jump to navigation

Menakar Kebutuhan AA dan DHA September 15, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
3 comments

Menakar Kebutuhan AHA/DHA

Susu formula dengan DHA dan AHA belum tentu berefek maksimal untuk pertumbuhan otak. Istilah DHA (Docosahexaenoic acid) dan ARA (arachinoid acid) memang tak asing di telinga para ibu. Dalam iklan di televisi, terlihat sejumlah perusahaan susu berlomba-lomba menawarkan produk yang mengandung DHA dan ARA. Biasanya, susu jenis ini harganya lebih mahal dibanding susu formula tanpa asam lemak esensial itu.

Si ibu yang langsung kepincut dua komponen tersebut dan berkantong tebal langsung berburu produk itu. Padahal, menurut Dr Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K), meskipun banyak susu formula mengklaim mengandung DHA dan ARA, belum tentu semuanya akan memberi dampak yang baik dan maksimal untuk pertumbuhan otak anak.

“Hampir semua produsen susu formula memasukkan berbagai benda dalam produknya, tapi jumlahnya sedikit-sedikit. Padahal, bila perbandingan DHA dan ARA dalam susu formula tak tepat, hasilnya tak akan baik bagi anak. Kecerdasannya tak akan meningkat,” ucap Hardiono, Selasa lalu di Jakarta, dalam konferensi pres mengenai kadar asupan DHA ARA yang tepat dan stimulasi sejak dini untuk nilai IQ anak lebih baik.

Hardiono juga menjelaskan, DHA dan ARA sebenarnya terdapat secara alami dalam air susu ibu (ASI). Konsultan anak bidang neurologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, itu menambahkan, dibandingkan dengan susu formula yang diperkaya DHA dan ARA, kandungan kedua asam lemak yang terdapat dalam ASI masih jauh lebih baik segi kualitas ataupun kuantitasnya. Ini berbeda dengan ASI, kandungan DHA dan ARA secara alami memiliki komposisi yang tepat bagi tumbuh-kembang bayi.

DHA dan ARA merupakan asam lemak yang sangat dibutuhkan bayi untuk pembentukan otak, jaringan saraf, jaringan penglihatan, dan membantu pembentukan sistem imun pada bayi. Melalui ASI, bayi akan mendapatkan DHA dan ARA yang diperlukan sebagai komponen utama lemak membran sel dan merupakan asam lemak tak jenuh dalam rantai panjang utama sistem saraf pusat. DHA juga merupakan komponen utama membran sel fotoreseptor retina.

Otak tumbuh maksimal sejak 3 bulan terakhir dari masa kehamilan sampai kurang lebih usia 2 tahun. Karena itu, dalam periode tersebut, bayi sebaiknya mendapat DHA dan ARA dalam jumlah cukup, yang tentunya dapat diperoleh dari ASI. Agar mendapatkan kandungan DHA dan ARA yang tinggi dalam ASI-nya, ibu hamil bisa mengkonsumsi makanan yang menjadi sumber DHA, seperti ikan laut (contohnya salmon), minyak ikan, daging, dan telur.

Dari suatu penelitian, Dr Craig Jensen dari Departemen Pediatrik pada Baylor College of Medicine Houston, Texas, menyebutkan ibu-ibu di setiap negara memiliki kandungan DHA dan ARA dalam ASI berbeda-beda. Perbedaan ini lantaran asupan makanan yang dikonsumsi sehingga dapat mempengaruhi kadar kedua komponen tersebut. Walau tak ada angka yang pasti, Craig mengatakan DHA dan ARA yang terdapat dalam ASI wanita Indonesia tak jauh berbeda dengan negara tetangga, seperti Malaysia, yaitu sekitar 0,4 atau 0,5 persen dari total asam lemak. “¨Ya, sekitar 0,4 atau 0,5 persen dari total asam lemak. Tapi, meski jumlahnya sedikit, DHA dan ARA penting dalam perkembangan intelektual dan daya penglihatan anak,¨ ujar Craig.

Dia melanjutkan, dari beberapa hasil studi memperlihatkan asupan DHA dan ARA, baik bagi bayi prematur maupun bayi yang lahir normal, bermanfaat untuk perkembangan fungsi penglihatan dan perkembangan saraf otak pada bayi dan balita.

Selain itu, penelitian yang dilakukan Dr E. Birch menunjukkan, anak-anak berusia 4 tahun yang mendapatkan asupan DHA dan ARA dengan kadar 0,36 persen DHA (90 miligram DHA/100 gram) dan 0,72 persen ARA (180 miligram ARA/100 gram) selama 4 bulan pertama memiliki tingkat IQ lebih tinggi 7 poin dibanding mereka yang tak mendapat asupan DHA dan ARA dalam kadar tersebut. Di samping itu, studi lain menunjukkan bahwa skor IQ pada anak usia 4 tahun berkorelasi kuat dengan skor IQ pada usia 17 tahun. “Hal ini menunjukkan adanya stabilisasi dalam jangka waktu panjang dan mengindikasikan nilai skor IQ yang kurang lebih sama tingginya pada usia dewasa,” Craig Jensen menjelaskan.

Namun, selain asupan DHA dan ARA dalam kadar yang tepat, Hardiono mengingatkan perlunya stimulasi tepat yang diterapkan sejak dini untuk melatih kecerdasan anak. Menurut Hardiono, kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh rangsangan yang diterimanya pada tahun-tahun awal kehidupannya, terutama dua tahun pertama yang sering disebut dengan the golden years. Stimulasi yang tepat, baik jenis maupun frekuensinya, akan melatih pancaindra anak dan akan mempengaruhi kecerdasan.

Nah, jangan sia-siakan masa keemasan anak Anda. Sebab, bila terlambat, akan sulit memperbaikinya.

Marlina Marianna Siahaan

Sumber : Tempo

Perlukah Suplementasi AA/DHA dalam Susu Formula?
Ditulis Oleh Arifianto MD

Mohon maaf kalau tulisan ini jadinya seperti artikel semi ilmiah. Hanya berusaha menyumbangkan sedikit informasi yang saya punya sebelum meninggalkan Jakarta menuju lokasi tanpa koneksi internet sama sekali (listrik dan telepon saja belum tahu ada/tidaknya). Maraknya iklan susu formula di mana-mana: TV, majalah, koran mendorongku menelusuri lebih lanjut, perlukah suplementasi AA/DHA dalam susu formula.

Tujuan tulisan ini adalah menekankan tidak ada yang mampu menggantikan ASI dalam enam bulan pertama kehidupan bayi. Susu formula dibuat dengan berusaha meniru semirip mungkin kandungan yang ada dalam ASI, untuk memenuhi segala kebutuhan nutrisi bayi: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Sebagian besar formula ini diambil dari susu sapi, yang dinilai kandungannya hampir menyerupai air susu manusia, dan mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi. Sebagian kecil adalah susu kedelai. Ada satu kandungan dalam ASI yang tidak terdapat dalam susu formula kebanyakan, yaitu AA/DHA. Berbagai penelitian menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI sampai usia satu tahun memiliki perkembangan otak lebih baik dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Kandungan yang menentukan ini adalah asam arakidonat (arachidonic acid/AA) dan asam dokosaheksaenoat (docosahexaenoic acid/DHA), suatu asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (long chain polyunsaturated fatty acids/PUFA), yang merupakan batu bata utama pembangun jaringan saraf di retina (saraf mata) dan otak. Mengetahui hal ini, para peneliti biokimia berlomba-lomba memasukkan AA dan DHA dalam kandungan susu formula, dan melihat dampaknya apakah menyerupai keuntungan bayi yang mendapatkan ASI.Sebuah tulisan dalam jurnal Nutrition Noteworthy tahun 2002 yang berjudul: “Finding the Magic Formula: Should Polyunsaturated Fatty Acids be Used to Supplement Infant Formula” yang ditulis Mailan Cao menjelaskan tiga hal utama yang menjadi indikator utama outcome (keluaran) suplementasi AA/DHA ini, mengingat tidak semua hal yang terbukti di laboratorium (in vitro) atau hewan percobaan, lantas sama efeknya ketika diterapkan pada manusia.

1.. Suplementasi AA/DHA dan kadarnya dalam asam lemak plasma (darah)

Setelah dibuktikan aman untuk dikonsumsi tubuh manusia, peneliti ingin membutikan apakah suplementasi AA/DHA dapat diserap tubuh sama halnya kandungan dalam ASI, melihat bukti kadar AA/DHA dalam tubuh bayi yang mendapatkan susu formula tanpa suplementasi AA/DHA lebih rendah dibandingkan dengan yang mendapatkan ASI.Ternyata terbukti, suplementasi AA/DHA meningkatkan kadarnya dalam plasma darah, membran sel darah merah (eritrosit), dan jaringan korteks otak, dalam jumlah menyerupai yang mendapatkan ASI. ARTINYA: suplementasi AA/DHA mampu diserap tubuh dengan baik. NAMUN ini sama sekali tidak menunjukkan dampaknya dalam perkembangan saraf otak dan ketajaman penglihatan.

2.. Suplementasi AA/DHA dan Pengaruhnya dalam (Fungsi) Ketajaman Penglihatan
Sebuah penelitian ‘meta-analisis’ menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa penelitian terdahulu tidak menunjukkan adanya perbedaan.

3.. Suplementasi AA/DHA dan Perkembangan Kecerdasan/Perilaku
Inilah KUNCI dari impian semua peneliti mengenai suplementasi AA/DHA: mampukah menyamai dampaknya dalam meningkatkan kecerdasan bayi, layaknya bayi yang mendapatkan ASI? Ternyata dari berbagai penelitian: belum terbukti. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, dan diteruskan sampai usia 1 tahun, memiliki kecerdasan lebih daripada yang mendapatkan susu formula dengan AA/DHA sekalipun.Beberapa kendala juga menghadang model penelitian ini. Antara lain jenis uji yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan adalah:
Bayley Mental Development Index (MDI) dan the Psychomotor Developmental Index (PDI). Berbagai penelitian menunjukkan hasil berbeda-beda, ada yang menggambarkan hasil signifikan pemberian suplementasi AA/DHA, dan sebagian lain tidak ada bedanya. Belum lagi pengaruh sosioekonomi responden yang mempengaruhi uji statistik. Kadar AA, DHA, dan asam lemak lain semacam ALA dan LA juga bervariasi antar penelitian. Sampai perbedaan genetik dan lingkungan di berbagai belahan dunia tempat penelitian dilakukan (Amerika Utara, Australia, dan Eropa). Juga terkadang jumlah sampel terlalu
sedikit, umur bayi yang terlalu dini untuk dilakukan pengujian, dan jangka waktu penelitian yang seharusnya cukup panjang, sehingga dapat dilihat dampaknya hingga usia remaja dan dewasa.Pada akhirnya penelitian mengenai dampak suplementasi AA/DHA masih terus dikembangkan, dan belum berakhir.

Bagaimana dengan pemasarannya di negara kita? Berbagai iklan dan informasi yang tidak jarang datang dari dokter spesialis anak sendiri seolah-olah mengklaim perannya signifikan dalam meningkatkan kecerdasan bayi.Di AS, Food and Drug Administration (FDA) atau serupa Badan POM-nya Indonesia, memberikan ijin kepada dua perusahaan: Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA kepada khalayak sejak awal 2002. Harganya 15-20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi, dan ini pun
memberikan keuntungan kepada dua perusahaan tersebut untuk membiayai penelitian mengenai AA/DHA.American Council on Science and Health memiliki pandangan “the current data has not consistently shown that supplementation of formulas with DHA and AA has a lasting beneficial effect on infant development” juga hal lain seperti keamanan menambahkan asam lemak dalam susu formula belum teruji. Pada akhirnya keputusan
berpulang pada tangan si konsumen. Apakah akan memberikan susu formula dengan suplementasi AA/DHA atau tidak. Yang penting adalah memberikan ASI Eksklusif selagi mampu. Sejak masa kehamilan, persiapkan diri sebaik mungkin dengan pengetahuan menyusui bayi secara optimal. Menjelang persalinan, jika Anda berencana melahirkan di Rumah Bersalin atau Rumah Sakit, bukan di rumah, mintalah kamar rawat gabung. Anda bisa bersama bayi Anda sejak lahir hingga saatnya pulang, tanpa dipisahkan sedikit pun dari sisi sang ibu. Satu hal yang sangat sulit dilakukan di kota besar seperti Jakarta. Begitu bayi lahir, segera dekatkan ke payudara ibu, untuk early
latch-on-menyusui dini-dengan teknik yang telah Anda ketahui baik. Sehingga dipastikan kemampuan Ibu untuk menyusui bayinya penuh sangat baik. Maka tidak ada alasan lagi: “ASI saya tidak keluar”, dan harus memberikan susu formula pada bayi. Dukungan dari keluarga juga sangat penting. Tidak sedikit alasan ibu memberikan susu formula pada bayinya yang mendapatkan ASI dengan baik adalah: khawatir ASI tidak cukup. Pembahasan ASI sangat panjang, tidak dalam bahasan ini.

Kecerdasan bayi tidak hanya monopoli ASI dengan AA/DHA-nya saja. Tapi juga stimulasi eksternal, dari lingkungan, melalui rangsangan yang diberikan Papa-Mamanya, dengan percakapan verbal, pengenalan media visual, dan perhatian penuh orangtua terhadap perkembangan kecerdasan anak. Apalah artinya anak dengan asupan AA/DHA baik, tapi tidak pernah dirangsang kemampuan verbal dan visual oleh orangtuanya. Bisa jadi akan lebih buruk dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mendapatkan ASI atau susu formula, tetapi ibunya mampu memberikan perhatian penuh terhadap stimulasi
kecerdasan buah hatinya.

Sumber : http://arifianto.blogspot.com

Pengaruh Negatif Susu AA dan DHA

Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut. Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak anak termasuk untuk ibu hamil. “Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan
asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta. Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur.

Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi. “Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat.
“Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”. Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat di berikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang.
Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula. Menyesatkan

Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala galanya”, tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masyarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsure tambahan tersebut.

Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. “Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber.

Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda”.

[sumber: Harian MEDIA INDONESIA, Jum’at 22 September 2000]


Iklan

Rational Use Of Medicine Juni 23, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

RATIONAL USE OF MEDICINE (RUM)
Oleh : Purnamawati S Pujiarto Dr SpAK, MMPed

Semua orang dalam hidupnya suatu saat pasti membutuhkan obat, termasuk tenaga medis. Semua orang, termasuk pemberi jasa layanan kesehatan (provider) adalah konsumen. Semua orang butuh dan berhak memperoleh layanan kesehatan yang TERBAIK. Di lain sisi, apakah semua gangguan kesehatan harus senantiasa dijawab dengan obat? Apakah ketika anak sakit, solusinya harus peresepan sederet obat dalam bentuk puyer?
Memang, tidak sedikit konsumen yang beranggapan bahwa konsultasi medis adalah kunjungan berobat” alias upaya meminta obat. Uniknya, meminta obat ini sudah seolah terpatri, harus” cespleng dan harus” puyer. Ironisnya lagi, anak merupakan populasi yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional antara lain pemberian antibiotika dan steroid yang berlebihan, serta polifarmasi. Padahal, gangguan kesehatan harian pada anak umumnya merupakan penyakit ringan yang sifatnya self limiting”. Demam, diare akut, batuk pilek, dan radang tenggorokan, merupakan kondisi yang umumnya ditangani dengan antibiotika. Keempat kondisi tersebut juga peresepannya polifarmasi. Padahal, ketika orang dewasa mengalami gangguan yang sama, peresepan obatnya lebih ramping” ketimbang buat anak. Padahal, di dalam kamus bahasa Indonesia, konsultasi medis adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk mencari penyebab terjadinya penyakit & untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Singkatnya, konsultasi medis adalah upaya advocacy, upaya berbagi informasi, upaya meminta penjelasan dan kejelasan. Namun demikian, siapa yang paling berperan terhadap terpaterinya pola pikir sakit = obat, obat = puyer (kalau mau murah, praktis dan cespleng”)? Barangkali, sudah waktunya kita merenungkan kembali praktek keseharian kita di lapangan. Membuka hati, karena kita ingin senantiasa memberika yang TERBAIK buat bangsa ini. Waktunya pun terasa cocok karena sudah semakin banyak konsumen yang memahami bahwa konsultasi medis tidak selalu berarti obat, keputusan klinis tergantung penyebab gangguan kesehatan yang tengah dialami si konsumen.
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya perenungan dan upaya berbagi terkait konsep pola pengobatan yang rasional, yag sudah lebih dari 20 tahun di canangkan. Diawali dengan beberapa cuplikan termasuk dari beberapa guru yang saya hormati dan kagumi semangat dedikatifnya bagi pasien-pasien kita tercinta.


PENINGKATAN MUTU PENGGUNAAN OBAT DI PUSKESMAS MELALUI PELATIHAN BERJENJANG PADA DOKTER DAN PERAWAT
Iwan Dwiprahasto; Bag Farmakologi & Toksikologi FK, UGM Yogyakarta

Berbagai studi menemukan bahwa penggunaan obat untuk ISPA cenderung berlebih. Penyebab pertama, keterbatasan pengetahuan petugas kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tak jarang tetap meresepkan obat yang tak diperlukan (misal antibiotika dan steroid untuk common cold). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien. Contoh, kebiasaan memberikan injeksi pada pasien dengan gejala pada otot-sendi.
43 puskesmas ikut dalam penelitian. Jumlah ratarata obat yang diresepkan untuk ISPA anak dan dewasa, yaitu 3.62 dan 3,69. Pasien myalgia mendapat rata-rata 3.24 jenis obat. Di sebagian besar kabupaten penggunaan antibiotika untuk ISPA mencapai lebih dari 90%. Hanya beberapa puskesmas yang meresepkan antibiotika kurang dari 70%.

Tujuan penelitian (1) menilai pola peresepan ISPA dan myalgia di puskesmas di 8 kab/kota, SumBar (data peresepan retrospektif), dan (2) meningkatkan mutu penggunaan obat untuk ISPA dan myalgia (dilakukan intervensi pelatihan penggunaan obat rasional, melibatkan dokter dan perawat di 15 puskes).
Enam bulan pasca intervensi, penggunaan obat termasuk antibiotika dan injeksi menurun bermakna. Rata-rata jumlah obat untuk ISPA pada anak turun dari 3.74 + 0.58 menjadi 2.47 + 0.67 (p<0.05) (dokter) dan dari 3.67 + 0.49 menjadi 2.39 + 0.73 (p<0.05) (perawat). Penurunan penggunaan antibiotika pada anak dengan ISPA secara bermakna hanya ditemukan pada perawat, dari 81.37% menjadi 42.40%.
Proporsi pasien dewasa dengan ISPA yang mendapat antibiotika Turun bermakna dari 89.18% menjadi 44.15% (p<0.05) (dokter) dan dari 91.22% menjadi 38.71% (p<0.05) (perawat). Penggunaan injeksi juga turun bermakna pada pasien myalgia, yaitu dari 69.11% menjadi 31.89% (p<0.05) (dokter) dan dari 79.56% menjadi 62.91% (p<0.05) (perawat).

Rabu, 22 November 2000: Obat, Komoditas atau Produk Karitas?

OBAT itu unik. Ia adalah komoditas ekonomi komersial tetapi sekaligus produk yang lekat dengan fungsi sosial, penyelamat nyawa manusia. Obat memag telah lama menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan. Otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan, menimbulkan pengobatan yang irrasional yang merugikan konsumen, namun memperkaya para dokter dan industri farmasi.
Ivan Illich (Medical Nemesis: Expropriation to Health, 1975) mengkritik institusi dan industri medis yang membuat manusia tak lagi memiliki otonomi atas kesehatannya sendiri. Dunia medis justru menciptakan “kesehatan” menjadi “kesakitan”. “Industri kesehatan telah menjadi ancaman besar terhadap kesehatan.” Buku-buku lain yang menggugat kemapanan “kolusi” industri dan para dokter ditulis Dianna Melrose (Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines?, 1984), John Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984), hingga pengarang novel Arthur Hailey (Strong Medicine, 1984). ………
Khusus tentang obat-obat generik bermerek, di Indonesia jumlahnya paling banyak. Obat-obat ini berhasil membangun citra seolah-olah seperti obat paten. Ada nilai tambah dengan kemasan yang baik, merek yang keren, serta biaya promosi yang tidak kecil.
Obat, kecil skala ekonominya. Namun, keuntungan yang diraih luar biasa besar. Di Amerika Serikat, menurut survei majalah Fortune, 12 perusahaan farmasi termasuk dalam kelompok 50 perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling besar. Padahal tidak satu pun yang omsetnya besar. Di Indonesia, ada perusahaan farmasi PMA mematok harga obat lebih tinggi daripada di Kanada dan banyak negara kaya. Ini karena praktik transfer pricing ke perusahaan induk. Sementara perusahaan farmasi swasta nasional juga pesta pora obat generik bermerek yang sebenarnya obat latah (me-too drugs) yang margin keuntungannya jauh lebih besar ketimbang obat paten PMA sehingga mereka leluasa mengontrak dokter.
Apakah masih layak menyebut obat dan dokter itu penyelamat? (ij)

Obat Rasional, Kuncinya Dokter

PROFESI kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan preskripsi. Sampurno berharap masalah ketidakrasionalan penggunaan obat dapat diatasi, sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, antara lain meningkatnya inefisiensi biaya pengobatan dan terjadinya efek obat yang tidak diharapkan. Ia mengusulkan 3 agenda aksi untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: Konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional RS pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan preskripsi yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya. “Sayangnya, justru di Indonesia rumah sakit pendidikan adalah tempatnya mengajarkan preskripsi yang tidak rasional”. Agenda aksi kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. DOEN yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda aksi ketiga, intervensi regulasi. ………
Jumlah dan merek obat yang terus bertambah (sekitar 10.000 merek atau bentuk sediaan), bukan soal mudah bagi seorang dokter untuk menjatuhkan pilihan. Menurut Prof Iwan, dalam proses pemilihan ini dokter mudah dipengaruhi produsen. Sering pilihan dokter jatuh pada preparat yang kurang efektif atau yang malahan merupakan plasebo (obat bohong) dan substandar yang seringkali jauh lebih mahal dibanding obat-obat lama yang telah terbukti keampuhannya. Di tengah rimba belantara ribuan merek obat, dokter harus mempelajari sifat obat yang lama dan yang baru secara terus-menerus seumur hidup.

Selengkapnya : http://www.sehatgroup.web.id/isiHigh.asp?highID=60

Be Smarter Be Healthier

artikel simultan Juni 20, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Artikel simultan yang bisa dibawa ke DSA kalo ngotot DSA nya ga mau kasih simultan.  Dari http://www.cdc.gov/od/science/iso/multiplevaccines.htm

diterjemahkan oleh rita-JKT  dari jawaban pertanyaan di milis sehat

THE SAFETY OF MULTIPLE VACCINES

MULTIPLE VACCINES AND THE IMMUNE SYSTEM

1. Berapa jumlah vaksin yg direkomendasikan CDC untuk diberikan pada anak-anak?
Saat ini CDC merekomendasikan pemberian imunisasiuntuk melawan 12 penyakit yang bisa dicegah    melalui vaksin. Seorang anak bisa mendapatkan sampai 23imunisasi begitu dia mencapai 2 tahun karena beberapa vaksin tersebut ada yg harus diberikan lebih dari satu kali. Tergantung pada waktunya, seorang anak dapat mendapat maksimum 6 suntikan dalam satu kunjungan dokter.

2. Mengapa CDC merekomendasikan banyak imunisasi untuk anak-anak?
CDC merekomendasikan imunisasi untuk melawan 12 penyakit menular yaitu: campak, gondongan, rubella, cacar air, hepatitis B, diphtheria, tetanus, pertussis, Haemophilus influenzae type B (Hib), polio,
influenza dan penyakit pneumococcal. Vaksin adalah perlindungan terbaik melawan penyakit-penyakit ini
yang sering menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, meningitis, kanker hati, infeksi dalam
aliran darah dan bahkan kematian.

3. Mengapa imunisasi dilakukan pada waktu bayi? Bukankah lebih aman kalau menunggu sampai mereka lebih besar?
Imunisasi diberikan pada anak-anak karena pada saat inilah mereka lebih rawan terhadap beberapa penyakit.  Bayi yang baru lahir kebal terhadap beberapa penyakit karena mereka memiliki antibodi yang mereka dapat dari ibu. Namun kekebalan ini hanya bertahan sampai umur 1tahun. Selain itu, anak-anak umumnya tidak punya kekebalan maternal terhadap diphtheria, pertussis, polio, tetanus, hepatitis B ataupun Hib. Jika seorang anak tidak memperoleh imunisasi dan terpapar kuman pembawa penyakit, badan anak tersebut mungkin tidak akan kuat untuk melawan penyakit tersebut.  Sistem kekebalan tubuh bayi lebih siap untuk merespon kehadiran sedikit antigen yang sudah dilemahkan dan dibunuh dalam vaksin. Bayi memiliki kapasitas untuk merespon kehadiran antigen asing, bahkan sebelummereka lahir.

4. Saya pernah mendengar orang-orang membicarakan vaksin “simultan” dan “kombinasi”. Apa artinya? Kenapa  pemberian imunisasi seperti itu?
Imunisasi simultan (“Simultaneous vaccination”) adalah pemberian imunisasi ketika lebih dari satu vaksin diberikan dalam satu kali kunjungan dokter, biasanya di bagian tubuh berbeda (contoh: satu di masing-masing lengan atau paha). Vaksin kombinasi (“combination
vaccine”) terdiri dari dua atau lebih vaksin terpisah yang telah dijadikan satu dalam satu kali suntik.
Vaksin kombinasi telah digunakan di Amerika Serikat sejak pertengahan 1940-an. Contoh vaksin kombinasi yang sekarang digunakan adalah: DTap (Diphteria-Tetanus-Pertussis), trivalent IPV (3 strain
polio yang telah dilemahkan), MMR (measles-mumps-rubella), DTaP-Hib dan Hib-HepB.  Ada dua faktor praktis yang mendukung pemberian imunisasi simultan pada anak dalam satu kali kunjungan. Pertama, kami ingin memberikan imunisasi pada anak secepatnya supaya mereka terlindungi pada awal-awal bulan kehidupan mereka. Kedua, memberikan beberapa vaksin pada saat yang bersamaan berarti mengurangi kunjungan dokter dan ini menghemat waktu dan uang orang tua, bahkan dapat mengurangi trauma pada anak.

5. Apakah imunisasi simultan aman dilakukan? Bukankah lebih aman untuk memisahkan vaksin dan memberikan jeda yang cukup antar pemberian vaksin sehingga imunisasi hanya untuk satu penyakit sekali datang ke dokter?
Data ilmiah yang ada menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan menggunakan lebih dari satu vaksin tidak memilik efek yang membahayakan sistem kekebalan tubuh anak normal. Sejumlah riset telah dilakukan untuk meneliti efek dari pemberian berbagai macam vaksin secara simultan dan hasilnya membuktikan bahwa vaksin yg direkomendasikan sama-sama efektif baik diberikan sendiri maupun simultan, dan kombinasi-kombinasi itu tidak memiliki resiko lebih tinggi untuk efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian imunisasi simultan untuk semua imunisasi rutin anak-anak bila memungkinkan.   Benefit lain dari vaksin kombinasi adalah berkurangnya jumlah suntikan imunisasi dan trauma pada anak. Selain itu, merentangkan waktu imunisasi dan memberikannya
satu demi satu dapat memposisikan anak rawan terhadap penyakit yang berbahaya, padahal situasi ini dapat dihindari.

6. Dapatkah begitu banyaknya imunisasi yang  diberikan kepada anak pada umur yang begitu muda  justru menekan sistem kekebalan tubuh anak sehingga malah tidak berfungsi dengan benar?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian imunisasi yang direkomendasikan pada waktu kecil dapat meng- “overload” sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, sejak bayi baru lahir, mereka telah terpapar pada berbagai bakteria dan virus tiap harinya. Makanan membawa bakteria baru ke dalam tubuh, berbagai macam bakteria hidup di dalam mulut dan hidung dan anak kecil memasukkan tangan atau benda lain ke dalam mulutnya beratus-ratus kali tiap jam nya sehingga sistem kekebalan tubuh terekspos pada antigen-antigen lainnya. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) mengekspos seorang anak terhadap 4-10 antigen, dan dalam kasus “strep throat” sampai 25-50 antigen.  Imunisasi yang diberikan dalam dua tahun pertama kehidupan dianalogikan seperti “tetesan hujan di lautan kuman dan antigen yang sistem kekebalan tubuh seorang anak temui dalam lingkungan tiap harinya dan sistem kekebalan tubuh itu sukses melawan kuman-kuman  tersebut.” (Vaccine Education Center, Children’s of Philadelphia.

http://www.vaccine.chop.edu/concerns.shtml#question4)

References
Tortora GJ, Anagnostakos NP. Principles of Anatomy and
Physiology, 3rd ed. Harper and Row Publishers, New
York, 1981.

Whitney EN, Hamilton EMN, Rolfes SR. Understanding
Nutrition, 5th ed. West Publishing Company, St. Paul,
Minn., 1990.

kejang demam Juni 20, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Kejang demam adalah kejang pada saat terjadi demam tinggi, muncul dalam fase 24 jam pertama. Kejang demam tidak bias dicegah, dan tidak hanya terjadi di suhu tinggi. Kejang demam dapat muncul berulang bila ada riwayat kejang di rumah.

Treatment kejang demam :

Ø Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak

Ø Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas

Ø Jangan memegangi anak untuk melawan kejang

Ø Sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan
penanganan khusus

Ø Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera
dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan anak
untuk dibawa ke fasilitas kesehatan jika kejang masih berlanjut setelah
5 menit. Ada pula sumber yang menyatakan bahwa penanganan lebih baik
dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit

Ø Setelah kejang berakhir (jika <10 menit), anak perlu dibawa
menemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan
leher, muntah-muntah yang berat, atau anak terus tampak lemas

Mencemaskan Tayangan Anak Di TV Juni 5, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Selasa, 3 Juni 2008 | 20:34 WIB
PELANGGARAN tindak kekerasan tidak hanya terjadi di kawasan Monumen Nasionas (Monas), tetapi juga telah mendarah daging di program-program tayangan anak di stasiun televisi nasional di Indonesia. Bahkan sekurangnya 20 tayangan anak melakukan pelanggaran terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS).

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Don Bosco Selamun, mengemukakan hal itu menjawab Kompas, Selasa (3/6) di Jakarta. Dari kajian yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia setiap bulan sejak satu setengah tahun terakhir terhadap program-program tayangan anak di stasiun-stasiun televisi nasional, umumnya banyak pelanggaran P3-SPS, karena mengandung unsur kekerasan, unsur mistik, pornografi, dan memberi contoh buruk pada anak, ungkapnya.

Don Bosco menjelaskan, KPI melakukan kajian terhadap tayangan anak itu karena banyak keluhan dari para orangtua, kalangan pendidikan, dan masyarakat luas. Ada empat kategori pelanggaran, pertama mengandung unsur kekerasan, seperti misalnya menampilkan kekerasan secara berlebihan sehingga menimbulkan kesan bahwa kekerasan adalah hal lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagi pelaku dan korbannya (pasal 29).

Kekerasan dalam hal ini tidak saja dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal seperti memaki dengan kata-kata kasar (pasal 62 e). Kedua, karena mengandung unsur mistik yang bersumber dari pasal 63 F SPS yaitu menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual masis mistik atau kontak dengan ruh. Sedangkan kelompok ketiga, pelanggaran yang mengandung unsur pornografi, termasuk di dalamnya menampilkan cara berpakaian siswa dan guru yang menonjolkan sensualitas (pasal 14 d), menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, baik bergerak atau diam (pasal 27 ayat 1) dan menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar (pasal 13 ayat 1).

Keempat, kategori pelanggaran tayangan anak yang mengandung unsur perilaku negatif. Seperti misalnya menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru (pasal 63 e) dan menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok dalam tayangan anak (pasal 16 b).

Di sela-sela penjelasannya, Don Bosco juga memperlihatkan cuplikan tayangan-tayangan anak yang melakukan pelanggaran itu, baik pada film kartun, sinetron anak, film fiksi nonkartun. Serta program pendidikan dan kuis. ” Pada bulan April 2008, misalnya, terdapat 47 program tayangan anak setiap minggu dengan durasi tayang rerata 30 menit plus iklan. Namun, yang dianalisis hanya 11 tayangan anak di tujuh stasiun televisi, ” katanya, sembari minta dirahasiakan dulu nama/judul program tayangan anak itu, karena KPI belum memberikan surat teguran.

Menurut Don Bosko, tayangan anak yang dianalisis tidak hanya dari aspek tampilan visual, tetapi juga aspek percakapan (narasi), dan nilai pendidikan, mencakup informasi, moral, dan perilaku positif. Dari aspek visual, terdapat 13 poin kriteria pelanggaran yang mengacu pada P3 – SPS KPI, yaitu menayangkan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak, menayangkan adegan yang memperlihatkan perilaku atau situasi yang membahayakan yang mudah atau mungkin ditiru anak, menayangan adegan yang menakutkan atau mengerikan, menayangkan penggunaan senjata tajam atau senjata api untuk melukai orang lain.

Kemudian, menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru, menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual magis, mistik atau kontak dengan ruh. Menampilkan anak-anak berpakaian minim, bergaya dengan menonjolkan bagian tubuh tertentu atau melakukan gerakan yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual.

Menayangkan adegan ciuman atau mencium yang eksplisit dan didasarkan atas hasrat seksual. Menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, eksploitasi bagian-bagian tubuh yang dianggap membangkitkan birahi. Juga menayangkan perilaku berpacaran saat anak-anak. Menayangkan adegan yang menggambarkan atau mengesankan aktivitas hubungan seks. Menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok, dan menampilkan perbuatan antisosial (tamak, licik, brbohong) tanpa sanksi.

Dari aspek narasi, KPI menemukan empat pelanggaran, yaitu memaki dengan kata-kata kasar, menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar. Mengejek atau menghina seseorang menggunakan kata-kata yang merendahkan, dan mengolok-olok atau menertawakan kelompok masyarakat tertentu bertujuan melecehkan.

“Sedangkan analisis dari aspek pendidikan, pada tayangan anak itu tidak mengandung muatan informasi atau pengetahuan. Tidak mengajarkan perilaku positif, tidak mengajarkan nilai-nilai atau pesan moral yang baik,” papar Don Bosko Selamun.

Sumber : Kompas

Dikutip dari kiriman email ghozansehat@yahoo.com di milis sehat

Infeksi Di RS Mengancam Pasien Juni 5, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Infeksi di Rumah Sakit Mengancam Pasien
Rabu, 4 Juni 2008 | 16:16 WIB
RUMAH sakit sebagai tempat perawatan dan penyembuhan pasien ternyata rentan
bagi terjadinya infeksi penyakit. Infeksi di rumah sakit (Health-care
Associated Infections/HAIs) merupakan persoalan serius karena dapat
menimbulkan kematian pasien.

Menurut keterangan Direktur Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan Farid W Husain saat peluncuran kampanye pengendalian infeksi
nosokomial di Jakarta, Rabu (5/6), kasus infeksi di rumah sakit (nosokomial)
pada pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia saat
ini diperkirakan mencapai sembilan persen.

“Artinya kasus infeksi semacam ini dialami oleh lebih dari 1,4 juta pasien
rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia,” ungkapnya

Di Indonesia, menurut Farid, sejauh ini belum ada data akurat tentang angka
infeksi nosokomial nasional meski sudah sejak lama mengetahui dan melakukan
upaya untuk mencegah dan mengendalikan masalah kesehatan tersebut.

“Di sini juga ada. Hanya belum ada yang mengeluarkan datanya. Karena itu,
selama kampanye diharapkan data-data sekalian bisa dikumpulkan, ” katanya.

Masalah infeksi di rumah sakit, lanjut Farid, adalah persoalan serius karena
bisa menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien.
Kalaupun tak berakibat kematian, infeksi yang bisa terjadi melalui penularan
antar pasien, dari pasien ke pengunjung atau petugas dan dari petugas ke
pasien itu bisa mengakibatkan pasien dirawat lebih lama sehingga pasien
harus membayar biaya rumah sakit lebih banyak.

Oleh karena itu, katanya, kejadian infeksi nosokomial harus ditekan hingga
seminimal mungkin dengan menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian
infeksi yang tepat.

“Supaya tidak ada lagi infeksi, semua yang ada di rumah sakit harus tahu
cara mencegah dan mengendalikannya, baik itu perawat, dokter, petugas
laboratorium, penjaga, pasien, maupun pengunjungnya, ” kata Farid.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petugas
kesehatan akan ancaman infeksi nosokomial mulai tahun ini Departemen
Kesehatan melakukan kampanye dengan memberikan pendidikan dan pelatihan
pengendalian infeksi di rumah sakit bagi tenaga kesehatan di rumah sakit.

Pada tahap awal, kampanye yang akan dilakukan bekerja sama dengan MRK
Diagnostics dan The Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit
(GTZ) itu dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di 100 rumah
sakit selama Juni 2008-Oktober 2009.

“Target awalnya 100 rumah sakit, dan selanjutnya ini akan dilakukan terus
menerus di seluruh rumah sakit,” katanya.

Ia menambahkan, Departemen Kesehatan dalam hal ini telah menetapkan Rumah
Sakit Umum Pendidikan (RSUP) Adam Malik Medan, RSUP dr.Hasan Sadikin
Bandung, RSUP dr Sardjito Yogyakarta, RSUP dr.Sutomo Surabaya dan RSUP
Sanglah Denpasar sebagai pusat pelatihan regional pencegahan dan
pengendalian infeksi.

AC
Sumber : Antara

Diambil dari Kompas.com

Dikutip dari kiriman email ghozansehat@yahoo.com di milis sehat