jump to navigation

Upaya Penyelamatan Gizi Pada Susu September 17, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

Oleh : Prof Dr Ir Made Astawan MS

Susu merupakan sumber gizi terbaik bagi mamalia yang baru dilahirkan. Susudisebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena kandungan zat gizinya yang lengkap. Selain air, susu mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim-enzim, gas serta vitamin A, C dan D dalam jumlah memadai. Manfaat susu merupakan hasil dari interaksi molekul-molukel yang terkandung di dalamnya.

Susu segar merupakan cairan yang berasal dari kambing sapi sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum
mendapat perlakuan apapun (SNI 01-3141-1998). Dalam prakteknya sangat kecil peluang kita untuk mengonsumsi susu segar definisi SNI tersebut di atas. Umumnya susu yang dikonsumsi masyarakat adalah susu olahan baik dalam bentuk cair (susu pasteurisasi, susu UHT) maupun susu bubuk.

Susu pasteurisasi merupakan susu yang diberi perlakuan panas sekitar 63-72 derjat Celcius selama 15 detik yang bertujuan untuk membunuh bakteri patogen. Susu pasteurisasi harus disimpan pada suhu rendah (5-6 derjat Celcius) dan memiliki umur simpan hanya sekitar 14 hari.

Susu UHT (ultra high temperature) merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat(135-145 derjat Celcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupunpatogen) dan spora. Waktu
pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya.

Susu bubuk berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer. Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar.

Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder) (SNI 01-2970-1999).

Proses Susu UHT

Susu cair segar UHT dibuat dari susu cair segar yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat singkat untuk membunuh seluruh mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat baik. Secara kesuluruhan faktor utama penentu mutu susu UHT adalah bahan baku, proses pengolahan dan pengemasannya. Bahan baku susu UHT cair segar adalah sususegar yang memiliki mutu tinggi terutama dalam komposisi gizi.

Hal ini didukung oleh perlakuan pra panen hingga pasca panen yang terintegrasi. Pakan sapi harus diatur agar bermutu baik dan mengandung zat-zat gizi yang memadai, bebas dari antibiotika dan bahan-bahan toksis lainnya. Dengan demikian, sapi perah akan menghasilkan susu dengan komposisi gizi yang baik. Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara pemerahan yang benar termasuk di dalamnya adalah pencegahan kontaminasi fisik dan mikrobiologis dengan sanitasi alat pemerah dan sanitasi pekerja. Susu segar yang baru diperah harus diberi perlakuan dingin termasuk transportasi susumenuju pabrik.

Pengolahan di pabrik untuk mengkonversi susu segar menjadi susu UHT juga harus dilakukan dengan sanitasi yang maksimum yaitu dengan menggunakan alat-alat yang steril dan meminimumkan kontak dengan tangan. Seluruh proses dilakukan secara aseptik.

Susu UHT dikemas secara higienis dengan menggunakan kemasan aseptik multilapis berteknologi canggih, Kemasan multilapis ini kedap udara sehingga bakteri pun tak dapat masuk ke dalamnya. Karena bebas bakteri
perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya ultra violet tak akan mampu menembusnya dengan terlindungnya dari sinar ultra violet maka kesegaran susu UHT pun akan tetap terjaga.

Setiap kemasan aseptik multilapis susu UHT disterilisasi satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu. Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar kesehatan internasional.

Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptik multilapis menjamin susu UHT bebas bakteri dan tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah
diproduksi.

Keunggulan Susu UHT

Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang pada suhu kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari
umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHTmerupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah.

Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama vitamin dan protein. Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk.

Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut menyebabkan menurunnya daya cerna protein.

Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L. Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh.

Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu. Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.

Tip Penggunaan Susu UHT

Apabila kemasan susu UHT telah dibuka, maka susu tersebut harus disimpan pada refrigerator. Susu UHT harus dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50 derjat Celcius) karena dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel akibat kerusakan protein.

Kerusakan susu UHT sangat mudah dideteksi secara visual, ciri utama yang umum terjadi adalah kemasan menggembung. Gembungnya kemasan terjadi akibat kebocoran kemasan yang memungkinkan mikroba-mikroba
penbusuk tumbuh dan memfermentasi susu. Fermentasi susu oleh mikroba pembusuk menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan gembung.

Kerusakan juga ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga menghasilkan alkohol dan asam-asam organik yang menyebabkan susu menjadi berflavor dan beraroma masam.

Hindari mengkonsumsi susu UHT yang telah mengental. Fermentasi susu oleh bakteri pembusuk juga pembusuk juga menyebabkan koagulasi dan pemecahan protein akibat penurunan pH oleh asam-asam organik. Koagulasi dan pemecahan protein inilah yang menyebabkan tekstur susu rusak yaitu menjadi pecah dan agak kental. (sh)

Sumber :
http://www.waspada.co.id/pustaka_serbi/kesehatan/artikel.php?article_id=61177

SALAH ANTIBIOTIK MEMBUAT BAYI SERING SAKIT September 17, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

Masalahnya, antibiotik bisa menimbulkan resistensi kuman dan mengurangi imunitas.

“Dok, saya bingung, bayi saya ini, kok, sering sekali bolak-balik berobat karena penyakit yang sama, flu dan flu dan flu,” kata seorang ayah di ruang praktik dokter spesialis anak, yang segera dilanjutkan oleh istrinya,
“Iya, Dok. Padahal bayi saya ini sudah diperlakukan sesuai dengan apa yang dokter sarankan, diberi ASI eksklusif, saya makannya sudah 4 sehat 5 sempurna yang dimasak matang, kebersihan kamar dan rumah oke, begitu juga dengan ventilasi udara dan cahaya, sudah sesuai standar kesehatan internasional, deh.”

Sebelum si dokter sempat menjawab, si ibu kembali berkata, “Oh, ya, Dok, di rumah saya tidak ada perokok, pendingin udara di kamar dipatok pada suhu 25 derajat celcius, setiap pagi AC dimatikan dan membuka jendela lebar-lebar. Juga tak hanya antibiotik, semua obat yang diberikan dokter selalu dihabiskan seperti apa kata dokter.”

Sambil menulis resep, si dokter menanggapi, “Bu-Pak, kita semua ini manusia yang masih sedikit sekali ilmunya. Jadi pertahankan apa yang telah disebutkan Bapak dan Ibu tadi. Sekarang kita coba dulu dengan obat yang ini, mudah-mudahan berhasil.”

“Basi!” Mungkin pernyataan ini yang akan keluar dari mulut si bapak dan ibu tadi. Mungkin juga kita akan mengucapkan hal yang sama, jika hal itu-itu saja yang dikemukakan dokter setiap kali kita mempertanyakan kenapa si kecil harus sakit saban minggu.

GARA-GARA ANTIBIOTIK

Menurut Prof. Iwan Darmansjah, MD, SpFK., bayi seharusnya ditakuti oleh penyakit alias jarang sakit. Mengapa? “Karena bayi masih dibentengi imunitas tinggi yang dibawanya dari dalam kandungan, juga diperoleh dari air susu ibunya. Jadi, penyakit sehari-hari seperti flu úyang ditandai panas, batuk, pilek-, penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman, seharusnya dapat ditolak bayi dengan baik,” papar senior konsultan Pusat Uji Klinik Obat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (PUKO FKUI) ini.

Karenanya, jika bayi hampir saban minggu atau sebulan bisa dua kali bahkan lebih berobat ke dokter, lanjut Iwan, “Tentu akan timbul pertanyaan besar. Apakah ada yang salah dari lingkungan, apakah ada yang salah pada tubuh si bayi, ataukah dokter yang salah mendiagnosa. ”

Iwan berpendapat, jika bayi berobat ke dokter karena flu hanya sesekali dalam kurun waktu 6-12 bulan, masih terbilang wajar. Tetapi kalau sudah setiap 2-3 minggu sekali harus pergi berobat ke dokter, maka tak bisa dikatakan wajar lagi. “Kondisi ini bisa terjadi újika tak ada faktor penyulit serta sudah menghindari faktor pencetusnya- , kemungkinan besar karena si bayi selalu mengonsumsi antibiotik yang diresepkan dokter setiap dia sakit,” ungkapnya. Padahal, tidak semua penyakit yang dialami bayi, apalagi flu, harus diobati dengan antibiotik. Sekalipun antibiotiknya itu dalam dosis, takaran, atau ukuran yang sudah disesuaikan dengan usia, berat dan tinggi badan si bayi.

FATAL AKIBATNYA

Penting diketahui, antibiotik baru ampuh dan berkhasiat jika berhadapan dengan bakteri atau kuman. Antibiotik tak akan mampu membunuh virus juga parasit. “Nah, kejadian demam karena flu itu, kan, sekitar 90%, bahkan 95% disebabkan oleh virus. Jadi, salah kaprah sekali jika bayi flu harus minum antibiotik karena tak akan menyelesaikan masalah, apalagi menyembuhkan penyakit si bayi,” bilang Iwan. Kesalahkaprahan pemberian antibiotik ini akan ditebus mahal oleh bayi, yakni menurunkan imunitas tubuh si bayi. Makanya tak heran jika bayi yang setiap sakit demam selalu minum antibiotik, tidak akan lebih dari satu bulan pasti sakit kembali.

Lebih jauh lagi, antibiotik tak memperlihatkan efektivitasnya langsung terhadap tubuh manusia seperti obat lain, tetapi melalui kemampuannya untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman. Nah, kalau tidak ada kuman jahat untuk dibunuh ia justru membunuh kuman yang baik, dan ini merupakan efek sampingnya. Selain itu antibiotik bisa menimbulkan resistensi kuman dan mengurangi imunitas anak terhadap virus dan kuman. Meski resistensi kuman merupakan fenomena yang logis alamiah, tapi menurut Iwan, pemakaian antibiotik yang berlebihan dan tidak rasional bisa mempercepat resistensi kuman pada tubuh pasien.

Reaksi lain yang bisa dilihat karena pemberian antibiotik adalah timbul demam, reaksi alergi, syok, hingga yang terparah yaitu kematian, karena si bayi tak tahan terhadap antibiotik yang dikonsumsinya. “Jangankan bayi, orang dewasa saja bisa meninggal jika dia tidak tahan antibiotik yang diminumnya,” tambah Iwan.

PENGGUNAANNYA HARUS TEPAT

Lain ceritanya, lanjut Iwan, jika bayi terkena penyakit yang disebabkan kuman atau bakteri. Sekalipun tida wajib, bayi boleh saja menjalani terapi antibiotik untuk kesembuhannya. “Tentu harus dengan antibiotik yang sesuai untuk penyakit yang dideritanya. ” Jadi, antibiotik yang diberikan harus tepat dengan jenis mikroorganisme penyebab penyakit. Kalau tidak, maka penyakit tak akan sembuh. Sebagai contoh, seperti dipaparkan Iwan, untuk mengobati bisul bisa digunakan Dicloxacillin, Flucloxacillin atau Eritromisin, Spiramisin, Roxithromisin, dan sejenisnya. Untuk mengobati radang paru-paru dapat digunakan antibiotik Penicillin G (injection) dan seturunan Eritromisin di atas. “Tetapi bayi dan anak tak boleh mengonsumsi antibiotik Moxifloxacin untuk mengobati radang paru-parunya, kecuali orang dewasa.” Sedangkan untuk mengobati tifus bisa menggunakan Kloramfenicol atau Ciprofloxacin. Khusus untuk bayi dan anak, jika tak tahan Kloramfenicol, maka dapat diberikan Ciprofloxacin.

Selain itu, pemberian antibiotik juga harus tepat dosisnya, tak boleh lebih ataupun kurang. Untuk ukuran dosis, tiap bayi berbeda-beda, tergantung seberapa parah penyakitnya, riwayat kesehatannya, hingga berat dan panjang badan si bayi. Terakhir, harus tepat pula kapan antibiotik itu diminumkan pada si bayi, berapa jam sekali, biasanya sebelum makan, dan boleh dicampur obat lain atau tidak. Yang perlu diperhatikan, penggunaan antibiotik tak melulu dengan cara diminum (per oral), tetapi ada pula yang lewat jalur injeksi.

Karena itu, jangan sekali-kali memberi antibiotik sendiri tanpa sepengetahuan dan resep dari dokter. “Ingat itu berbahaya dan percuma, karena hanya dokter yang tahu antibiotik A adalah untuk mengobati kuman yang peka terhadap A,” tandas Iwan. Hal penting lainnya, antibiotik harus dikonsumsi hingga habis supaya mikroorganisme yang menjadi sasaran antibiotik dapat dimusnahkan secara tuntas. Bila tak dihabiskan, kemungkinannya mikroorganisme tersebut akan menjadi kebal terhadap pemberian antibiotik sehingga penyakit tidak sembuh tuntas.

MENGGANGGU FUNGSI GINJAL

Penggunaan antibiotik yang tak perlu, ujar Dr. rer. nat. Budiawan dari Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan (PUSKA RKL) UniversitasIndonesia, bisa menyebabkan timbulnya kekebalan mikroorganisme terhadap antibiotik yang diberikan tersebut. Sehingga, jika timbul penyakit akibat mikroorganisme yang sudah kebal tersebut, pemberian antibiotik biasa tak akan mampu menyembuhkan penyakit tersebut sehingga harus dicari antibiotik yang lebih ampuh.

Selain itu, mengonsumsi antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh bakteri yang justru diperlukan tubuh, dan bisa terjadi gangguan sistem biokimia dalam tubuh. Efek lainya, bisa mengganggu sistem ekskresi tubuh, “Dalam hal ini gangguan terhadap fungsi ginjal, mengingat bahan aktif utama senyawa antibiotik tertentu bersifat nefrotoksik atau racun bagi fungsi sistem ginjal.”

KENAPA DOKTER “MENGOBRAL” ANTIBIOTIK?

Sekalipun dampaknya sudah jelas merugikan pasien, namun tetap saja masih banyak dokter meresepkan antibiotik padahal jelas-jelas penyakit yang diderita si bayi bukan lantaran kuman. Menurut Iwan, hal ini dikarenakan perasaan tidak secure seorang dokter dalam mengobati pasiennya. Walau begitu, Iwan tetap tak setuju. “Kalau boleh terus terang, hingga sekarang saya juga bingung dan tak bisa mengerti, kenapa banyak sekali dokter yang berbuat sebodoh itu, pada anak-anak lagi,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bohong besar, tambah Iwan, jika dokter mengatakan kepada pasienya, penyakit flu atau pilek yang dideritanya akan bertambah parah jika tak diobatidengan antibiotik. Karena itu, sebagai pasien atau orang tua pasien harus berani dengan tegas menolak, “No antibiotik, jika penyakit yang kita derita bukan karena bakteri.” Penolakan seperti ini adalah hak pasien, lo.

APA, SIH, SEBENARNYA ANTIBIOTIK ITU?

Antibiotik dibuat sebagai obat derivat yang berasal dari makhluk hidup atau mikroorganisme,yang dapat mencegah pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. “Antibiotik diperoleh dari hasil isolasi senyawa kimia tertentu yang berasal dari mikroorganisme seperti jamur, actinomycetes, bakteri. Hasil isolasi tersebut dikembangkan secara sintetik kimia dalam skala industri,” kata Budi. Akan tetapi, tidak semua makhluk hidup dapat dijadikan antibiotik,

karena antibiotik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Harus efektif pada konsentrasi rendah.
2. Harus dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh satu atau lebih jenis mikroorganisme.
3. Tidak boleh memiliki efek samping bersifat toksik yang signifikan.
4. Harus efektif melawan patogen.
5. Harus dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan aktivitasnya.
6. Harus dapat dieliminasi dari tubuh secara sempurna setelah pemberian dihentikan.
7. Harus bersifat sangat stabil agar dapat diisolasi dan diproses dalam dosis yang sesuai, sehingga segera dapat diserap tubuh.

di tulis oleh Gazali Solehudin/ majalah NAKITA

ANTIBIOTIK

Antibiotik? Siapa Takut?
Mungkin begitulah kira2 pikiran kebanyakan pasien Indonesia ketika diberi resep oleh dokternya ketika berobat…karena sudah seringnya diberi AB, kita langsung aja meminumnya tanpa mempertanyakan dahulu apakah benar kita perlu AB? Lalu kapan sih kita perlu dan kapan tidak? Summary ini membahas dengan singkat apa itu AB dan beberapa topik yang berhubungan. ….

Apa itu AB?

AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan, : 1. produk alami, 2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa perubahan agar lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas jenis bakteri yang dapat dibunuh, 3. full sintetik.

Jenis AB:

1. Narrow spectrum, Berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik. Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).

2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

Bakteri
Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada) umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Biasanya, infeksi yang disebabkan oleh gram (+) lebih mudah dilawan. Didalam tubuh kita banyak sekali terdapat bakteri, bahkan salah satu kandungan ASI adalah bakteri. Jadi, sebenarnya, kebanyakan bakteri tidaklah “jahat”. Manfaat bakteri diusus kita adalah:
1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. memproduksi vitamin B & K.
3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.
4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi) .
5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Sekarang kita tahu manfaatnya, jadi jangan lagi minum AB tanpa alasan yang jelas, karena hal ini akan membunuh bakteri yang baik tersebut.

Virus
Walaupun sesama mikro-organisme, virus ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bakteri. Mereka berkembang biak dengan mengunakan sel tubuh kita, jadi virus akan mati bila berada diluar tubuh. Catatan
penting: virus tidak dapat dibunuh oleh obat dan AB sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita, salah satunya adalah dengan demam. Demam
merupakan bagian dari sistem daya tahan tubuh yang bermanfaat untuk membasmi virus, karena virus tidak tahan dengan suhu tubuh yang tinggi. Jadi apabila anak/anda mengalami demam, sebaiknya tidak diobati apabila suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Untuk petunjuk lebih lanjut, buka e-mail terdahulu yg membahas demam.

When AB doesn’t work?
Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu
1. Demam, 2. Radang tenggorokan, 3. Diare.

Padahal, sebenarnya,
penggunaan AB untuk kondisi diatas tidaklah tepat dan tidak berguna. Dibawah ini petunjuk kapan AB tidak bekerja:
1. Colds & Flu
2. Batuk atau bronchitis
3. Radang tenggorokan
4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan menguntungkan, bahkan merugikan dan membahayakan.

When do we need AB?
Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan membutuhkan terapi AB:
1. Infeksi saluran kemih
2. Sebagian infeksi telinga tengah atau biasa disebut otitis media
3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala, pembengkakan di daerah wajah)
4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami r adang tenggorokan karena kuman ini)

How do I know this is bacterial infection?
Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek samping yang paling sering terjadi.
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim, sefalsporoin & eritromisin.
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya kloramfenikol.
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid) .
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB.

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya:
1. Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur. Kondisi ini disebut juga sebagai “superinfection” .
2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap AB, biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis AB yang lebih kuat. Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, maka suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana infeksi yang diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati sehingga angka kematian
akan drastis melonjak naik.

Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit. The less you consume AB, the less frequent you get sick.

Inappropriate AB Use
Berjuta2 resep ditulis yang mencantumkan AB untuk infeksi virus, padahal kita semua tahu AB tidak berguna untuk memerangi virus. Ada 3 alasan mengapa apparopriate use of AB ini terjadi, yaitu:
1. Diagnostic uncertainty.
2. Time pressure.
3. Patient Demand.”People don’t want to miss work or they have a sick child who kept the family up all night and they’re willing to try anyhing that might work”. It’s easier for the physician to give AB than to explain
why it might be better not to use it.

Benar, seringkali kitapun sebagai pasien juga berperan didalam AB irrational use ini. Sudah terbentuk persepsi didalam pasien Indonesia, dimana kita beranggapan bahwa kalau pulang dari kunjungan dokter itu
harus membawa resep. Malah akan aneh kalau kita tidak pulang dengan membawa resep. Hal ini justru mendorong dokter untuk meresepkan AB ketika tidak diperlukan. Sebaiknya sikap ini sedikit demi sedikit kita hilangkan.

How Can We Help?
1. Rubah sikap kita ketika berkunjung ke dokter dengan menanyakan; Apa penyebab penyakitnya? bukan apa obatnya.
2. Jangan sedikit2 minta dokter untuk meresepkan AB. Jangan mengkonsumsi AB untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi tsb. tanya dokter bagaimana cara meringankan gejalanya, tetapi tidak dengan AB.
3. Tidak mempergunakan Desinfektan dirumah, cukup dengan air dan sabun. Hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit dengan daya tahan tubuh rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis, pemakaian steroid jangka panjang, dll.).

Battle of the Bugs: Fighting AB Resistance
Masalah bakteri yang kebal terhadap AB (AB resistance) ini telah menjadi masalah global dan sudah sejak beberapa dekade terakhir dunia kedokteran mencanangkan perang terhadap AB resistance ini.
Ada petunjuk yang dapat dilakukan untuk perihal pemakaian AB yang rasional, yaitu:
1. Kurangi pemakaian AB, jangan menggunakan AB untuk infeksi virus.
2. Gunakan AB hanya bila benar2 diperlukan dan mulailah dengan AB yang ringan atau narrow spectrum.
3. Untuk infeksi yang ringan (infeksi saluran nafas, telinga atau sinus) yang memang perlu AB, gunakan AB yang bekerja terhadap bakteri gram (+).
4. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi dibawah diafrgma, seperti infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, prneumonia, meningitis bakteri) pilih AB yang juga membunuh kuman gram (+).
5. Hindari pemakaian lebih dari satu AB, kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.
6. Hindarkan pemakaian salep AB, kecuali untuk infeksi mata.

Rule fo Thumb
Bila anda memperoleh terapi AB, pertanyakanlah hal2 berikut:
1. Why do I need AB?
2. Apa yang dilakukan AB?
3. Apa efek sampingnya?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?
5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan?
6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?
7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau makanan, dll.

Final Message
Sebagai konsumen kesehatan yang bertanggung jawab, sebaiknya kita juga berperan aktif dengan cara menggali dan mempelajari pengetahuan dasar ilmu kesehatan. Dengan begitu kita akan menjadi konsumen kesehatan yang smart and critical. So, semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan dasar ilmu kesehatan para pembaca.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang pemakaian AB. Sebaliknya kita harus mengetahui bagaimana pemakaian AB yang benar dan tepat karena justru AB yang irrational akan menyebabkan AB menjadi impotent atau kehilangan manfaatnya.

Antibiotics save lives, therefore we also have to save Antibiotics.

ditulis Dr. Purnamawati Sp A, seorang dokter spesialis anak dan pengasuh milis kesehatan

__._,_.___

ANAK KARBITAN September 15, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

ANAK KARBITAN

Anak-anak yang digegas

Menjadi cepat mekar

Cepat matang

Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat.

Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia
pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market I

Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidaktahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak.  Di antaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan  intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi  pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun
usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang.

Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ? James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya
sejak si anak masih benapa janin.

Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat

berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan

State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam
kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einsten yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki
kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super
(Superkids).

Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi
sekarang dimana-mana, di Indonesia… .

“Early Ripe, early Rot…!”

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1960 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak¬Kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada lahun 1960, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development” .

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD.

Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness ” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limitations on learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-¬anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi “miniature orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa.

Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak-anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak lumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiriyang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa.

Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku
anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child I’M NOBODY’S CHILD I’M nobody’s child I’m nobodys child Just like a flower I’m growing wild No mommies kisses and no daddy’s smile Nobody’s touch me I’m nobody’s child

Dampak Berikutnya Terjadi… ketika anak memasuki usia remaja Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan-segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia 0′ Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood’.
” Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, …. sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang
berkarier di luar rumah tidak menuliki waktu banyak dengan anak-anak mereka.

Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknya. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata vang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Ies, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior
di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak¬-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di Iembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya “be special ” daripada “be average or normal sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to exel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Nanun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak
super—“SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”.

Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah…ketika anak-anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan -“miseducation” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya.

Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)

Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK)

Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids “, Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah,

Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS)

Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke
berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia.

Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang. Puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara mata kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa.  Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 26 Mei lalu kita sasikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua  Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat
bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “superkid “–seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film,….

Do-it Yourself Parents

Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah., di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids”- -earlier is better”. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID) Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya.

Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka Iebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya.

Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids ” Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini.

Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)

Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Merceka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

‘Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-¬anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah.

Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman, atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika ” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang ” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 6 Hari ” karangan Sidney Ledson

Encounter Group Parents–(ORTU NGERUMPI)

Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkimpoiannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-¬anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak.

Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan
pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang
diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan “miseducation ” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva.

Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua. Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan
menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mercka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.

Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik !

KAMU HARUS TAHU BAHWA TIADA SATU PUN YANG LEBIH TINGGI, ATAU LEBIH KUAT, ATAU LEBIH BAIK, ATAU PUN LEBIH BERHARGA DALAM KEHIDUPAN NANTI DARIPADA KENANGAN INDAH ¬TERUTAMA KENANGAN MANIS DI MASA KANAK-KANAK. KAMU MENDENGAR BANYAK HAL TENTANG PENDIDIKAN, NAMUN BEBERAPA HAL YANG INDAH, KENANGAN BERHARGA YANG TERSIMPAN SEJAK KECIL ADALAH MUNGKIN ITU PENDIDIKAN YANG TERBAIK. APABILA SESEORANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN INDAH DI MASA KECILNYA, MAKA KELAK SELURUH KEHIDUPANNYA AKAN TERSELAMATKAN. BAHKAN APABILA HANYA ADA SATU SAJA KENANGAN INDAH YANG TERSIMPAN DALAM HATI KITA, MAKA ITULAH KENANGAN YANG AKAN MEMBERIKAN SATU HARI UNTUK KESELAMATAN KITA”-DESTOYEVSKY’S BROTHERS KARAM0Z0V— PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program
akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk.

Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat

menjadi “pengabar isi buku pelajaran ” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan

atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi ? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran ? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang.

Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah— dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk….

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya ! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu
apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak— merupakan `KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?”

“Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasaYanig bertanggungjawab. .. “(Nature versus Nurture).

bagaimana ? Karena ada dua pengertian kompetensi– -= ` kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita-¬sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pebelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :

” Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select–doctor, lawyer, artist,  merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents,
penchants.,; , tendencies, vocations, and race of his ancestors “.

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini ” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1976. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur
“Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill) “dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut :

`The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey’.

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleano Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-¬kompeten si perolehan pengetahuan hanya secara kognitif. Ulah karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran.

Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi
yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja !.

Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan -“curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan ! “Empty Sacks will never stand upright”—George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan
semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru scbagai pendidik akadcmik dan pendidik sanubari “karakter”. Dimana mereka mendidik anak menjadi “good and smart “-terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak
didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak
didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan
berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi
sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang
melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya ber jam
jam untuk belajar anatomi tubuh manusia.

Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1 percent inspiration and 99
percent perspiration “. Semangat belajar —“encourage’ – Tidak dapat muncul
tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati—kesukaan dan

kecintaan— belajar_ Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena
gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karaktcr inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik ….

PENUTUP

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran— “good and smart “— merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya
antara guru dan orangtua.

Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomenayang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era
anak-anak karbitan ! Lihatlah nanti…ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

Hidup itu menciut

Dan mengerdil

Bagaikan selokan kecil

Bila dilepas bebas

la merah menggejolak

Bagaikan dahsyatnva samudera luas

Dewi Utama Faizah*

*Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen
Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan
Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

ASI Lancar Walau Berpuasa Agustus 4, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
1 comment so far

ASI LANCAR WALAU BERPUASA
sumber : tabloid nakita

Jangan khawatir bayi akan kekurangan ASI, karena pada
dasarnya puasa hanya mengubah jadwal makan.

Selama bulan Ramadan, ibu menyusui sebenarnya bebas
memilih untuk berpuasa atau tidak. Jika memilih tidak,
kebanyakan beralasan bahwa puasa sebulan akan
menurunkan produksi ASI. Seperti yang kita tahu, ASI
harus selalu lancar agar dapat memenuhi kebutuhan
nutrisi sang bayi. Alasan lainnya, kegiatan menyusui
yang menguras tenaga akan membuat ibu makin lemas dan
tak kuat berpuasa. Maklumlah, beberapa saat setelah
menyusui biasanya ibu merasa lapar, bukan?

Semua kekhawatiran itu wajar saja adanya, tapi
sebenarnya tak beralasan sama sekali. Seperti
dikatakan dr. Etiza Adi Murbawani, M.Si., secara
klinis, kegiatan puasa hanya mengubah jadwal makan.
Yang berubah hanya waktu makannya saja, kok.
Sementara, asupan makanan yang dikonsumsi ibu menyusui
selama berpuasa bisa dibuat sama dengan saat tidak
berpuasa, yaitu gizi seimbang dengan komposisi 50%
karbohidrat, 30% protein, dan 10-20% lemak.

TAMBAH KALORI

Hanya saja, tambah staf pengajar pada Program Studi
Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
Semarang ini, ibu menyusui membutuhkan kalori yang
lebih besar. “Untuk memproduksi ASI se-banyak 850 cc,
ibu perlu menambahkan kurang lebih 1000 kalori dari
kebutuhan wanita dewasa normal. Semua itu diperlukan
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI,
sekaligus memulihkan kesehatan usai persalinan.”

Dengan berpatokan pada angka kebutuhan tersebut,
selama berpuasa, ibu hanya perlu mengubah jadwal makan
saja. Jika ibu menyusui terbiasa makan dengan porsi
sedikit tapi sering, maka di bulan Ramadan porsi yang
sedikit itu harus ditambah. Alasannya, acara makan
berat di bulan tersebut cuma dilakukan pada saat
berbuka dan sahur. Etiza menganjurkan untuk menyantap
dulu makanan pembuka yang manis-manis guna menghindari
mual. Setelah salat Magrib, barulah mengonsumsi
makanan berat.

Jika ibu tak dapat sepenuhnya menambah porsi dalam
sekali makan, maka yang dapat dilakukan adalah
mengganti satu kali makan berat porsi normal dengan
dua kali makan berat porsi kecil. Caranya, saat
berbuka puasa, mulailah dengan makanan pembuka lalu
salat Magrib. Usai salat Magrib, lanjutkan makan besar
dengan porsi kecil. Setelah itu ibu melakukan salat
Tarawih. Selesai salat, ibu menggenapi makan besarnya
dengan porsi kecil kedua. Dengan demikian, kebutuhan
porsi makannya tetap terpenuhi di waktu berbuka.

PERBANYAK CAIRAN

Sejak waktu berbuka hingga sahur, Etiza menyarankan
agar ibu menyusui banyak-banyak meneguk cairan.
“Cairan itu bisa berasal dari air putih, buah-buahan,
dan susu.”

Khusus susu, Etiza sangat menganjurkan ibu menyusui
untuk mengonsumsinya. Kandungan kalsium pada susu
sangat berguna untuk kebutuhan ibu dan bayi. “Namun,
jangan langsung minum susu begitu tiba waktu berbuka
karena dapat menyebabkan mual. Sebaiknya susu diminum
setelah menyantap makanan kecil. Satu gelas lagi
diminum menjelang tidur malam. Kemudian satu gelas
lagi saat sahur.” Jika tetap terasa mual, disarankan
untuk minum susu kedelai.

BARENGI ISTIRAHAT

Kala berpuasa, jika ibu merasa sangat lemas sehabis
menyusui, maka beristirahatlah. Entah dengan cara
tidur atau sekadar relaks menenangkan pikiran. Ingat,
sukses tidaknya menyusui, salah satunya dibarengi
dengan pikiran yang tenang dan positif. “Kalau ibu
menyusui yang berpuasa yakin tak akan merasa lemas,
maka ia tak akan lemas. Dan jika ia yakin bisa
memberikan ASI selama puasa, maka ASI-nya juga akan
keluar terus.”

Apalagi pengeluaran ASI juga dipengaruhi oleh isapan
bayi. Semakin sering diisap, produksinya akan semakin
banyak. Jadi, bila selama puasa ibu tetap rajin
menyusui, ASI akan tetap lancar.

Menurut Etiza, ASI yang tak keluar penyebabnya lebih
sering berkaitan dengan kondisi psikis ibu semisal
stres. “Justru kalau di bulan puasa ibu banyak
beribadah dan berdoa dengan tenang sembari tetap
menyusui dan yakin kegiatan puasa tak akan menghalangi
pemberian ASI, niscaya kandungan dan jumlah ASI tak
akan berpengaruh pada bayi. ASI tetap akan lancar.”

Ingat lo, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi,
dahulukan kepentingannya. Bagaimanapun, berpuasa bagi
ibu menyusui adalah pilihan. Jika tidak sanggup
menjalaninya, ibu dapat menggantinya dengan bentuk
ibadah yang lain. Namun, jika tetap ingin menjalani
keduanya, ikuti kiat tadi. Kuncinya cuma asupan gizi
yang baik dan tepat, juga pikiran yang positif.
CONTOH MENU DAN JADWAL MAKAN SELAMA PUASA

SAHUR:

* 1 gelas susu

* 1 porsi nasi putih

* 1 porsi ampela ati masak kecap

* 1 porsi urap sayuran

* 2 potong tempe bacem

* Potongan buah mangga atau sebuah jeruk pontianak
ukuran besar

* 3 gelas air putih

BUKA PUASA:

– Pukul 18.00 (setelah bedug tanda buka puasa)

* 1 gelas teh manis

* 1 kroket ragut atau camilan berkarbohidrat

* 1 gelas jus semangka atau jus pepaya

– Pukul 19.00 (setelah salat Magrib)

* 1 gelas susu

– Pukul 20.30 atau 21.00 (setelah salat salat Isya dan
Tarawih), makan malam terdiri atas:

* 1 porsi nasi putih

* 1 porsi daging sapi bumbu bali atau masakan daging,
ayam, dan ikan lainnya

* 2 tahu goreng atau tempe goreng tepung

* 1 porsi tumis kacang panjang dan tauge atau capcay

* 1 buah apel atau pisang

– Pukul 22.00 (menjelang tidur)

* 1 gelas susu

Catatan:

* Tambahan sekitar 300-500 kalori setiap hari dapat
diperoleh dengan cara minum teh manis atau mengonsumsi
makanan pembuka yang manis seperti semangkuk kolak
pisang atau segelas es cendol yang bernilai 280-300
kalori. Dengan begitu, kebutuhan kalori yang sangat
penting bagi ibu menyusui tetap dapat terpenuhi.

* Di waktu berbuka sampai menjelang tidur, ibu
menyusui sebaiknya mengonsumsi air putih sebanyak yang
mampu dilakukan. Begitu pun saat sahur

sehat itu mudah Juli 31, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

Dikutip Dari dialog Bunda Wati dengan dari http://www.perspektif.com

Purnamawati Sujud Pujiarto

Sehat Itu Mudah dan Murah

Edisi 645 | 28 Jul 2008 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga tapi tanya dulu, apa betul butuh obat, berapa obat yang diberikan, karena tidak semua gangguan kesehatan membutuhkan obat termasuk antibiotik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Purnamawati Sujud Pujiarto

Anda mengatakan di media, “Please say no to puyer” (katakan tidak pada obat puyer). Namun kita semua mengetahui bahwa hampir setiap orang saat kesehatannya terganggu selalu berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah obat. Menurut Anda selaku dokter, apakah cara pandang ini sudah benar?

Memang tidak sedikit terjadi kekeliruan di benak kita semua, baik konsumen maupun pemberi jasa layanan kesehatan. Pandangan terhadap obat tadi hanya salah satu bentuk kekeliruan, tetapi masih banyak yang lainnya. Misalnya, kita menganggap kesehatan itu penting setelah jatuh sakit. Padahal justru yang paling penting itu bagaimana menjaga agar kita tetap sehat. Kedua, ketika jatuh sakit sebenarnya hal pertama yang harus ada di benak kita adalah mengapa kita jatuh sakit, apa penyebabnya? Kalau saat ini tidak. Kita batuk maka pergi ke dokter dan meminta obat batuk. Seolah-olah diagnosa itu menjadi tidak penting, yang penting gejalanya hilang. Celakanya, ketika seseorang mempunyai lima atau enam gejala bisa saja dia berakhir dengan polifarmasi karena satu gejala, satu obat. Itu kendala kalau kita terpaku pada gejala bukan mencari penyebab permasalahan.

Tapi sebagian besar pasien-pasien yang datang ke dokter memang ingin cepat sembuh. Apakah memang seakan-akan dikondisikan pasien adalah obyek yang pasif?

Ya, padahal sebagai yang mempunyai badan semestinya pasien adalah pihak yang paling berkepentingan akan kesehatan dirinya. Ironisnya, kalau berbelanja alat elektronik kita jauh lebih kritis ketimbang ketika belanja alat kesehatan. Ketika berbelanja alat elektronik, kita meluangkan waktu lebih banyak, mencari tahu dulu, dan selalu membeli lengkap dengan buku manual. Namun ketika berbelanja alat kesehatan, kita tidak kritis.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kesatu, mungkin karena budaya kita paternalistik. Kedua, memang mungkin budaya paternalistik ini sedikit banyak dibiarkan menjadi subur. Di era informasi ini masyarakat seharusnya dengan mudah bisa mengakses informasi yang benar untuk mengetahui ke mana harus pergi, dan situs-situs mana yang harus dikunjungi. Di sisi lain, layanan kesehatan yang profesional adalah selain etis yang artinya mengedepankan kepentingan pasien, juga harus kompeten yaitu sesuai perkembangan keilmuan karena ilmu senantiasa berkembang.

Namun untuk penyakit-penyakit gangguan harian, misalnya selesma, flu, diare akut tanpa darah, sudah ada panduannya dan tidak ada perubahan yang signifikan. Semestinya semua orang bisa mengatakan kepada pasiennya bahwa itu karena infeksi virus. Infeksi virus disebut sebagai self limiting disease artinya akan sembuh sendiri dan sama sekali tidak memerlukan antibiotik.

Namun di Indonesia beda bahwa karena banyak kumannya, sehingga meskipun infeksi virus tetap diberi antibiotik. Karena itu tingkat peresepan (pemberian resep) antibiotik di Indonesia tinggi sekali. Akhirnya timbul kekeliruan bahwa si A sembuh dari flu karena obat yang diberikan oleh dokter. Akhirnya, menjadi kebiasaan setiap kali mengalami gangguan yang sama meminta obat termasuk minta antibiotik karena dianggap cespleng (manjur). Itu karena kita para dokter kurang meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan. Dokter cenderung menukar proses konsultasi dengan penulisan secarik resep karena menulis resep itu cenderung jauh lebih mudah ketimbang menerangkan, mengedukasi dan menenangkan pasien.

Mengapa itu tidak bisa dilakukan, apakah itu memang sudah menjadi ritual bahwa pasien datang ke dokter untuk melihat dokter menuliskan resep ketimbang mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan mereka?

Ya. Karena itu saya dalam setiap kesempatan selalu mengajak, yuk coba kita merenung, apa sih maknanya datang ke dokter? Apakah untuk meminta obat? Datang ke dokter itu untuk konsultasi karena yang sulit itu adalah untuk menegakkan diagnosis. Ok, kalau flu atau diare akut itu mudah. Tapi kalau kita terbiasa atau terpaku hanya mengobati gejala maka ketika berhadapan dengan suatu penyakit yang agak serius akan bisa tersesat. Ritual semacam ini seharusnya perlahan-lahan bisa dikikis. Caranya, kedua belah pihak, baik dokter maupun pasien, mau introspeksi diri, mau belajar.

Tadi Anda mengatakan bahwa persoalan yang mendasar adalah bagaimana mengubah kultur kita bahwa kalau sakit perlu obat. Padahal tidak semua persoalan kesehatan kita terapinya obat. Sebetulnya bagaimana kita mengobati diri sendiri untuk penyakit harian seperti flu, pilek, sakit kepala sebelum ke dokter atau sebelum akut?

Jadi ada beberapa isu dari pertanyaan tersebut. Kesatu terapi, kedua penyakit harian, ketiga peran self medication (mengobati diri sendiri). Mengenai terapi, kalau kita kembali ke definisi World Health Organization (WHO) ada lima bentuk, yaitu kesatu, professional advise artinya nasihat profesional, hal ini juga bisa dikategorikan sebagai obat. Ketika penderita demam berdarah datang ke saya maka akan dijelaskan bahwa demam berdarah itu ada dua jenis, demam dengue dan demam dengue yang berdarah (DBD). Saya akan menerangkan bahwa ini termasuk penyakit infeksi virus, self limiting. Kuncinya satu yaitu cairan. Jika kondisinya baik, keadaan umumnya baik, maka tidak perlu dirawat. Tapi kita memberitahu pasien kapan harus segera kembali kalau ada gejala A, B, C, D. Di masyarakat kita omong-omong atau informasi tersebut dianggap bukan obat.

Bentuk terapi kedua yaitu non-drug treatment. Misalnya anak gemuk, kita memeriksa SGOT & SGPT, apakah fungsi hatinya terganggu? Terapinya bukan obat, terapinya adalah mengatasi kegemukannya, mengubah pola hidup. Terapi yang ketiga barulah obat, seperti untuk hipertensi, kencing manis. Terapi yang keempat yaitu rujukan. Di sini juga ada masalah. Ada persepsi kalau kita meminta second opinion (pendapat alternatif) seolah-olah terdapat ada ketidaksenangan, pasien takut dokternya merasa kurang dipercaya. Padahal rujukan itu menguntungkan buat keduanya. Kesatu itu hak pasien, kedua, dokter juga terhindar dari kemungkinan berbuat salah. Bentuk terapi yang kelima adalah kombinasi.

Jadi di sini kita lihat bahwa WHO saja sudah menyatakan obat hanya salah satu bentuk terapi. Jangan dibalik. Ada gangguan kesehatan langsung meminta obat. “Dok, anak saya pilek, minta obat”. “Anak saya diare, minta obat.” Seharusnya, “Dok, anak saya diare, kenapa?” Karena pertanyaan ‘kenapa’ akan menuntun kita ke arah diagnosis. Kalau sudah dapat diagnosis kita tinggal melihat panduan/guideline-nya. Nah, untungnya di era informasi ini kita bisa mengakses informasi guideline-nya. Misalnya, di situs Ikatan Dokter Anak Amerika dengan mudah kita bisa meminta guideline. Misalnya, anak kita eksim maka kita tinggal menulis dermatitis, eksema, dan meminta guideline-nya. Nanti keluar apa penyebabnya, bagaimana menanganinya, bagaimana mencegahnya. Ada transparansi.

Apakah di Indonesia juga ada semacam hal itu?

Organisasi profesinya sudah mulai tapi belum untuk awam. Tetapi tidak masalah karena eksim di seluruh dunia sama saja menanganinya.

Untuk mengakses kesehatan itu rasanya agak eksklusif?

Memang dibuat seperti eksklusif tapi sebetulnya tidak eksklusif. Ya, di Indonesia kalau bisa dibuat susah kenapa dibuat gampang. Seolah-olah kesehatan itu misterius. Padahal dalam dunia kedokteran, dalam dunia kesehatan itu tidak boleh ada rahasia.

Ini sebetulnya berguna sekali buat masyarakat awam memahami penyakit sehari-hari. Mengapa tidak diberikan pedoman khusus buat kita cara mengatasinya dalam bahasa Indonesia sebagai pengetahuan karena pendidikan pasien itu sangat beragam? Apakah di sini belum ada semacam situs untuk memberikan informasi semacam itu?

Bisa googling, ada beberapa situs. Sekarang kita ada mailing list kesehatan. Kami membuat web sehat http://www.sehatgroup.web.id Kita menerjemahkan beberapa guidelines dari luar negeri, seperti penyakit bawaan anak, batuk, diare, demam, sehingga masyarakat tahu bahwa demam itu sebetulnya justru functional. Ada tujuannya Tuhan menciptakan fenomena demam karena itu bagian dari mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi. Demam itu bukan penyakit, itu alarm, cari penyebabnya. Demamnya sendiri tidak berbahaya. Penyebabnya yang kita teliti. Itu yang disebut dengan guideline.

Masyarakat seharusnya menguasai guideline untuk penyakit ringan seperti demam, batuk, pilek, diare, muntah, dan sakit kepala karena itu tinggal browsing di google.com, atau masuk ke situs http://www.americanfamilyphysician.com atau ke situs mayo clinic. Jadi kita bisa mengetahui kalau sakit kepala berkelanjutan harus hati-hati karena mungkin bisa sinus, gigi, mata, bisa tumor otak. Nah itu penyebabnya dan tugas dokter di situ. Jadi jangan mengeliminir tugas dokter menjadi hanya pemberi obat.

Saya sangat setuju sekali bahwa kita harus mengubah kultur mengenai kesehatan agar saat kita sakit mengetahui kapan memerlukan obat karena terapi juga bagian dari obat. Bagaimana cara mengubah kultur kita yang demikian?

Kita harus terus bekerjasama, bahu membahu, yang mempunyai kesempatan, yang mempunyai kemampuan harus belajar. Ibaratnya, mengapa kita bisa teliti dan kritis kalau saat membeli HP, namun kok saat membeli obat buat anak, puyer pula, kita tidak kritis dan tidak mencari tahu apa saja obat yang ada di dalam situ, apakah cocok dengan gangguan kesehatan si anak. Masyarakat seharusnya mengetahui baik dan bahayanya peresepan obat dalam bentuk puyer. Ketika di negara tropis stabilitas obat saja sudah dipertanyakan, ini malah dicampur dan digerus.

Apakah tradisi obat puyer ini hanya di Indonesia saja atau negara lain?

Hanya di Indonesia. Karena itu saya mengatakan apa sih dosa anak Indonesia sehingga dapat puyer. India yang miskin tidak ada puyer. Afrika yang miskin juga tidak ada puyer. Salah satu dalih dokter karena puyer itu murah, kalau menurut saya itu tidak benar. Dalih dokter untuk mempertahankan puyer itu semata-mata karena sulit untuk keluar dari comfort zone. Jadi mari kita bersama-sama yuk kita keluar dari comfort zone itu.

Apa yang dokter maksud dengan comfort zone?

Menulis resep itu tidak sulit, tiga menit selesai. Resepnya template. Coba kumpulkan resep buat 1.000 anak. Isinya kurang lebih sama. Ironisnya, kita menunggu dokter 30 menit tapi di ruang konsultasi hanya lima menit. Ini seharusnya terbalik. Kalau menurut saya bukan salah tenaga medisnya, ini kesalahan kita bersama. Kalau kita lihat hak azasi manusia, salah satu klausulnya adalah hak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik itu hak buat semua orang.

Mengapa guideline kesehatan hanya dimuat situs? Bagaimana cara mereka mengakses situs tersebut?

Untuk mengakses informasi kesehatan yang paling efisien dan efektif adalah dari internet. Saya mengasuh milis sehat, yaitu sehat@yahoogroups.com yang anggotanya hampir 7.000 dan 93% dari anggota tersebut tidak memiliki komputer di rumah.

Mereka mengaksesnya di kantor sewaktu lunch, atau pagi-pagi, atau mau pulang kerja mampir ke warung internet (Warnet). Satu jam di Warnet hanya Rp 10.000, sedangkan berapa biaya ke dokter? Tuhan itu maha adil, dan orang miskin itu disayang Tuhan. Anaknya batuk, pilek, meler tidak dibawa ke dokter anak. Anaknya main bola, main di sungai, hujan-hujanan, viral infection (infeksi karena virus), makannya lalap. Sedangkan anak kota makannya junkfood. Sakit sedikit dibawa ke dokter. Tiga hari masih meler dibawa ke dokter lagi diganti antibiotiknya dan dikasih yang lebih kuat. Padahal jelas ini adalah viral infection. Makin sering anak dikasih antibiotik akan makin sering sakit. Tapi tolong dicatat bahwa ini bukan masalah anti terhadap antibiotik. Antibiotik adalah barang yang sangat berharga dan salah satu penemuan penting dalam dunia kedokteran. Saya malah mengatakan itu karunia Tuhan yang luar biasa, sama seperti vaksin, dengan catatan gunakanlah dengan benar dan bijak.

Bagaimana cara menggunakan antibiotik dengan benar?

Itu musti tesis sendiri. Di makalah itu saya tulis, kalau pilek jelas tidak butuh antibiotik, berapapun suhu si anak. Diare tanpa darah mau 10 – 11 kali sehari tetap tidak butuh antibiotik. Nah, guideline-guideline seperti itu bisa dilihat di Centers for Disease Control (CDC) bisa juga lihat di web sehat. Mudah sekali sebenarnya. Makanya saya tulis di makalah sebetulnya kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu.

Walaupun saya yakin ini ada di situs, kapan sebetulnya kita perlu antibiotik?

Kita membutuhkan antibiotik jika ada infeksi kuman jahat yang tidak dapat diatasi oleh tubuh. Jadi ada dua hal. Kesatu, ada kuman jahat. Kedua, tubuh tidak bisa mengatasi sendiri. 98% kuman itu baik. Badan kita penuh dengan kuman. Jadi kuman jahat itu seperti TBC, infeksi saluran kemih, tifus tapi bukan gejala tifus. Tidak ada diagnosis gejala tifus. Adanya tifus atau bukan, tidak ada diagnosis gejala. Apalagi diagnosis yang ganda seperti, “Ibu, ada gejala DB dan gejala tifus.” Itu biasanya bukan kedua-duanya. Seharusnya kita bertanya, “Dok, ini DB atau bukan? Tifus atau bukan?” Jawabannya harus salah satu. Bukan kedua-duanya. Itu gunanya kita membekali diri sehingga ketika kita jatuh sakit kita sudah mempunyai pemahaman. Sepanik-paniknya pun kita tetap bisa berdiskusi dengan dokternya karena ini badan kita. Jadi infeksi yang perlu antibiotik adalah TBC, tifus, meningitis dan infeksi-infeksi yang berat, pneumonia yang berat.

Jadi kalau pilek dan batuk itu belum perlu?

Tidak. Cuma di Indonesia batuk pilek berobat ke dokter anak. Jadi ketidaktahuan pasien jangan terus dipelihara. . Mohon maaf.

Saya tertarik dengan soal puyer. Ketika kita mempunyai anak kecil dan diberikan puyer, apakah sebagai pasien kita bisa menolak pemberian puyer oleh dokter dan minta diberikan obat lain karena menurut dokter Purnamawati puyer itu tidak selalu kita butuhkan?

Bukan tidak selalu, puyer memang tidak dibutuhkan. Jangan ada abu-abu, kita tegas saja. Jadi begini, ketika membawa anak ke dokter, nomor satu kita harus tahu alasannya kenapa kita ke dokter. Nah, orang Indonesia hobinya ada dua, yaitu ke mall dan ke dokter. Sedikit-sedikit ke dokter. Makanya tadi saya mengatakan Tuhan itu sayang dengan orang miskin. Diare tetap diberi air susu ibu (ASI), membuat air tajin, membuat air daun jambu, maksudnya sih cairan. Ketika orang kota berobat ke dokter dan diketahui bahwa ini diare akut karena virus yang obatnya cuma satu yaitu oralit, mereka marah. “Memangnya saya orang miskin, sudah antri begitu lama ternyata cuma diberikan oralit. Tahu seperti itu saya berobat ke Puskesmas saja.” Padahal oralit itu adalah salah satu penemuan yang sangat berharga dalam dunia kedokteran yang berhasil menyelamatkan ratusan jiwa manusia. Orang kota menganggap oralit bukan obat. Orang kampung kalau sakit sekali baru datang ke Puskesmas dapatnya oralit. Jadi, justru kelas menengah sosial ke atas ini yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional dan pada perpuyeran itu. Dengan asumsi ingin anaknya cepat sembuh dengan berbagai alasan seperti ibunya sibuk, tidak ada pembantu, tidak ada waktu, panik, tidak tega, dan lain-lain. Saya suka mengembalikan seperti ini mari kita reposisi perasaan tidak tega itu.

Untuk infeksi virus yang tidak butuh obat, apakah kita tega memberikan anak kita begitu banyak obat? Ingat, populasi yang paling rentan mengalami efek obat itu adalah manusia usia lanjut (manula) dan anak kecil. Kalau orang tua sakit, saya stres setengah mati. Kalau cucu sakit, saya stres. Tapi stres ini mari kita arahkan ke energi positif. Kalau untuk penyakit harian bacalah guideline kesehatan. Kurikulum kesehatan bagi para orang tua itu cuma empat, yaitu demam, batuk-pilek, diare, muntah, lalu ditambah pemberian makan dan imunisasi yang benar. Cuma empat, dibandingkan sama kurikulum SMA juga kalah. Masa kita tidak mau belajar agar kita tahu.

Kembali ke soal puyer, puyer itu banyak sekali maslahatnya, tetapi ketika anak ke dokter, nomor satu kita tanya indikasinya. Kalau sudah bergabung di milis sehat dan baca pasti tahu. Batuk-pilek itu tidak usah ke dokter kecuali sesak, biru, tapi jangan disamakan dengan asma. Di Indonesia anak batuk itu memakai obat asma, keliru sekali. Jadi untuk menenangkan orangtuanya kadang-kadang saya nakal. Saya kasih saja terapi agar ibunya tenang. Padahal anaknya tidak butuh obat tapi sebagai dokter anak, saya butuh ibunya puas.

Jadi, kalau ke dokter nomor satu harus bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter, seperti apakah mau tanya diagnosis? Misalnya, “Dok, bagaimana guideline-nya untuk asma. Yang saya baca guideline-nya seperti ini tapi saya kurang paham. Tolong terangkan Dok.” Jadi pasien juga harus berdaya karena yang mempunyai badan adalah pasien itu sendiri. Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga. Nomor satu kita tanya dulu, apa betul anak saya butuh obat, berapa obat yang diberikan. Misalnya, “Mohon maaf Dok, yang pertama ini obat apa?” Biasakan menghitung jumlah obat di kertas resep. Menghitungnya gampang, hitung saja jumlah barisnya. Kalau lebih dari dua baris, jangan ditebus sebab kalau anak kita gawat bukan resep yang diberikan melainkan oksigen, infus, dikirim ke unit gawat darurat (ICU) dihubungi. Kalau interaksi itu masih berakhir dengan secarik kertas resep artinya anak-anak kita masih dalam kondisi baik. Tunggulah sebentar, cari informasi dan tanya dokternya. Misalnya, kalau diberi antibiotik, tanyakan ini antibiotik apa? Antibiotik kelas mana? Apakah ringan, sedang, atau berat?” Kalau diberi yang berat, tanyakan, “Dok, kok dikasih kelas berat memangnya anak saya sakit apa?” Nah, terkadang kita keliru meminta dokter antibiotik yang paling mahal, yang baru, yang paten, dengan pertimbangan buat anak saya mahal tidak masalah. Padahal di Indonesia, mahalnya ongkos tidak identik dengan kualitas yang baik, mohon maaf.

Arsipkan Email Gmail, Jangan Delete Juni 20, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

By : fatihsyuhud.com/tutorial-blog

Sekedar info bagi pengguna baru email Gmail.com yang mungkin belum begitu terbiasa dengan cara kerja pemberi layanan email gratis dari Google.com ini. Seperti diketahui, Gmail saat ini berkapasitas 6.5 GB atau 6.500 MB. Artinya, sebanyak apapun email yang masuk (selagi bukan file video atau image) tidak akan membuat email kita kepenuhan.

Oleh karena itu, ada baiknya kalau email yang masuk tidak didelete tapi diarsipkan sehingga bisa dicari (search) kapan saja kita butuh lagi. Caranya mudah, (a) kasih tanda tik email yang akan diarsipkan; (b) klik “Archive”. Selesai. Email tersebut akan hilang dari inbox tapi dapat dicari / search kapan saja melalui kotak “search email” di bagian atas.

Beberapa fasilitas lain Gmail:

1. Membuat label dan filter. Label sama dengan folder, dengan mensetting Filter, maka suatu email tertentu dapat dimasukkan langsung ke *Label* tanpa masuk ke inbox. Ini penting buat yg ikut milis, agar tidak campur aduk di inbox semua.

2. Delete atau Archive dapat dilakukan dengan memberi tanda tik / centang pada email yg diinginkan atau sekaligus. Caranya, klik Check All -> Delete / Archive All? -> klik.

3. Forward: email dapat diforward ke email lain. Klik Setting-> dst.