jump to navigation

sehat itu mudah Juli 31, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

Dikutip Dari dialog Bunda Wati dengan dari http://www.perspektif.com

Purnamawati Sujud Pujiarto

Sehat Itu Mudah dan Murah

Edisi 645 | 28 Jul 2008 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga tapi tanya dulu, apa betul butuh obat, berapa obat yang diberikan, karena tidak semua gangguan kesehatan membutuhkan obat termasuk antibiotik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Purnamawati Sujud Pujiarto

Anda mengatakan di media, “Please say no to puyer” (katakan tidak pada obat puyer). Namun kita semua mengetahui bahwa hampir setiap orang saat kesehatannya terganggu selalu berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah obat. Menurut Anda selaku dokter, apakah cara pandang ini sudah benar?

Memang tidak sedikit terjadi kekeliruan di benak kita semua, baik konsumen maupun pemberi jasa layanan kesehatan. Pandangan terhadap obat tadi hanya salah satu bentuk kekeliruan, tetapi masih banyak yang lainnya. Misalnya, kita menganggap kesehatan itu penting setelah jatuh sakit. Padahal justru yang paling penting itu bagaimana menjaga agar kita tetap sehat. Kedua, ketika jatuh sakit sebenarnya hal pertama yang harus ada di benak kita adalah mengapa kita jatuh sakit, apa penyebabnya? Kalau saat ini tidak. Kita batuk maka pergi ke dokter dan meminta obat batuk. Seolah-olah diagnosa itu menjadi tidak penting, yang penting gejalanya hilang. Celakanya, ketika seseorang mempunyai lima atau enam gejala bisa saja dia berakhir dengan polifarmasi karena satu gejala, satu obat. Itu kendala kalau kita terpaku pada gejala bukan mencari penyebab permasalahan.

Tapi sebagian besar pasien-pasien yang datang ke dokter memang ingin cepat sembuh. Apakah memang seakan-akan dikondisikan pasien adalah obyek yang pasif?

Ya, padahal sebagai yang mempunyai badan semestinya pasien adalah pihak yang paling berkepentingan akan kesehatan dirinya. Ironisnya, kalau berbelanja alat elektronik kita jauh lebih kritis ketimbang ketika belanja alat kesehatan. Ketika berbelanja alat elektronik, kita meluangkan waktu lebih banyak, mencari tahu dulu, dan selalu membeli lengkap dengan buku manual. Namun ketika berbelanja alat kesehatan, kita tidak kritis.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kesatu, mungkin karena budaya kita paternalistik. Kedua, memang mungkin budaya paternalistik ini sedikit banyak dibiarkan menjadi subur. Di era informasi ini masyarakat seharusnya dengan mudah bisa mengakses informasi yang benar untuk mengetahui ke mana harus pergi, dan situs-situs mana yang harus dikunjungi. Di sisi lain, layanan kesehatan yang profesional adalah selain etis yang artinya mengedepankan kepentingan pasien, juga harus kompeten yaitu sesuai perkembangan keilmuan karena ilmu senantiasa berkembang.

Namun untuk penyakit-penyakit gangguan harian, misalnya selesma, flu, diare akut tanpa darah, sudah ada panduannya dan tidak ada perubahan yang signifikan. Semestinya semua orang bisa mengatakan kepada pasiennya bahwa itu karena infeksi virus. Infeksi virus disebut sebagai self limiting disease artinya akan sembuh sendiri dan sama sekali tidak memerlukan antibiotik.

Namun di Indonesia beda bahwa karena banyak kumannya, sehingga meskipun infeksi virus tetap diberi antibiotik. Karena itu tingkat peresepan (pemberian resep) antibiotik di Indonesia tinggi sekali. Akhirnya timbul kekeliruan bahwa si A sembuh dari flu karena obat yang diberikan oleh dokter. Akhirnya, menjadi kebiasaan setiap kali mengalami gangguan yang sama meminta obat termasuk minta antibiotik karena dianggap cespleng (manjur). Itu karena kita para dokter kurang meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan. Dokter cenderung menukar proses konsultasi dengan penulisan secarik resep karena menulis resep itu cenderung jauh lebih mudah ketimbang menerangkan, mengedukasi dan menenangkan pasien.

Mengapa itu tidak bisa dilakukan, apakah itu memang sudah menjadi ritual bahwa pasien datang ke dokter untuk melihat dokter menuliskan resep ketimbang mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan mereka?

Ya. Karena itu saya dalam setiap kesempatan selalu mengajak, yuk coba kita merenung, apa sih maknanya datang ke dokter? Apakah untuk meminta obat? Datang ke dokter itu untuk konsultasi karena yang sulit itu adalah untuk menegakkan diagnosis. Ok, kalau flu atau diare akut itu mudah. Tapi kalau kita terbiasa atau terpaku hanya mengobati gejala maka ketika berhadapan dengan suatu penyakit yang agak serius akan bisa tersesat. Ritual semacam ini seharusnya perlahan-lahan bisa dikikis. Caranya, kedua belah pihak, baik dokter maupun pasien, mau introspeksi diri, mau belajar.

Tadi Anda mengatakan bahwa persoalan yang mendasar adalah bagaimana mengubah kultur kita bahwa kalau sakit perlu obat. Padahal tidak semua persoalan kesehatan kita terapinya obat. Sebetulnya bagaimana kita mengobati diri sendiri untuk penyakit harian seperti flu, pilek, sakit kepala sebelum ke dokter atau sebelum akut?

Jadi ada beberapa isu dari pertanyaan tersebut. Kesatu terapi, kedua penyakit harian, ketiga peran self medication (mengobati diri sendiri). Mengenai terapi, kalau kita kembali ke definisi World Health Organization (WHO) ada lima bentuk, yaitu kesatu, professional advise artinya nasihat profesional, hal ini juga bisa dikategorikan sebagai obat. Ketika penderita demam berdarah datang ke saya maka akan dijelaskan bahwa demam berdarah itu ada dua jenis, demam dengue dan demam dengue yang berdarah (DBD). Saya akan menerangkan bahwa ini termasuk penyakit infeksi virus, self limiting. Kuncinya satu yaitu cairan. Jika kondisinya baik, keadaan umumnya baik, maka tidak perlu dirawat. Tapi kita memberitahu pasien kapan harus segera kembali kalau ada gejala A, B, C, D. Di masyarakat kita omong-omong atau informasi tersebut dianggap bukan obat.

Bentuk terapi kedua yaitu non-drug treatment. Misalnya anak gemuk, kita memeriksa SGOT & SGPT, apakah fungsi hatinya terganggu? Terapinya bukan obat, terapinya adalah mengatasi kegemukannya, mengubah pola hidup. Terapi yang ketiga barulah obat, seperti untuk hipertensi, kencing manis. Terapi yang keempat yaitu rujukan. Di sini juga ada masalah. Ada persepsi kalau kita meminta second opinion (pendapat alternatif) seolah-olah terdapat ada ketidaksenangan, pasien takut dokternya merasa kurang dipercaya. Padahal rujukan itu menguntungkan buat keduanya. Kesatu itu hak pasien, kedua, dokter juga terhindar dari kemungkinan berbuat salah. Bentuk terapi yang kelima adalah kombinasi.

Jadi di sini kita lihat bahwa WHO saja sudah menyatakan obat hanya salah satu bentuk terapi. Jangan dibalik. Ada gangguan kesehatan langsung meminta obat. “Dok, anak saya pilek, minta obat”. “Anak saya diare, minta obat.” Seharusnya, “Dok, anak saya diare, kenapa?” Karena pertanyaan ‘kenapa’ akan menuntun kita ke arah diagnosis. Kalau sudah dapat diagnosis kita tinggal melihat panduan/guideline-nya. Nah, untungnya di era informasi ini kita bisa mengakses informasi guideline-nya. Misalnya, di situs Ikatan Dokter Anak Amerika dengan mudah kita bisa meminta guideline. Misalnya, anak kita eksim maka kita tinggal menulis dermatitis, eksema, dan meminta guideline-nya. Nanti keluar apa penyebabnya, bagaimana menanganinya, bagaimana mencegahnya. Ada transparansi.

Apakah di Indonesia juga ada semacam hal itu?

Organisasi profesinya sudah mulai tapi belum untuk awam. Tetapi tidak masalah karena eksim di seluruh dunia sama saja menanganinya.

Untuk mengakses kesehatan itu rasanya agak eksklusif?

Memang dibuat seperti eksklusif tapi sebetulnya tidak eksklusif. Ya, di Indonesia kalau bisa dibuat susah kenapa dibuat gampang. Seolah-olah kesehatan itu misterius. Padahal dalam dunia kedokteran, dalam dunia kesehatan itu tidak boleh ada rahasia.

Ini sebetulnya berguna sekali buat masyarakat awam memahami penyakit sehari-hari. Mengapa tidak diberikan pedoman khusus buat kita cara mengatasinya dalam bahasa Indonesia sebagai pengetahuan karena pendidikan pasien itu sangat beragam? Apakah di sini belum ada semacam situs untuk memberikan informasi semacam itu?

Bisa googling, ada beberapa situs. Sekarang kita ada mailing list kesehatan. Kami membuat web sehat http://www.sehatgroup.web.id Kita menerjemahkan beberapa guidelines dari luar negeri, seperti penyakit bawaan anak, batuk, diare, demam, sehingga masyarakat tahu bahwa demam itu sebetulnya justru functional. Ada tujuannya Tuhan menciptakan fenomena demam karena itu bagian dari mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi. Demam itu bukan penyakit, itu alarm, cari penyebabnya. Demamnya sendiri tidak berbahaya. Penyebabnya yang kita teliti. Itu yang disebut dengan guideline.

Masyarakat seharusnya menguasai guideline untuk penyakit ringan seperti demam, batuk, pilek, diare, muntah, dan sakit kepala karena itu tinggal browsing di google.com, atau masuk ke situs http://www.americanfamilyphysician.com atau ke situs mayo clinic. Jadi kita bisa mengetahui kalau sakit kepala berkelanjutan harus hati-hati karena mungkin bisa sinus, gigi, mata, bisa tumor otak. Nah itu penyebabnya dan tugas dokter di situ. Jadi jangan mengeliminir tugas dokter menjadi hanya pemberi obat.

Saya sangat setuju sekali bahwa kita harus mengubah kultur mengenai kesehatan agar saat kita sakit mengetahui kapan memerlukan obat karena terapi juga bagian dari obat. Bagaimana cara mengubah kultur kita yang demikian?

Kita harus terus bekerjasama, bahu membahu, yang mempunyai kesempatan, yang mempunyai kemampuan harus belajar. Ibaratnya, mengapa kita bisa teliti dan kritis kalau saat membeli HP, namun kok saat membeli obat buat anak, puyer pula, kita tidak kritis dan tidak mencari tahu apa saja obat yang ada di dalam situ, apakah cocok dengan gangguan kesehatan si anak. Masyarakat seharusnya mengetahui baik dan bahayanya peresepan obat dalam bentuk puyer. Ketika di negara tropis stabilitas obat saja sudah dipertanyakan, ini malah dicampur dan digerus.

Apakah tradisi obat puyer ini hanya di Indonesia saja atau negara lain?

Hanya di Indonesia. Karena itu saya mengatakan apa sih dosa anak Indonesia sehingga dapat puyer. India yang miskin tidak ada puyer. Afrika yang miskin juga tidak ada puyer. Salah satu dalih dokter karena puyer itu murah, kalau menurut saya itu tidak benar. Dalih dokter untuk mempertahankan puyer itu semata-mata karena sulit untuk keluar dari comfort zone. Jadi mari kita bersama-sama yuk kita keluar dari comfort zone itu.

Apa yang dokter maksud dengan comfort zone?

Menulis resep itu tidak sulit, tiga menit selesai. Resepnya template. Coba kumpulkan resep buat 1.000 anak. Isinya kurang lebih sama. Ironisnya, kita menunggu dokter 30 menit tapi di ruang konsultasi hanya lima menit. Ini seharusnya terbalik. Kalau menurut saya bukan salah tenaga medisnya, ini kesalahan kita bersama. Kalau kita lihat hak azasi manusia, salah satu klausulnya adalah hak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik itu hak buat semua orang.

Mengapa guideline kesehatan hanya dimuat situs? Bagaimana cara mereka mengakses situs tersebut?

Untuk mengakses informasi kesehatan yang paling efisien dan efektif adalah dari internet. Saya mengasuh milis sehat, yaitu sehat@yahoogroups.com yang anggotanya hampir 7.000 dan 93% dari anggota tersebut tidak memiliki komputer di rumah.

Mereka mengaksesnya di kantor sewaktu lunch, atau pagi-pagi, atau mau pulang kerja mampir ke warung internet (Warnet). Satu jam di Warnet hanya Rp 10.000, sedangkan berapa biaya ke dokter? Tuhan itu maha adil, dan orang miskin itu disayang Tuhan. Anaknya batuk, pilek, meler tidak dibawa ke dokter anak. Anaknya main bola, main di sungai, hujan-hujanan, viral infection (infeksi karena virus), makannya lalap. Sedangkan anak kota makannya junkfood. Sakit sedikit dibawa ke dokter. Tiga hari masih meler dibawa ke dokter lagi diganti antibiotiknya dan dikasih yang lebih kuat. Padahal jelas ini adalah viral infection. Makin sering anak dikasih antibiotik akan makin sering sakit. Tapi tolong dicatat bahwa ini bukan masalah anti terhadap antibiotik. Antibiotik adalah barang yang sangat berharga dan salah satu penemuan penting dalam dunia kedokteran. Saya malah mengatakan itu karunia Tuhan yang luar biasa, sama seperti vaksin, dengan catatan gunakanlah dengan benar dan bijak.

Bagaimana cara menggunakan antibiotik dengan benar?

Itu musti tesis sendiri. Di makalah itu saya tulis, kalau pilek jelas tidak butuh antibiotik, berapapun suhu si anak. Diare tanpa darah mau 10 – 11 kali sehari tetap tidak butuh antibiotik. Nah, guideline-guideline seperti itu bisa dilihat di Centers for Disease Control (CDC) bisa juga lihat di web sehat. Mudah sekali sebenarnya. Makanya saya tulis di makalah sebetulnya kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu.

Walaupun saya yakin ini ada di situs, kapan sebetulnya kita perlu antibiotik?

Kita membutuhkan antibiotik jika ada infeksi kuman jahat yang tidak dapat diatasi oleh tubuh. Jadi ada dua hal. Kesatu, ada kuman jahat. Kedua, tubuh tidak bisa mengatasi sendiri. 98% kuman itu baik. Badan kita penuh dengan kuman. Jadi kuman jahat itu seperti TBC, infeksi saluran kemih, tifus tapi bukan gejala tifus. Tidak ada diagnosis gejala tifus. Adanya tifus atau bukan, tidak ada diagnosis gejala. Apalagi diagnosis yang ganda seperti, “Ibu, ada gejala DB dan gejala tifus.” Itu biasanya bukan kedua-duanya. Seharusnya kita bertanya, “Dok, ini DB atau bukan? Tifus atau bukan?” Jawabannya harus salah satu. Bukan kedua-duanya. Itu gunanya kita membekali diri sehingga ketika kita jatuh sakit kita sudah mempunyai pemahaman. Sepanik-paniknya pun kita tetap bisa berdiskusi dengan dokternya karena ini badan kita. Jadi infeksi yang perlu antibiotik adalah TBC, tifus, meningitis dan infeksi-infeksi yang berat, pneumonia yang berat.

Jadi kalau pilek dan batuk itu belum perlu?

Tidak. Cuma di Indonesia batuk pilek berobat ke dokter anak. Jadi ketidaktahuan pasien jangan terus dipelihara. . Mohon maaf.

Saya tertarik dengan soal puyer. Ketika kita mempunyai anak kecil dan diberikan puyer, apakah sebagai pasien kita bisa menolak pemberian puyer oleh dokter dan minta diberikan obat lain karena menurut dokter Purnamawati puyer itu tidak selalu kita butuhkan?

Bukan tidak selalu, puyer memang tidak dibutuhkan. Jangan ada abu-abu, kita tegas saja. Jadi begini, ketika membawa anak ke dokter, nomor satu kita harus tahu alasannya kenapa kita ke dokter. Nah, orang Indonesia hobinya ada dua, yaitu ke mall dan ke dokter. Sedikit-sedikit ke dokter. Makanya tadi saya mengatakan Tuhan itu sayang dengan orang miskin. Diare tetap diberi air susu ibu (ASI), membuat air tajin, membuat air daun jambu, maksudnya sih cairan. Ketika orang kota berobat ke dokter dan diketahui bahwa ini diare akut karena virus yang obatnya cuma satu yaitu oralit, mereka marah. “Memangnya saya orang miskin, sudah antri begitu lama ternyata cuma diberikan oralit. Tahu seperti itu saya berobat ke Puskesmas saja.” Padahal oralit itu adalah salah satu penemuan yang sangat berharga dalam dunia kedokteran yang berhasil menyelamatkan ratusan jiwa manusia. Orang kota menganggap oralit bukan obat. Orang kampung kalau sakit sekali baru datang ke Puskesmas dapatnya oralit. Jadi, justru kelas menengah sosial ke atas ini yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional dan pada perpuyeran itu. Dengan asumsi ingin anaknya cepat sembuh dengan berbagai alasan seperti ibunya sibuk, tidak ada pembantu, tidak ada waktu, panik, tidak tega, dan lain-lain. Saya suka mengembalikan seperti ini mari kita reposisi perasaan tidak tega itu.

Untuk infeksi virus yang tidak butuh obat, apakah kita tega memberikan anak kita begitu banyak obat? Ingat, populasi yang paling rentan mengalami efek obat itu adalah manusia usia lanjut (manula) dan anak kecil. Kalau orang tua sakit, saya stres setengah mati. Kalau cucu sakit, saya stres. Tapi stres ini mari kita arahkan ke energi positif. Kalau untuk penyakit harian bacalah guideline kesehatan. Kurikulum kesehatan bagi para orang tua itu cuma empat, yaitu demam, batuk-pilek, diare, muntah, lalu ditambah pemberian makan dan imunisasi yang benar. Cuma empat, dibandingkan sama kurikulum SMA juga kalah. Masa kita tidak mau belajar agar kita tahu.

Kembali ke soal puyer, puyer itu banyak sekali maslahatnya, tetapi ketika anak ke dokter, nomor satu kita tanya indikasinya. Kalau sudah bergabung di milis sehat dan baca pasti tahu. Batuk-pilek itu tidak usah ke dokter kecuali sesak, biru, tapi jangan disamakan dengan asma. Di Indonesia anak batuk itu memakai obat asma, keliru sekali. Jadi untuk menenangkan orangtuanya kadang-kadang saya nakal. Saya kasih saja terapi agar ibunya tenang. Padahal anaknya tidak butuh obat tapi sebagai dokter anak, saya butuh ibunya puas.

Jadi, kalau ke dokter nomor satu harus bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter, seperti apakah mau tanya diagnosis? Misalnya, “Dok, bagaimana guideline-nya untuk asma. Yang saya baca guideline-nya seperti ini tapi saya kurang paham. Tolong terangkan Dok.” Jadi pasien juga harus berdaya karena yang mempunyai badan adalah pasien itu sendiri. Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga. Nomor satu kita tanya dulu, apa betul anak saya butuh obat, berapa obat yang diberikan. Misalnya, “Mohon maaf Dok, yang pertama ini obat apa?” Biasakan menghitung jumlah obat di kertas resep. Menghitungnya gampang, hitung saja jumlah barisnya. Kalau lebih dari dua baris, jangan ditebus sebab kalau anak kita gawat bukan resep yang diberikan melainkan oksigen, infus, dikirim ke unit gawat darurat (ICU) dihubungi. Kalau interaksi itu masih berakhir dengan secarik kertas resep artinya anak-anak kita masih dalam kondisi baik. Tunggulah sebentar, cari informasi dan tanya dokternya. Misalnya, kalau diberi antibiotik, tanyakan ini antibiotik apa? Antibiotik kelas mana? Apakah ringan, sedang, atau berat?” Kalau diberi yang berat, tanyakan, “Dok, kok dikasih kelas berat memangnya anak saya sakit apa?” Nah, terkadang kita keliru meminta dokter antibiotik yang paling mahal, yang baru, yang paten, dengan pertimbangan buat anak saya mahal tidak masalah. Padahal di Indonesia, mahalnya ongkos tidak identik dengan kualitas yang baik, mohon maaf.

Sufi Kecil Juli 31, 2008

Posted by annisa in Anything.
add a comment

Q1: Anak-anak di usia tertentu tidak merasa nyaman dengan abstraksi yang tak mudah dipahami.
Q2: Rasa takjub yang muncul sebagai bentuk respon terhadap kemegahan alam adalah salah satu bentuk pengalaman spiritual yang dapat dialami anak-anak.  Kepolosan anak-anak terkadang sanggup membuat kita terheran-heran atau bahkan kehilangan kata-kata. Dari mulut mungil mereka kerap muncul pertanyaan yang tak terduga. Apa jawaban Anda ketika mereka bertanya tentang Tuhan?

Anak dapat diibaratkan seperti filsuf kecil yang penuh rasa ingin tahu dan haus jawaban. Pertanyaannya terkadang sulit dijawab dengan cepat dan ringkas. Sebelum Anda mencoba menjawab pertanyaan anak, pikirkan dulu jawaban Anda karena kemampuan abstraksi anak masih rendah.

Anak-anak di usia tertentu tidak merasa nyaman dengan abstraksi yang tak mudah dipahami. Begitu kata Harold S. Kushner dalam bukunya yang berjudul When Children Ask About God. Ia menyebutkan bahwa pikiran anak-anak haus akan sesuatu yang nyata, konkret, jelas. Mereka akan menerjemahkan abstraksi tersebut ke dalam sesuatu yang lebih mudah dicerna.

Saat Anda menjelaskan sesuatu yang abstrak seperti Tuhan, anak perlu diberi perumpamaan dari pengalaman empiris, yakni berdasarkan hal-hal konkrit yang dialaminya sehari-hari. Sebagai contoh, ketika si kecil bertanya: Ma, Tuhan itu siapa?? Anda bisa menjawab bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian beri penjelasan lebih lanjut melalui perumpamaan yang sederhana, misalnya, Mencipta itu berarti membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Contohnya seperti saat Mama mencampur tepung, gula, dan telur menjadi kue. Dalam teorinya mengenai psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, filsuf sekaligus psikolog perkembangan kelahiran Swiss, menyebutkan bahwa anak usia 2 – 7 tahun sedang berada dalam tahap pra-operasional (pre-operational stage).
Pada tahap ini, anak sudah bisa membayangkan wujud benda sekalipun benda tersebut tidak ada di hadapannya. Anak sudah mulai mengerti,  bahwa benda yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Contohnya, ketika bonekanya disembunyikan, si kecil tahu bahwa boneka itu ada, tapi tidak bisa dilihatnya.
Persoalannya, hal itu hanya berlaku pada benda-benda yang pernah dia lihat, kata Bagus Takwin, SPsi, MHum, Psi, dosen Psikologi di Universitas Indonesia. Saat menjelaskan tentang konsep Tuhan yang abstrak, berarti konsep itu harus diciptakan di kepala tanpa melihat bendanya. Dan jawaban berupa contoh biasanya cukup ampuh.

Saat menjelaskan tentang keberadaan Tuhan yang tak kasat mata, Anda bisa memberi contoh dengan menggunakan perwakilan dari hal nyata yang diketahui anak. Katakan, Tuhan itu tidak bisa dilihat, tapi bisa
dirasakan. Sama seperti angin. Adek bisa merasakan angin tapi tidak bisa melihatnya, kan??

Tak perlu berbohong. Berhati-hatilah saat menjelaskan sebuah konsep abstrak seperti Tuhan. Anak balita memang belum bisa memahami gagasan filosofis, tapi bukan berarti Anda boleh memberi jawaban sekenanya hanya karena sudah kehabisan kata-kata. Anak bisa mengalami kebingungan karena konsep yang selama ini dipegangnya ternyata berbeda dengan kenyataan. Boleh jadi Anda takut jika anak tidak mengerti penjelasan yang diberikan. Tetapi, sebenarnya Anda tidak perlu khawatir. Karena daya pikir anak
akan terus mengalami perkembangan. Jadi tenang saja. Begitu perkembangan kognitif anak bertambah, kita beri pemahaman lebih dalam lagi. Jangan takut anak akan begitu terus, kata Bagus Takwin.

Tampaknya, dia tidak puas dengan jawaban saya. Jika anak tak kunjung merasa puas dengan jawaban yang diberikan, sementara Anda sendiri bingung untuk menjelaskan lebih lanjut, Kushner menyarankan agar Anda jujur memberitahukan soal ketidaktahuan tersebut. Katakan, Pertanyaanmu sulit. Sudah banyak orang yang berusaha menjawabnya, tapi mereka pun tidak yakin dengan jawaban itu. Mama akan coba menjawab sebisa mungkin, tapi mungkin kamu baru bisa mengerti saat kamu dewasa nanti. Menurut Kushner, hal ini malah akan mendidik anak mengenai pentingnya mencari jawaban sendiri sehingga mereka bisa belajar lebih banyak mengenai dunia.

Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan mencari orang yang Anda anggap cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan si filsuf kecil. Atau, Anda juga bisa memasukkan sekolah yang bernapaskan agama. Meski begitu, Anda tetap perlu mencermati kualitas dari sekolah tersebut.

Perkenalan yang Sederhana. Ada cara-cara sederhana untuk memperkenalkan Tuhan kepada filsuf kecil kita. Berikut ini di antaranya:

1. Kenalkan lewat alam

Ketika menerangkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, ada baiknya anak turut diperlihatkan pada keindahan alam itu sendiri. Tunjukkan kepadanya tentang matahari yang selalu terbit di timur dan tenggelam di barat. Bawa dia menikmati riak air laut serta sepoi-sepoi angin di tepi pantai. Perlihatkan kepadanya bahwa hanya melalui biji yang berukuran kecil, pohon besar dan kokoh dapat tumbuh. Rasa takjub yang muncul sebagai bentuk respons terhadap kemegahan alam adalah salah satu bentuk pengalaman spiritual yang dapat dialami anak-anak, kata Kushner.

2. Kenalkan lewat cinta

Jika ingin mengajarkan sifat Tuhan untuk membentuk pemahaman anak terhadap kebaikan, salah satu cara yang tepat adalah memperkenalkan lewat cinta yang Anda berikan. Anak yang dilimpahi dengan cinta dan
kepercayaan oleh orangtuanya akan percaya bahwa Tuhan adalah zat yang ada di balik dunia yang ramah dan bersahabat. Nantinya, anak akan memandang dunia secara positif. tutur Kushner.

3. Kenalkan lewat cerita

Membacakan cerita-cerita rohani, misalnya kisah para nabi, sebenarnya akan memudahkan anak untuk memahami keberadaan Tuhan. Anak usia balita memang lebih suka mendengarkan cerita daripada konsep. Dan cerita membantu anak untuk memahami suatu kejadian secara komprehensif, tutur Bagus Takwin.
Hal ini juga diamini oleh Asriani, guru di bagian play group Al-Azhar Syifa Budi, Kemang, Jakarta. Anak usia tiga tahun lebih mengerti kalau kita bercerita langsung, dibandingkan menonton, ujarnya. Sekarang kan ada
film-film rohani untuk anak. Tetapi saat menonton, bisa saja pikirannya ke mana-mana. Tapi kalau mendengarkan cerita bersama gurunya, biasanya lebih mengena.

4.Kenalkan lewat bakat

Jelaskan kepada anak, bahwa kepercayaan terhadap Tuhan berarti juga percaya serta menghargai kemampuan diri sendiri. Misalnya, saat melihat anak yang gemar menggambar, puji hasil karyanya lalu katakan, Tuhan menciptakanmu dengan bakat menggambar yang belum tentu dimiliki teman-temanmu. Kamu harus bangga. Hal ini sebenarnya turut berguna untuk membangun rasa percaya diri. Karena anak merasa Tuhan telah memberinya suatu keistimewaan. Anak pun akan menghargai diri serta mau mengasah kemampuan yang dimilikinya.

5.Kenalkan lewat doa

Bisa dikatakan inilah salah satu cara dasar untuk mengenalkan Tuhan kepada anak. Ajari anak untuk berdoa dengan cara yang mudah, misalnya sebelum makan atau sebelum tidur. Jika dilatih terus menerus, lambat
laun hal ini akan menjadi kebiasaan.

Penjelasan tentang Tuhan adalah langkah awal yang baik jika Anda ingin menerapkan nilai-nilai moral berdasarkan ajaran agama sejak dini. Pendidikan tentang agama akan berlanjut kepada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana harus bersikap baik, sopan, atau bersyukur. Akan lebih baik lagi jika Anda mencontohkan penerapannya sebab anak belajar dari meniru perbuatan orang tuanya.

(PT. Nestle Indonesia bekerja sama dengan Majalah Parents Indonesia)

Cegah Hepatitis B Kronik Sejak Bayi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Rabu, 18 Juni 2008 | 11:09 WIB

PEMBERIAN vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B.

Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo Sp.PD-KGEH, pemberian vaksin hepatitis B bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal. Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti, si bayi dapat menderita hepatitis kronik.

“Dari pengidap hepatitis kronik yang berada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi mereka masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita,” ungkap dr. Unggul di Jakarta, Selasa (17/6) kemarin.

Ia menjelaskan, infeksi sangat mungkin terjadi karena saat melahirkan jalan lahir ibu terluka dan berdarah sehingga mempermudah kontaminasi darah terhadap kulit bayi yang rentan gesekan persalinan. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat ibu menyusui, di mana luka pada puting ibu menjadi jalan mudah masuknya virus.

“Penularan virus Hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu . Tapi bisa terjadi saat persalian atau juga ketika menyusui di mana terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dengan mulut bayi,” terangnya.

Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan sang ibu yang berisiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan.

“Yang perlu ditekankan, untuk ibu hamil yang positif mengidap virus, selain vaksinasi aktif, sang bayi juga wajib mendapatkan imunisasi pasif dengan pemberian serum. Dengan pemberian vaksinasi pasif (imunoglobulin) maka tubuh bayi sudah langsung mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B dari ibunya saat melahirkan,” ujarnya.

Unggul mengingatkan pula, pentingnya pencegahan hepatitis B sejak dini karena penyakit ini tidak memberikan keluhan dan gejala. Keadaan ini jelas membahayakan karena anak-anak bisa terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya mengandung virus hepatitis B yang akan berjalan progresif menahun dan menjadi kronis ketika mereka dewasa. “Bila sudah kronis, baru akan memberikan gejala antara lain lemah, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tulang, kulit badan dan mata kuning serta perubahan warna urin yang mencolok,” tandasnya.

sumber : kompas

Vaksinasi dan Autisme Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Vaksinasi dan Autisme

Published by Lita October 19th, 2006 in Health.

Saya termangu membaca tulisan pak Harry tentang autisme. Teringat kegelisahan seorang ibu yang menanyakan pada saya, hubungan antara imunisasi dan autisme.

Anaknya sebaya Daud dan (saat itu) masih punya jadwal beberapa kali imunisasi. Rupanya e-mail tentang imunisasi yang menyebabkan autisme sedang beredar di milis yang ia ikuti. Sebenarnya ini bukan berita baru. Semacam siklus saja, muncul periodik. Vaksinnya tak selalu sama, tapi intinya sama: bahaya autisme mengintai di balik imunisasi.

Pak Harry menulis tentang autisme dengan mencuplik dari wikipedia. Izinkan saya untuk mengambil sumber dari tulisan yang lain dan dari sisi pandang yang agak berbeda.

Dari dr. Sears:

There has been some recent press over a concern of some medical researchers that the MMR vaccine may be a contributing link to autism. There has been no conclusive medical evidence to date that supports this concern, and the potential severity of these three illnesses makes vaccinating against them very important.

Some parents who have a child with autism, or know someone who has a child with autism, and have a concern about its relation to the MMR vaccine, can give their child each of the three components of this shot separately, one year apart. However, this is two extra injections.

Dari mayoclinic:

Some people believe autism is caused by vaccines — particularly the measles-mumps-rubella vaccine (MMR), as well as vaccines containing thimerosal, a preservative that contains a very small amount of mercury. But extensive studies have shown no link between vaccines and autism.

Sedangkan dari WHO:

Based on the extensive review presented, GACVS concluded that no evidence exists of a causal association between MMR vaccine and autism or autistic disorders. The committee believes the matter is likely to be clarified by a better understanding of the causes of autism.

GACVS also concluded that there is no evidence to support the routine use of monovalent measles, mumps and rubella vaccines over the combined vaccine, a strategy which would put children at increased risk of incomplete immunization. Thus, GACVS recommends that there should be no change in current vaccination practices with MMR.

Penelitian yang dijadikan rujukan bagi pemberitaan adanya korelasi antara vaksin MMR dan autisme dinyatakan memiliki cacat serius. Bertanggal 13 Juni 2003, artikel ini menuliskan:

Committee on Safety of Medicines (CSM) advice on methodology used in this paper

Previous research by Geier and Geier, using similar methodology, has been carefully reviewed by the CSM. The advice of the CSM was that this type of analysis (use of spontaneously reported adverse reaction data and numbers of vaccine doses distributed) cannot be used to determine and compare the incidence of adverse reactions associated with different vaccinations.

CSM will shortly be asked to review the current study by Geier and Geier. However, it is clear from CSM’s previous advice that this methodology is seriously flawed and the conclusions of the authors concerning the association between MMR and DTP vaccine and the outcomes studied cannot therefore be justified.

Sedangkan dari asosiasi dokter anak Amerika (AAP):

The most important weakness of the article is the reliance on VAERS (Vaccine Adverse Event Reporting System) data to draw conclusions about adverse event associations or causality. VAERS is a passive surveillance system for reporting possible vaccine adverse events that depends on health care professionals, patients, and others to file reports.

Health effects reported to VAERS as being associated with vaccines may represent true adverse events, coincidental occurrences, or mistakes in filing. Inherent limits of VAERS include incomplete reporting, lack of verification of diagnoses, and lack of data on people who were immunized and did not report problems.

Data from VAERS are useful for hypothesis generation (raising questions) but should not be used for research aimed at determining whether vaccines cause certain health problems (hypothesis proving), as was done in the article by Geier and Geier.

Dan dari Vaccine Safety, (format pdf):

Consistent evidence from ecologic, case-control, case-crossover, and cohort studies showing lack of an association between MMR vaccine and an increased risk for developing autism, either in the short time window following vaccination or at times distant from vaccination.


Group Health Cooperative Center for Health Studies
CDC Vaccine Safety Datalink Project

Sebagai pengingat: ini bukan pengganti nasihat/diskusi medis. Saya bukan peneliti, apalagi dokter. Namun jika anda bertanya tentang keputusan saya, saya tetap bergeming dengan jadwal imunisasi MMR untuk kedua anak saya.

Saya hanya berharap, para orangtua membuat keputusan tidak berdasarkan emosi dan paranoia semata. Pertimbangkan baik-baik, dan jika ragu dengan kondisi anak, konsultasikan pada dokter.

Walau demikian, keputusan ada di tangan orangtua. Milik orangtua. Dan dijalani anak kelak. Semoga tak ada kata menyesal.

fakta dan mitos imunisasi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Fakta dan Mitos Mengenai Imunisasi

1/22/2007

Sejak pemberian vaksinasi secara luas di Amerika Serikat, jumlah kasus penyakit pada anak seperti campak dan pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) turun hingga 95% lebih. Imunisasi telah melindungi anak-anak dari penyakit mematikan dan telah menyelamatkan ribuan nyawa. Saat ini beberapa penyakit sangat jarang timbul sehingga para orang tua kadang mempertanyakan apakah vaksinasi masih diperlukan.

Anggapan yang keliru ini hanya salah satu dari kesalahpahaman mengenai imunisasi. Kebenarannya adalah bahwa sebagian besar vaksin mampu mencegah penyakit yang masih ada di dunia, walaupun angka kejadian penyakit tersebut jarang. Vaksinasi masih sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan anak. Bacalah lebih lanjut tentang imunisasi secara lebih jelas dalam uraian berikut!

Apa yang terjadi pada tubuh dengan imunisasi

Vaksin bekerja dengan mempersiapkan tubuh anak anda untuk memerangi penyakit. Setiap suntikan imunisasi yang diberikan mengandung kuman mati atau yang dilemahkan, atau bagian darinya, yang menyebabkan penyakit tertentu. Tubuh anak anda akan dilatih untuk memerangi penyakit dengan membuat antibodi yang mengenali bagian-bagian kuman secara spesifik. Kemudian akan timbul respon tubuh yang menetap atau dalam jangka panjang. Jadi, ketika anak terpapar pada penyakit yang sebenarnya, antibodi telah siap pada tempatnya dan tubuh tahu cara memeranginya sehingga anak tidak jatuh sakit. Inilah yang disebut sebagai imunitas (ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu).

Fakta dan mitos

Yang patut disayangkan, beberapa orang tua yang salah mendapatkan informasi mengenai vaksin memutuskan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak mereka, akibatnya risiko anak tersebut untuk jatuh sakit lebih besar.

Untuk lebih memahami keuntungan dan risiko dari vaksinasi, berikut ini beberapa mitos umum yang ada di masyarakat dan faktanya.

Imunisasi akan menimbulkan penyakit yang seharusnya ingin dicegah dengan vaksinasi pada anak saya

Anggapan ini timbul pada beberapa orang tua yang memiliki kekhawatiran besar terhadap vaksin. Adalah suatu hal yang mustahil untuk menderita penyakit dari vaksin yang terbuat dari bakteri atau virus yang telah mati atau bagian dari tubuh bakteri atau virus tersebut. Hanya imunisasi yang mengandung virus hidup yang dilemahkan, seperti vaksin cacar air (varicella) atau vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR), yang mungkin dapat memberikan bentuk ringan dari penyakit tersebut pada anak. Namun hal tersebut hampir selalu tidak lebih parah dari sakit yang dialami jika seseorang terinfeksi oleh virus hidup yang sebenarnya. Risiko timbulnya penyakit dari vaksinasi amatlah kecil.

Vaksin dari virus hidup yang tidak lagi digunakan di Amerika Serikat adalah vaksin polio oral (diberikan melalui tetes ke dalam mulut anak). Keberhasilan program vaksinasi memungkinkan untuk mengganti vaksin virus dari virus hidup ke virus yang telah dimatikan yang dikenal sebagai vaksin polio yang diinaktifkan. Perubahan ini secara menyeluruh telah menghapuskan penyakit polio yang ditimbulkan oleh imunisasi di Amerika Serikat.

Jika semua anak lain yang berada di sekolah diimunisasi, tidak ada bahaya jika saya tidak mengimunisasi anak saya

Adalah benar bahwa kemungkinan seorang anak untuk menderita penyakit akan rendah jika yang lainnya diimunisasi. Jika satu orang berpikir demikian, kemungkinan orang lain pun akan berpikir hal yang sama. Dan tiap anak yang tidak diimunisasi memberikan satu kesempatan lagi bagi penyakit menular tersebut untuk menyebar. Hal ini pernah terjadi antara tahun 1989 dan 1991 ketika terjadi wabah campak di Amerika Serikat. Perubahan laju imunisasi pada anak pra sekolah mengakibatkan lonjakan tinggi pada jumlah kasus campak, angka kematian, serta jumlah anak dengan kerusakan menetap akibatnya. Hal serupa pernah terjadi di Jepang dan Inggris pada tahun 1970 yaitu wabah pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) yang terjadi saat laju imunisasi menurun.

Walaupun angka laju vaksinasi cukup tinggi di Amerika Serikat, tidak dapat dijamin bahwa anak anda hanya akan kontak dengan orang-orang yang telah divaksinasi, apalagi sekarang banyak orang bepergian dari dan ke luar negeri. Sepeti wabah ensefalitis pada tahun 1999 dari virus West Nile di New York, suatu penyakit dapat menyebar ke belahan bumi lain dengan cepatnya akibat perjalanan internasional. Cara terbaik untuk melindungi anak anda adalah dengan imunisasi.

Imunisasi akan memberikan reaksi buruk pada anak saya

Reaksi umum yang paling sering terjadi akibat vaksinasi adalah keadaan yang tidak berbahaya, seperti kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan, demam, dan ruam pada kulit. Walaupun pada kasus yang jarang imunisasi dapat mencetuskan kejang dan reaksi alergi yang berat, risiko untuk terjadinya hal tersebut sangat kecil dibandingkan risiko menderita penyakit jika seorang anak tidak diimunisasi. Setiap tahunnya jutaan anak telah divaksinasi secara aman, dan hampir semua dari mereka tidak mengalami efek samping yang bermakna.

Sementara itu, penelitian secara terus menerus dilakukan untuk meningkatkan keamanan imunisasi. The American Academy of Pediatrics (AAP) sekarang menganjurkan dokter untuk  menggunakan vaksin difteri, tetanus, dan pertusis yang mengandung hanya satu bagian spesifik sel kuman pertusis dibandingkan dengan yang mengandung seluruh bagian sel kuman yang telah mati. Vaksin pertusis yang aselular (DtaP) dikaitkan dengan lebih kecilnya efek samping seperti demam dan kejang.

Baru-baru ini telah disetujui untuk mengganti zat pengawet timerosal dari semua vaksinasi, seperti yang direkomendasikan oleh The Advisory  Commitee on Immunization Practice (ACIP), American Academy of Pediatrics, dan United States Public Health Service (USPHS).

Timerosal adalah produk dari etil merkuri dan telah digunakan sebagai pengawet vaksin sejak 1930. Jumlah timerosal yang terkandung dalam vaksin sangat rendah, pada kadar yang tidak berhubungan dengan keracunan merkuri. Namun USPHS sekarang merekomendasikan untuk meminimalkan semua paparan terhadap merkuri, tidak peduli berapapun sedikit kadarnya, hal ini termasuk pula penggunaan termometer kaca yang mengandung merkuri.

Pada tahun 1999, The Centre for Disease Cintrol (CDC) Amerika Serikat menunda penggunaan vaksin baru rotavirus setelah beberapa orang anak menderita sumbatan di usus yang mungkin dicetuskan oleh vaksin tersebut.  Walaupun hanya beberapa kasus yang dilaporkan, CDC menghentikan pemberian vaksinasi karena adanya kekhawatiran mengenai keamanannya. Setelah dilakukan penelitian, vaksin rotavirus  tidak diberikan lagi.

Ada rumor yang dikuatkan, banyak diantaranya yang diedarkan melalui internet, menghubungkan beberapa vaksin dengan multipel sklerosis, sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS), autisme, dan masalah kesehatan lainnya. Namun beberapa penelitian gagal dalam menunjukkan hubungan  antara imunisasi dengan keadaan tersebut. Angka kejadian sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS) telah menurun lebih dari 50% beberapa tahun ini, padahal jumlah vaksin yang diberikan tiap tahun semakin meningkat.

Anak saya tidak perlu diiimunisasi karena penyakit tersebut telah dimusnahkan

Penyakit yang jarang atau tidak terjadi lagi di Amerika Serikat, seperti polio dan campak, tetap berkembang di belahan bumi lain. Dokter melanjutkan pemberian vaksin untuk penyakit tersebut karena penyakit tersebut sangat mudah ditularkan melalui kontak dengan penderita melalui perjalanan. Hal tersebut termasuk orang-orang yang mungkin belum diimunisasi masuk ke Amerika Serikat, seperti halnya orang Amerika yang bepergian ke luar negeri.

Jika laju imunisasi menurun, penyakit yang dibawa oleh seseorang yang datang dari negara lain dapat menimbulkan keadaan sakit yang berat pada populasi yang tidak terlindungi dengan imunisasi. Pada tahun 1994 polio telah terbawa dari India ke Kanada, namun tidak menyebar karena banyak masyarakat yang telah diimunisasi. Hanya penyakit yang telah diberantas tuntas dari muka bumi, seperti cacar (smallpox), yang aman untuk dihentikan pemberian vaksinasinya.

Anak saya tidak perlu diimunisasi jika ia sehat, aktif, dan makan dengan baik

Vaksinasi dimaksudkan untuk menjaga anak tetap sehat. Karena vaksin bekerja dengan memberi perlindungan tubuh sebelum penyakit menyerang. Jika anda menunda samapi anak anda sakit akan terlambat bagi vaksin untuk bekerja. Waktu yang tepat untuk memberikan imunisasi pada anak anda adalah saat ia dalam keadaan sehat.

Imunitas hanya bertahan sebentar

Beberapa vaksin, seperti campak dan pemberian beberapa serial vaksin hepatitis B, dapat menimbulkan kekebalan seumur hidup anda. Vaksin lainnya, seperti tetanus, bertahan sampai beberapa tahun, membutuhkan suntikan ulang dalam periode waktu tertentu (booster) agar dapat terus memberi perlindungan untuk melawan penyakit. Dan beberapa vaksin, seperti pertusis, akan semakin berkurang namun tidak memerlukan suntikan ulang (booster) karena tidak berbahaya pada remaja dan dewasa. Penting untuk menyimpan catatan pemberian suntikan imunisasi anak anda sehingga anda tahu kapan ia membutuhkan suntikan ulang (booster).

Fakta bahwa penelitian tentang vaksin masih terus berlanjut dan diperbaiki menunjukkan bahwa pemberiannya belum aman

Pusat pengawas obat dan makanan merupakan badan milik pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengatur tentang vaksin di Amerika Serikat. Bekerja sama dengan CDC dan The National Institutes of Health (NIH) mereka meneruskan penelitian dan memonitor keamanan dan keefektifan pemberian vaksin.

Surat ijin bagi vaksin baru dikeluarkan setelah dilakukan penelitian laboratorium dan percobaan klinis, dan pengawasan keamanan tetap berlanjut walaupun vaksin telah disetujui. Telah dilakukan dan akan terus dilakukan perbaikan (misalnya seperti yang berlaku pada DtaP dan vaksin polio) yang akan meminimalkan efek samping yang mungkin terjadi dan untuk menjamin standar keamanan yang terbaik.

Informasi tambahan

Jelaslah bahwa vaksin adalah satu dari alat terbaik yang kita miliki agar anak sehat, namun keberhasilan dan program imunisasi bergantung pada ketersediaan. Anda bisa mendapatkan vaksin dengan harga murah atau gratis melalui klinik kesehatan masyarakat dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), dan pada kampanye vaksinasi anak (misal pekan imunisasi anak).

Anda dapat mengunjungi situs-situs kesehatan lain untuk mengetahui lebih lanjut mengenai vaksinasi. Sumber informasi lainnya adalah dokter anak anda. Bersama, anda dapat menjaga anak anda sehat dan ceria.

Salah Paham Mengenai Imunisasi

Timerosal mengakibatkan Autisme

Beberapa ilmuwan telah melemparkan wacana bahwa kandungan merkuri dalam vaksin merupakan penyebab autisme dan anak yang menderita autisme dianjurkan untuk menjalani terapi kelasi (chelation therapy, pemberian zat khusus sebagai upaya “mengikat” merkuri agar tidak dapat bereaksi dengan komponen sel tubuh) untuk detoksifikasi. Beberapa kasus telah dijadikan perkara hukum yang disidangkan dan beberapa pengacara menyebarkan informasi di internet untuk mendapatkan klien. Situasi ini semakin berkembang karena sampai sekarang beberapa vaksin masih mengandung timerosal, zat pengawet yang mengandung merkuri yang tidak digunakan lagi. Ada beberapa alasan mengapa kecemasan mengenai timerosal dalam vaksin sebenarnya merupakan informasi yang menyesatkan:

  • Jumlah merkuri yang terkandung sangat kecil
  • Tidak ada hubungan merkuri dan autisme yang terbukti
  • Tidak ada alasan yang masuk akal untuk mempercayai bahwa autisme terjadi karena sebab                  keracunan

Timerosal telah digunakan sebagai pengawet pada makhluk hidup dan vaksin sejak tahun 1930 karena dapat mencegah kontaminasi bakteri dan jamur, terutama pada tabung yang digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pada tahun 1999, FDA (Food and Drug Administration) memeriksa catatan bahwa dengan bertambahnya jumlah vaksin yang dianjurkan pada bayi, jumlah total merkuri pada vaksin yang mengandung timerosal dapat melebihi batas yang dianjurkan oleh badan pengawas lain (1). Jumlah merkuri yang ditentukan oleh FDA memiliki batas aman yang lebar, dan belum ada informasi mengenai bayi yang sakit akibatnya. Meski demikian untuk berhati-hati, US Public Health Service dan the American Academy of Pediatrics meminta dokter untuk meminimalkan paparan terhadap vaksin yang mengandung timerosal dan kepada perusahaan pembuat vaksin untuk menghilangkan timerosal dari vaksin sesegera mungkin (2). Pada pertengahan 2000 vaksin hepatitis B dan meningitis bakterial yang bebas timerosal tersedia luas.kombinasi vaksin difteri,pertusis, dan tetanus sekarang juga tersedia tanpa timerosal. Vaksin MMR, cacar air, polio inaktif, dan konjugasi pneumokok tidak pernah mengandung timerosal.

Sebelum adanya pembatasan, paparan maksimal kumulatif merkuri pada anak dalam 6 bulan pertama kehidupan dapat mencapai 187,5 mikrogram (rata-rata 1 mikrogram/hari). Pada formula vaksin yang baru paparan maksimal kumulatif selama 6 bulan pertama kehidupan adalah tidak lebih dari 3 mikrogram (3). Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa batasan maksimal keduanya memiliki efek toksik (keracunan).

Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit (CDC) telah membandingkan angka kejadian autisme dengan jumlah timerosal yang ada dalam vaksin. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perubahan relatif angka kejadian antara autisme dengan jumlah timerosal yang diterima anak dalam 6 bulan pertama kehidupan (dari 0-160 mikrogram). Hubungan yang lemah ditemukan antara asupan timerosal dan beberapa kelainan pertumbuhan saraf (seperti gangguan pemusatan perhatian) pada satu penelitian saja, namun tidak terbukti pada penelitian selanjutnya (4). Penelitian lain yang direncanakan sepertinya juga tidak akan menunjukkan hubungan bermakna.

Komite Intitute of Medicine (IOM) yang telah menyebarkan luaskan laporannya pada bulan Oktober 2001 menemukan tidak ada bukti hubungan antara vaksin yang mengandung timerosal dan autisme, ggangguan pemusatan perhatian, keterlambatan bicara dan bahasa, atau kelainan perkembangan saraf lainnya (5)

Penggunaan terapi kelasi untuk penanganan anak yang menderita autisme sama sekali tidak berhubungan.

7 Fakta Tentang Vaksinasi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Berikut adalah  7 fakta yang harus dan berhak diketahui oleh setiap orang, keluarga dan kelompok masyarakat tentang Imunisasi:

1. Imunisasi sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terkena penyakit yang bersangkutan, menjadi cacat permanent, menderita kekurangan gizi dan bahkan kematian.

2. Imunisasi umumnya aman, bahkan pada anak yang menderita sakit ringan, mempunyai cacat atau menderita kekurangan gizi.

3. Pemberian imunisasi secara simultan/kombinasi aman bagi anak dan memberikan perlindungan lebih cepat.

4. Hanya dengan pemberian imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, anak akan terlindung dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.

5. Semua wanita hamil harus mendapatkan vaksin tetanus untuk perlindungan diri dan bayinya.

6. Imunisasi harus dilakukan dengan mempergunakan jarum dan alat suntik yang baru. Setiap orang harus meminta jarum dan alat suntik baru bila akan diimunisasi.

7. Penyakit akan menyebar secara cepat saat orang berdekatan. Semua anak yang tinggal di kondisi yang padat, khususnya di penampungan pengungsi atau saat kondisi bencana alam, harus mendapatkan imunisasi sesegera mungkin

Fakta #1:  Imunisasi sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terkena penyakit infeksi, menjadi cacat permanen, menderita kekurangan gizi dan bahkan kematian.

Semua vaksin yang diwajibkan dan dianjurkan untuk diberikan pada anak adalah vaksin yang melindungi tubuh dari penyakit infeksi yang serius dan membahayakan. Sistem kekebalan tubuh bayi dan anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan; belum kuat untuk menangkal penyakit infeksi yang berbahaya. Oleh karena itu, mereka harus mendapatkan perlindungan sedini mungkin. Penundaan imunisasi akan menghadapkan anak pada risiko kematian atau kecacatan; kita seolah kembali ke era kegelapan dengan angka kematian yang tinggi, kematian di usia muda karena anak-anak akan bergelimpangan, meninggal sebelum mencapai usia sekolah.

Setengah dari angka kematian pada anak batuk rejan, sepertiga dari semua kasus penyakit diakibatkan polio dan seperempat dari angka kematian akibat campak muncul pada anak di bawah 1 tahun.

Anak yang tidak mendapat imunisasi sangat rentan terhadap campak, batuk rejan, dan penyakit-penyakit mematikan lainnya. Anak yang sembuh dari penyakit-penyakit tersebut menjadi lemah, dimungkinkan tidak dapat tumbuh dengan normal atau juga dimungkinkan menderita cacat permanent. Kemudian mereka bisa meninggal akibat kekurangan gizi dan penyakit-penyakit lainnya.

Imunisasi dilakukan lewat suntikan atau tetesan pada mulut. Vaksin bekerja dengan membentuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Imunisasi hanya dapat bekerja jika diberikan SEBELUM penyakit hinggap pada anak.

Fakta #2: Imunisasi umumnya aman,  bahkan pada anak yang menderita sakit ringan, mempunyai cacat atau menderita kekurangan gizi.

Salah satu alasan utama mengapa orang tua tidak membawa anak ke dokter atau unit layanan kesehatan atau Pekan Imunisasi Nasional adalah anak mereka sedang terkena demam, batuk, flu, diare dan sejumlah penyakit yang diderita pada hari anak harus diimunisasi. Bahkan sering kali petugas kesehatan tidak menganjurkan pemberian vaksin pada anak yang sedang batuk, flu, diare, demam ringan, dan penyakit ringan lainnya. Padahal. imunisasi aman diberikan pada anak yang terkena penyakit-penyakit ringan tersebut.

Kadang kala seorang petugas kesehatan tidak menyarankan pemberian imunisasi kepada anak cacat atau yang kekurangan gizi. Padahal, imunisasi aman diberikan kepada anak yang cacat atau kekurangan gizi. Justru mereka perlu perlindungan segera melalui pemberian imunisasi. Misalnya, anak yang kekurangan gizi harus segera diberikan vaksin campak karena campak sangat berbahaya bagi anak yang kekurangan gizi, khususnya jika kasus kekurangan gizinya parah.

Setelah disuntik, anak mungkin akan menangis atau terkena demam, ruam ringan atau nyeri. Hal ini normal. Tingkatkan asupan cairan, berikan ASI sesering mungkin atau berikan banyak cairan (dan makanan). Kompres dengan air hangat dan berikan parasetamol jika demam. Jika anak terkena demam tinggi selama lebih dari 72 jam, bawa ia ke unit layanan kesehatan.

Falta #3: Pemberian imunisasi secara simultan/kombinasi aman bagi anak dan memberikan perlindungan lebih cepat.

Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa vaksin-vaksin mempunyai efektifitas yang sama, baik jika diberikan sendiri-sendiri maupun secara simultan/kombinasi. Selain itu, imunisasi simultan/kombinasi tidak mempunyai efek merugikan bagi sistem kekebalan tubuh bayi serta tidak meningkatkan kadar efek samping yang biasa muncul pasca imunisasi (demam, nyeri, ruam ringan). Oleh karena itu, di banyak negara termasuk misalnya di Amerika Serikat, Committee on Immunization Practices (ACIP) dan the American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian vaksin secara simultan/kombinasi untuk semua jenis vaksin pada anak.

Ada dua keuntungan dari pemberian imunisasi simultan dalam satu kunjungan. Pertama, kita memberikan kekebalan tubuh pada anak sedini mungkin dalam rangka memberikan perlindungan selama beberapa bulan pertama yang merupakan masa-masa rentan bagi bayi. Kedua, pemberian sejumlah vaksin pada saat yang sama berarti mengurangi jumlah suntikan yang diterima oleh bayi dan juga mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, sehingga menghemat waktu dan uang. Selain itu, kunjungan ke klinik/RS meningkatkan risiko paparan penyakit infeksi pada anak kita.

Falta #4: Hanya dengan pemberian imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, anak akan terlindung dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.

Penting sekali bagi anak untuk mendapatkan jumlah dan jenis imunisasi secara lengkap dan penuh – kalau tidak, maka vaksin tidak akan bekerja sebagaimana mestinya.

Untuk melindungi anak terutama selama tahun pertama hidupnya, berikan imunisasi sesuai jadwalnya. Imunisasi sangat efektif jika diberikan pada umur yang disebutkan pada jadwal, atau pada usia yang paling dekat dengan ketentuan.

Jika karena suatu sebab, anak tidak mendapatkan rangkaian imunisasi secara lengkap, maka penting sekali untuk melengkapinya sesegera mungkin atau pada saat Pekan Imunisasi Nasional.

Di beberapa Negara, tambahan vakinasi, atau disebut booster shots/vaksinasi ulangan, ditawarkan setelah anak berusia lebih dari 1 tahun. Vaksin ulangan/ekstra/tambahan ini membuat perlindungan vaksin menjadi lebih efektif.

Fakta #5: Semua wanita hamil harus dilindungi dari tetanus. Walaupun ia sudah mendapatkan imunisasi sebelumnya, ia membutuhkan tambahan vaksin toxoid tetanus.

Di banyak negara, kaum ibu melahirkan dalam kondisi atau tempat yang tidak higienis. Hal ini menimbulkan resiko terkena tetanus pada ibu dan bayi, tetanus adalah pembunuh utama bagi bayi yang baru lahir.

Jika seorang ibu hamil tidak diberikan imunisasi tetanus dan kemudian bakteri atau spora tetanus masuk ke dalam tubuhnya, maka nyawanya juga akan terancam.

Bakteri atau spora tetanus tumbuh dalam luka yang kotor. Mereka dapat berkembang biak jika tali pusat dipotong dengan pisau yang tidak tajam atau jika benda apapun yang tidak bersih menyentuh ujung tali pusat. Setiap alat yang menyentuh tali pusat harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudia direbus atau dipanaskan di atas api dan kemudian didinginkan. Selama minggu pertama setelah proses kelahiran, kebersihan tali pusat harus tetap dijaga.

Semua wanita hamil harus memastikan bahwa mereka telah mendapatkan imunisasi tetanus, yang dapat melindungi baik ibu dan bayinya.

Pemberian imunisasi pada wanita hamil adalah aman. Perhatikan jadwal pemberian imunisasi tetanus pada wanita hamil:

§    Pemberian pertama: Segera setelah kehamilan terdeteksi.
§   Pemberian kedua: Sebulan setelah pemberian vaksin pertama, dan paling lambat dua minggu sebelum waktu kelahiran. 
§   Pemberian ketiga: 6-12 bulan setelah pemberian vaksin kedua, atau selama masa kehamilan berikutnya. 
§   Pemberian keempat: 1 tahun setelah pemberian vaksin ketiga, atau selama masa kehamilan berikutnya. 
§   Pemberian kelima: 1 tahun setelah pemberian vaksin ketiga, atau selama masa kehamilan berikutnya.

Jika seorang gadis atau wanita telah diberikan 5 kali vaksin tetanus dengan rentang waktu yang tepat, ia akan terlindungi sepanjang hidupnya. Anak-anaknya juga terlindungi selama beberapa minggu awal setelah kelahiran mereka.

Fakta #6: Imunisasi harus dilakukan dengan mempergunakan jarum dan alat suntik yang baru. Setiap orang harus meminta jarum dan alat suntik baru bila akan diimunisasi.

Jarum dan peralatan yang tidak steril dapat menyebabkan penyakit yang membahayakan jiwa. Penggunaan alat dan jarum suntik secara bergantian, bahkan antar sesama anggota keluarga, dapat menyebarkan penyakit yang membahayakan jiwa. Jarum dan alat suntik hanya boleh dipergunakan jika berada dalam keadaan steril.

Fakta #7: Penyakit akan menyebar secara cepat saat orang berdekatan. Semua anak yang tinggal di kondisi yang padat, khususnya di penampungan pengungsi atau saat kondisi bencana alam, harus mendapatkan imunisasi sesegera mungkin.

Situasi darurat dan keadaan yang memaksa orang mengungsi dan meninggalkan tempat tinggal mereka seringkali menyebabkan penyebaran penyakit infeksi. Oleh karena itu, pengungsi yang berusia di bawah 12 tahun harus segera diimunisasi, khususnya vaksin campak, saat pertama kali ditemui atau ditempatkan di penampungan.

Semua imunisasi yang diberikan dalam kondisi darurat harus diberikan menggunakan alat suntik sekali pakai.

Campak akan menjadi sangat serius jika anak-anak kekurangan gizi atau tinggal dalam keadaan yang tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai. Oleh karena itu:

§ Karena penyakit seperti campak dapat secara cepat menular, setiap anak yang terkena campak      harus diisolasi dari anak-anak lain dan diperiksa oleh tenaga kesehatan yang terlatih.

§ Campak seringkali menyebabkan diare akut. Pemberian vaksin campak akan mencegah diare