatifnya bagi pasien-pasien kita tercinta.


PENINGKATAN MUTU PENGGUNAAN OBAT DI PUSKESMAS MELALUI PELATIHAN BERJENJANG PADA DOKTER DAN PERAWAT
Iwan Dwiprahasto; Bag Farmakologi & Toksikologi FK, UGM Yogyakarta

Berbagai studi menemukan bahwa penggunaan obat untuk ISPA cenderung berlebih. Penyebab pertama, keterbatasan pengetahuan petugas kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tak jarang tetap meresepkan obat yang tak diperlukan (misal antibiotika dan steroid untuk common cold). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien. Contoh, kebiasaan memberikan injeksi pada pasien dengan gejala pada otot-sendi.
43 puskesmas ikut dalam penelitian. Jumlah ratarata obat yang diresepkan untuk ISPA anak dan dewasa, yaitu 3.62 dan 3,69. Pasien myalgia mendapat rata-rata 3.24 jenis obat. Di sebagian besar kabupaten penggunaan antibiotika untuk ISPA mencapai lebih dari 90%. Hanya beberapa puskesmas yang meresepkan antibiotika kurang dari 70%.

Tujuan penelitian (1) menilai pola peresepan ISPA dan myalgia di puskesmas di 8 kab/kota, SumBar (data peresepan retrospektif), dan (2) meningkatkan mutu penggunaan obat untuk ISPA dan myalgia (dilakukan intervensi pelatihan penggunaan obat rasional, melibatkan dokter dan perawat di 15 puskes).
Enam bulan pasca intervensi, penggunaan obat termasuk antibiotika dan injeksi menurun bermakna. Rata-rata jumlah obat untuk ISPA pada anak turun dari 3.74 + 0.58 menjadi 2.47 + 0.67 (p<0.05) (dokter) dan dari 3.67 + 0.49 menjadi 2.39 + 0.73 (p<0.05) (perawat). Penurunan penggunaan antibiotika pada anak dengan ISPA secara bermakna hanya ditemukan pada perawat, dari 81.37% menjadi 42.40%.
Proporsi pasien dewasa dengan ISPA yang mendapat antibiotika Turun bermakna dari 89.18% menjadi 44.15% (p<0.05) (dokter) dan dari 91.22% menjadi 38.71% (p<0.05) (perawat). Penggunaan injeksi juga turun bermakna pada pasien myalgia, yaitu dari 69.11% menjadi 31.89% (p<0.05) (dokter) dan dari 79.56% menjadi 62.91% (p<0.05) (perawat).

Rabu, 22 November 2000: Obat, Komoditas atau Produk Karitas?

OBAT itu unik. Ia adalah komoditas ekonomi komersial tetapi sekaligus produk yang lekat dengan fungsi sosial, penyelamat nyawa manusia. Obat memag telah lama menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan. Otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan, menimbulkan pengobatan yang irrasional yang merugikan konsumen, namun memperkaya para dokter dan industri farmasi.
Ivan Illich (Medical Nemesis: Expropriation to Health, 1975) mengkritik institusi dan industri medis yang membuat manusia tak lagi memiliki otonomi atas kesehatannya sendiri. Dunia medis justru menciptakan “kesehatan” menjadi “kesakitan”. “Industri kesehatan telah menjadi ancaman besar terhadap kesehatan.” Buku-buku lain yang menggugat kemapanan “kolusi” industri dan para dokter ditulis Dianna Melrose (Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines?, 1984), John Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984), hingga pengarang novel Arthur Hailey (Strong Medicine, 1984). ………
Khusus tentang obat-obat generik bermerek, di Indonesia jumlahnya paling banyak. Obat-obat ini berhasil membangun citra seolah-olah seperti obat paten. Ada nilai tambah dengan kemasan yang baik, merek yang keren, serta biaya promosi yang tidak kecil.
Obat, kecil skala ekonominya. Namun, keuntungan yang diraih luar biasa besar. Di Amerika Serikat, menurut survei majalah Fortune, 12 perusahaan farmasi termasuk dalam kelompok 50 perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling besar. Padahal tidak satu pun yang omsetnya besar. Di Indonesia, ada perusahaan farmasi PMA mematok harga obat lebih tinggi daripada di Kanada dan banyak negara kaya. Ini karena praktik transfer pricing ke perusahaan induk. Sementara perusahaan farmasi swasta nasional juga pesta pora obat generik bermerek yang sebenarnya obat latah (me-too drugs) yang margin keuntungannya jauh lebih besar ketimbang obat paten PMA sehingga mereka leluasa mengontrak dokter.
Apakah masih layak menyebut obat dan dokter itu penyelamat? (ij)

Obat Rasional, Kuncinya Dokter

PROFESI kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan preskripsi. Sampurno berharap masalah ketidakrasionalan penggunaan obat dapat diatasi, sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, antara lain meningkatnya inefisiensi biaya pengobatan dan terjadinya efek obat yang tidak diharapkan. Ia mengusulkan 3 agenda aksi untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: Konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional RS pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan preskripsi yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya. “Sayangnya, justru di Indonesia rumah sakit pendidikan adalah tempatnya mengajarkan preskripsi yang tidak rasional”. Agenda aksi kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. DOEN yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda aksi ketiga, intervensi regulasi. ………
Jumlah dan merek obat yang terus bertambah (sekitar 10.000 merek atau bentuk sediaan), bukan soal mudah bagi seorang dokter untuk menjatuhkan pilihan. Menurut Prof Iwan, dalam proses pemilihan ini dokter mudah dipengaruhi produsen. Sering pilihan dokter jatuh pada preparat yang kurang efektif atau yang malahan merupakan plasebo (obat bohong) dan substandar yang seringkali jauh lebih mahal dibanding obat-obat lama yang telah terbukti keampuhannya. Di tengah rimba belantara ribuan merek obat, dokter harus mempelajari sifat obat yang lama dan yang baru secara terus-menerus seumur hidup.

Selengkapnya : http://www.sehatgroup.web.id/isiHigh.asp?highID=60

Be Smarter Be Healthier

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: