jump to navigation

Cegah Hepatitis B Kronik Sejak Bayi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Rabu, 18 Juni 2008 | 11:09 WIB

PEMBERIAN vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B.

Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo Sp.PD-KGEH, pemberian vaksin hepatitis B bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal. Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti, si bayi dapat menderita hepatitis kronik.

“Dari pengidap hepatitis kronik yang berada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi mereka masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita,” ungkap dr. Unggul di Jakarta, Selasa (17/6) kemarin.

Ia menjelaskan, infeksi sangat mungkin terjadi karena saat melahirkan jalan lahir ibu terluka dan berdarah sehingga mempermudah kontaminasi darah terhadap kulit bayi yang rentan gesekan persalinan. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat ibu menyusui, di mana luka pada puting ibu menjadi jalan mudah masuknya virus.

“Penularan virus Hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu . Tapi bisa terjadi saat persalian atau juga ketika menyusui di mana terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dengan mulut bayi,” terangnya.

Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan sang ibu yang berisiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan.

“Yang perlu ditekankan, untuk ibu hamil yang positif mengidap virus, selain vaksinasi aktif, sang bayi juga wajib mendapatkan imunisasi pasif dengan pemberian serum. Dengan pemberian vaksinasi pasif (imunoglobulin) maka tubuh bayi sudah langsung mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B dari ibunya saat melahirkan,” ujarnya.

Unggul mengingatkan pula, pentingnya pencegahan hepatitis B sejak dini karena penyakit ini tidak memberikan keluhan dan gejala. Keadaan ini jelas membahayakan karena anak-anak bisa terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya mengandung virus hepatitis B yang akan berjalan progresif menahun dan menjadi kronis ketika mereka dewasa. “Bila sudah kronis, baru akan memberikan gejala antara lain lemah, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tulang, kulit badan dan mata kuning serta perubahan warna urin yang mencolok,” tandasnya.

sumber : kompas

Iklan

Vaksinasi dan Autisme Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Vaksinasi dan Autisme

Published by Lita October 19th, 2006 in Health.

Saya termangu membaca tulisan pak Harry tentang autisme. Teringat kegelisahan seorang ibu yang menanyakan pada saya, hubungan antara imunisasi dan autisme.

Anaknya sebaya Daud dan (saat itu) masih punya jadwal beberapa kali imunisasi. Rupanya e-mail tentang imunisasi yang menyebabkan autisme sedang beredar di milis yang ia ikuti. Sebenarnya ini bukan berita baru. Semacam siklus saja, muncul periodik. Vaksinnya tak selalu sama, tapi intinya sama: bahaya autisme mengintai di balik imunisasi.

Pak Harry menulis tentang autisme dengan mencuplik dari wikipedia. Izinkan saya untuk mengambil sumber dari tulisan yang lain dan dari sisi pandang yang agak berbeda.

Dari dr. Sears:

There has been some recent press over a concern of some medical researchers that the MMR vaccine may be a contributing link to autism. There has been no conclusive medical evidence to date that supports this concern, and the potential severity of these three illnesses makes vaccinating against them very important.

Some parents who have a child with autism, or know someone who has a child with autism, and have a concern about its relation to the MMR vaccine, can give their child each of the three components of this shot separately, one year apart. However, this is two extra injections.

Dari mayoclinic:

Some people believe autism is caused by vaccines — particularly the measles-mumps-rubella vaccine (MMR), as well as vaccines containing thimerosal, a preservative that contains a very small amount of mercury. But extensive studies have shown no link between vaccines and autism.

Sedangkan dari WHO:

Based on the extensive review presented, GACVS concluded that no evidence exists of a causal association between MMR vaccine and autism or autistic disorders. The committee believes the matter is likely to be clarified by a better understanding of the causes of autism.

GACVS also concluded that there is no evidence to support the routine use of monovalent measles, mumps and rubella vaccines over the combined vaccine, a strategy which would put children at increased risk of incomplete immunization. Thus, GACVS recommends that there should be no change in current vaccination practices with MMR.

Penelitian yang dijadikan rujukan bagi pemberitaan adanya korelasi antara vaksin MMR dan autisme dinyatakan memiliki cacat serius. Bertanggal 13 Juni 2003, artikel ini menuliskan:

Committee on Safety of Medicines (CSM) advice on methodology used in this paper

Previous research by Geier and Geier, using similar methodology, has been carefully reviewed by the CSM. The advice of the CSM was that this type of analysis (use of spontaneously reported adverse reaction data and numbers of vaccine doses distributed) cannot be used to determine and compare the incidence of adverse reactions associated with different vaccinations.

CSM will shortly be asked to review the current study by Geier and Geier. However, it is clear from CSM’s previous advice that this methodology is seriously flawed and the conclusions of the authors concerning the association between MMR and DTP vaccine and the outcomes studied cannot therefore be justified.

Sedangkan dari asosiasi dokter anak Amerika (AAP):

The most important weakness of the article is the reliance on VAERS (Vaccine Adverse Event Reporting System) data to draw conclusions about adverse event associations or causality. VAERS is a passive surveillance system for reporting possible vaccine adverse events that depends on health care professionals, patients, and others to file reports.

Health effects reported to VAERS as being associated with vaccines may represent true adverse events, coincidental occurrences, or mistakes in filing. Inherent limits of VAERS include incomplete reporting, lack of verification of diagnoses, and lack of data on people who were immunized and did not report problems.

Data from VAERS are useful for hypothesis generation (raising questions) but should not be used for research aimed at determining whether vaccines cause certain health problems (hypothesis proving), as was done in the article by Geier and Geier.

Dan dari Vaccine Safety, (format pdf):

Consistent evidence from ecologic, case-control, case-crossover, and cohort studies showing lack of an association between MMR vaccine and an increased risk for developing autism, either in the short time window following vaccination or at times distant from vaccination.


Group Health Cooperative Center for Health Studies
CDC Vaccine Safety Datalink Project

Sebagai pengingat: ini bukan pengganti nasihat/diskusi medis. Saya bukan peneliti, apalagi dokter. Namun jika anda bertanya tentang keputusan saya, saya tetap bergeming dengan jadwal imunisasi MMR untuk kedua anak saya.

Saya hanya berharap, para orangtua membuat keputusan tidak berdasarkan emosi dan paranoia semata. Pertimbangkan baik-baik, dan jika ragu dengan kondisi anak, konsultasikan pada dokter.

Walau demikian, keputusan ada di tangan orangtua. Milik orangtua. Dan dijalani anak kelak. Semoga tak ada kata menyesal.

fakta dan mitos imunisasi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Fakta dan Mitos Mengenai Imunisasi

1/22/2007

Sejak pemberian vaksinasi secara luas di Amerika Serikat, jumlah kasus penyakit pada anak seperti campak dan pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) turun hingga 95% lebih. Imunisasi telah melindungi anak-anak dari penyakit mematikan dan telah menyelamatkan ribuan nyawa. Saat ini beberapa penyakit sangat jarang timbul sehingga para orang tua kadang mempertanyakan apakah vaksinasi masih diperlukan.

Anggapan yang keliru ini hanya salah satu dari kesalahpahaman mengenai imunisasi. Kebenarannya adalah bahwa sebagian besar vaksin mampu mencegah penyakit yang masih ada di dunia, walaupun angka kejadian penyakit tersebut jarang. Vaksinasi masih sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan anak. Bacalah lebih lanjut tentang imunisasi secara lebih jelas dalam uraian berikut!

Apa yang terjadi pada tubuh dengan imunisasi

Vaksin bekerja dengan mempersiapkan tubuh anak anda untuk memerangi penyakit. Setiap suntikan imunisasi yang diberikan mengandung kuman mati atau yang dilemahkan, atau bagian darinya, yang menyebabkan penyakit tertentu. Tubuh anak anda akan dilatih untuk memerangi penyakit dengan membuat antibodi yang mengenali bagian-bagian kuman secara spesifik. Kemudian akan timbul respon tubuh yang menetap atau dalam jangka panjang. Jadi, ketika anak terpapar pada penyakit yang sebenarnya, antibodi telah siap pada tempatnya dan tubuh tahu cara memeranginya sehingga anak tidak jatuh sakit. Inilah yang disebut sebagai imunitas (ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu).

Fakta dan mitos

Yang patut disayangkan, beberapa orang tua yang salah mendapatkan informasi mengenai vaksin memutuskan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak mereka, akibatnya risiko anak tersebut untuk jatuh sakit lebih besar.

Untuk lebih memahami keuntungan dan risiko dari vaksinasi, berikut ini beberapa mitos umum yang ada di masyarakat dan faktanya.

Imunisasi akan menimbulkan penyakit yang seharusnya ingin dicegah dengan vaksinasi pada anak saya

Anggapan ini timbul pada beberapa orang tua yang memiliki kekhawatiran besar terhadap vaksin. Adalah suatu hal yang mustahil untuk menderita penyakit dari vaksin yang terbuat dari bakteri atau virus yang telah mati atau bagian dari tubuh bakteri atau virus tersebut. Hanya imunisasi yang mengandung virus hidup yang dilemahkan, seperti vaksin cacar air (varicella) atau vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR), yang mungkin dapat memberikan bentuk ringan dari penyakit tersebut pada anak. Namun hal tersebut hampir selalu tidak lebih parah dari sakit yang dialami jika seseorang terinfeksi oleh virus hidup yang sebenarnya. Risiko timbulnya penyakit dari vaksinasi amatlah kecil.

Vaksin dari virus hidup yang tidak lagi digunakan di Amerika Serikat adalah vaksin polio oral (diberikan melalui tetes ke dalam mulut anak). Keberhasilan program vaksinasi memungkinkan untuk mengganti vaksin virus dari virus hidup ke virus yang telah dimatikan yang dikenal sebagai vaksin polio yang diinaktifkan. Perubahan ini secara menyeluruh telah menghapuskan penyakit polio yang ditimbulkan oleh imunisasi di Amerika Serikat.

Jika semua anak lain yang berada di sekolah diimunisasi, tidak ada bahaya jika saya tidak mengimunisasi anak saya

Adalah benar bahwa kemungkinan seorang anak untuk menderita penyakit akan rendah jika yang lainnya diimunisasi. Jika satu orang berpikir demikian, kemungkinan orang lain pun akan berpikir hal yang sama. Dan tiap anak yang tidak diimunisasi memberikan satu kesempatan lagi bagi penyakit menular tersebut untuk menyebar. Hal ini pernah terjadi antara tahun 1989 dan 1991 ketika terjadi wabah campak di Amerika Serikat. Perubahan laju imunisasi pada anak pra sekolah mengakibatkan lonjakan tinggi pada jumlah kasus campak, angka kematian, serta jumlah anak dengan kerusakan menetap akibatnya. Hal serupa pernah terjadi di Jepang dan Inggris pada tahun 1970 yaitu wabah pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) yang terjadi saat laju imunisasi menurun.

Walaupun angka laju vaksinasi cukup tinggi di Amerika Serikat, tidak dapat dijamin bahwa anak anda hanya akan kontak dengan orang-orang yang telah divaksinasi, apalagi sekarang banyak orang bepergian dari dan ke luar negeri. Sepeti wabah ensefalitis pada tahun 1999 dari virus West Nile di New York, suatu penyakit dapat menyebar ke belahan bumi lain dengan cepatnya akibat perjalanan internasional. Cara terbaik untuk melindungi anak anda adalah dengan imunisasi.

Imunisasi akan memberikan reaksi buruk pada anak saya

Reaksi umum yang paling sering terjadi akibat vaksinasi adalah keadaan yang tidak berbahaya, seperti kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan, demam, dan ruam pada kulit. Walaupun pada kasus yang jarang imunisasi dapat mencetuskan kejang dan reaksi alergi yang berat, risiko untuk terjadinya hal tersebut sangat kecil dibandingkan risiko menderita penyakit jika seorang anak tidak diimunisasi. Setiap tahunnya jutaan anak telah divaksinasi secara aman, dan hampir semua dari mereka tidak mengalami efek samping yang bermakna.

Sementara itu, penelitian secara terus menerus dilakukan untuk meningkatkan keamanan imunisasi. The American Academy of Pediatrics (AAP) sekarang menganjurkan dokter untuk  menggunakan vaksin difteri, tetanus, dan pertusis yang mengandung hanya satu bagian spesifik sel kuman pertusis dibandingkan dengan yang mengandung seluruh bagian sel kuman yang telah mati. Vaksin pertusis yang aselular (DtaP) dikaitkan dengan lebih kecilnya efek samping seperti demam dan kejang.

Baru-baru ini telah disetujui untuk mengganti zat pengawet timerosal dari semua vaksinasi, seperti yang direkomendasikan oleh The Advisory  Commitee on Immunization Practice (ACIP), American Academy of Pediatrics, dan United States Public Health Service (USPHS).

Timerosal adalah produk dari etil merkuri dan telah digunakan sebagai pengawet vaksin sejak 1930. Jumlah timerosal yang terkandung dalam vaksin sangat rendah, pada kadar yang tidak berhubungan dengan keracunan merkuri. Namun USPHS sekarang merekomendasikan untuk meminimalkan semua paparan terhadap merkuri, tidak peduli berapapun sedikit kadarnya, hal ini termasuk pula penggunaan termometer kaca yang mengandung merkuri.

Pada tahun 1999, The Centre for Disease Cintrol (CDC) Amerika Serikat menunda penggunaan vaksin baru rotavirus setelah beberapa orang anak menderita sumbatan di usus yang mungkin dicetuskan oleh vaksin tersebut.  Walaupun hanya beberapa kasus yang dilaporkan, CDC menghentikan pemberian vaksinasi karena adanya kekhawatiran mengenai keamanannya. Setelah dilakukan penelitian, vaksin rotavirus  tidak diberikan lagi.

Ada rumor yang dikuatkan, banyak diantaranya yang diedarkan melalui internet, menghubungkan beberapa vaksin dengan multipel sklerosis, sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS), autisme, dan masalah kesehatan lainnya. Namun beberapa penelitian gagal dalam menunjukkan hubungan  antara imunisasi dengan keadaan tersebut. Angka kejadian sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS) telah menurun lebih dari 50% beberapa tahun ini, padahal jumlah vaksin yang diberikan tiap tahun semakin meningkat.

Anak saya tidak perlu diiimunisasi karena penyakit tersebut telah dimusnahkan

Penyakit yang jarang atau tidak terjadi lagi di Amerika Serikat, seperti polio dan campak, tetap berkembang di belahan bumi lain. Dokter melanjutkan pemberian vaksin untuk penyakit tersebut karena penyakit tersebut sangat mudah ditularkan melalui kontak dengan penderita melalui perjalanan. Hal tersebut termasuk orang-orang yang mungkin belum diimunisasi masuk ke Amerika Serikat, seperti halnya orang Amerika yang bepergian ke luar negeri.

Jika laju imunisasi menurun, penyakit yang dibawa oleh seseorang yang datang dari negara lain dapat menimbulkan keadaan sakit yang berat pada populasi yang tidak terlindungi dengan imunisasi. Pada tahun 1994 polio telah terbawa dari India ke Kanada, namun tidak menyebar karena banyak masyarakat yang telah diimunisasi. Hanya penyakit yang telah diberantas tuntas dari muka bumi, seperti cacar (smallpox), yang aman untuk dihentikan pemberian vaksinasinya.

Anak saya tidak perlu diimunisasi jika ia sehat, aktif, dan makan dengan baik

Vaksinasi dimaksudkan untuk menjaga anak tetap sehat. Karena vaksin bekerja dengan memberi perlindungan tubuh sebelum penyakit menyerang. Jika anda menunda samapi anak anda sakit akan terlambat bagi vaksin untuk bekerja. Waktu yang tepat untuk memberikan imunisasi pada anak anda adalah saat ia dalam keadaan sehat.

Imunitas hanya bertahan sebentar

Beberapa vaksin, seperti campak dan pemberian beberapa serial vaksin hepatitis B, dapat menimbulkan kekebalan seumur hidup anda. Vaksin lainnya, seperti tetanus, bertahan sampai beberapa tahun, membutuhkan suntikan ulang dalam periode waktu tertentu (booster) agar dapat terus memberi perlindungan untuk melawan penyakit. Dan beberapa vaksin, seperti pertusis, akan semakin berkurang namun tidak memerlukan suntikan ulang (booster) karena tidak berbahaya pada remaja dan dewasa. Penting untuk menyimpan catatan pemberian suntikan imunisasi anak anda sehingga anda tahu kapan ia membutuhkan suntikan ulang (booster).

Fakta bahwa penelitian tentang vaksin masih terus berlanjut dan diperbaiki menunjukkan bahwa pemberiannya belum aman

Pusat pengawas obat dan makanan merupakan badan milik pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengatur tentang vaksin di Amerika Serikat. Bekerja sama dengan CDC dan The National Institutes of Health (NIH) mereka meneruskan penelitian dan memonitor keamanan dan keefektifan pemberian vaksin.

Surat ijin bagi vaksin baru dikeluarkan setelah dilakukan penelitian laboratorium dan percobaan klinis, dan pengawasan keamanan tetap berlanjut walaupun vaksin telah disetujui. Telah dilakukan dan akan terus dilakukan perbaikan (misalnya seperti yang berlaku pada DtaP dan vaksin polio) yang akan meminimalkan efek samping yang mungkin terjadi dan untuk menjamin standar keamanan yang terbaik.

Informasi tambahan

Jelaslah bahwa vaksin adalah satu dari alat terbaik yang kita miliki agar anak sehat, namun keberhasilan dan program imunisasi bergantung pada ketersediaan. Anda bisa mendapatkan vaksin dengan harga murah atau gratis melalui klinik kesehatan masyarakat dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), dan pada kampanye vaksinasi anak (misal pekan imunisasi anak).

Anda dapat mengunjungi situs-situs kesehatan lain untuk mengetahui lebih lanjut mengenai vaksinasi. Sumber informasi lainnya adalah dokter anak anda. Bersama, anda dapat menjaga anak anda sehat dan ceria.

Salah Paham Mengenai Imunisasi

Timerosal mengakibatkan Autisme

Beberapa ilmuwan telah melemparkan wacana bahwa kandungan merkuri dalam vaksin merupakan penyebab autisme dan anak yang menderita autisme dianjurkan untuk menjalani terapi kelasi (chelation therapy, pemberian zat khusus sebagai upaya “mengikat” merkuri agar tidak dapat bereaksi dengan komponen sel tubuh) untuk detoksifikasi. Beberapa kasus telah dijadikan perkara hukum yang disidangkan dan beberapa pengacara menyebarkan informasi di internet untuk mendapatkan klien. Situasi ini semakin berkembang karena sampai sekarang beberapa vaksin masih mengandung timerosal, zat pengawet yang mengandung merkuri yang tidak digunakan lagi. Ada beberapa alasan mengapa kecemasan mengenai timerosal dalam vaksin sebenarnya merupakan informasi yang menyesatkan:

  • Jumlah merkuri yang terkandung sangat kecil
  • Tidak ada hubungan merkuri dan autisme yang terbukti
  • Tidak ada alasan yang masuk akal untuk mempercayai bahwa autisme terjadi karena sebab                  keracunan

Timerosal telah digunakan sebagai pengawet pada makhluk hidup dan vaksin sejak tahun 1930 karena dapat mencegah kontaminasi bakteri dan jamur, terutama pada tabung yang digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pada tahun 1999, FDA (Food and Drug Administration) memeriksa catatan bahwa dengan bertambahnya jumlah vaksin yang dianjurkan pada bayi, jumlah total merkuri pada vaksin yang mengandung timerosal dapat melebihi batas yang dianjurkan oleh badan pengawas lain (1). Jumlah merkuri yang ditentukan oleh FDA memiliki batas aman yang lebar, dan belum ada informasi mengenai bayi yang sakit akibatnya. Meski demikian untuk berhati-hati, US Public Health Service dan the American Academy of Pediatrics meminta dokter untuk meminimalkan paparan terhadap vaksin yang mengandung timerosal dan kepada perusahaan pembuat vaksin untuk menghilangkan timerosal dari vaksin sesegera mungkin (2). Pada pertengahan 2000 vaksin hepatitis B dan meningitis bakterial yang bebas timerosal tersedia luas.kombinasi vaksin difteri,pertusis, dan tetanus sekarang juga tersedia tanpa timerosal. Vaksin MMR, cacar air, polio inaktif, dan konjugasi pneumokok tidak pernah mengandung timerosal.

Sebelum adanya pembatasan, paparan maksimal kumulatif merkuri pada anak dalam 6 bulan pertama kehidupan dapat mencapai 187,5 mikrogram (rata-rata 1 mikrogram/hari). Pada formula vaksin yang baru paparan maksimal kumulatif selama 6 bulan pertama kehidupan adalah tidak lebih dari 3 mikrogram (3). Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa batasan maksimal keduanya memiliki efek toksik (keracunan).

Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit (CDC) telah membandingkan angka kejadian autisme dengan jumlah timerosal yang ada dalam vaksin. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perubahan relatif angka kejadian antara autisme dengan jumlah timerosal yang diterima anak dalam 6 bulan pertama kehidupan (dari 0-160 mikrogram). Hubungan yang lemah ditemukan antara asupan timerosal dan beberapa kelainan pertumbuhan saraf (seperti gangguan pemusatan perhatian) pada satu penelitian saja, namun tidak terbukti pada penelitian selanjutnya (4). Penelitian lain yang direncanakan sepertinya juga tidak akan menunjukkan hubungan bermakna.

Komite Intitute of Medicine (IOM) yang telah menyebarkan luaskan laporannya pada bulan Oktober 2001 menemukan tidak ada bukti hubungan antara vaksin yang mengandung timerosal dan autisme, ggangguan pemusatan perhatian, keterlambatan bicara dan bahasa, atau kelainan perkembangan saraf lainnya (5)

Penggunaan terapi kelasi untuk penanganan anak yang menderita autisme sama sekali tidak berhubungan.

7 Fakta Tentang Vaksinasi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Berikut adalah  7 fakta yang harus dan berhak diketahui oleh setiap orang, keluarga dan kelompok masyarakat tentang Imunisasi:

1. Imunisasi sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terkena penyakit yang bersangkutan, menjadi cacat permanent, menderita kekurangan gizi dan bahkan kematian.

2. Imunisasi umumnya aman, bahkan pada anak yang menderita sakit ringan, mempunyai cacat atau menderita kekurangan gizi.

3. Pemberian imunisasi secara simultan/kombinasi aman bagi anak dan memberikan perlindungan lebih cepat.

4. Hanya dengan pemberian imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, anak akan terlindung dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.

5. Semua wanita hamil harus mendapatkan vaksin tetanus untuk perlindungan diri dan bayinya.

6. Imunisasi harus dilakukan dengan mempergunakan jarum dan alat suntik yang baru. Setiap orang harus meminta jarum dan alat suntik baru bila akan diimunisasi.

7. Penyakit akan menyebar secara cepat saat orang berdekatan. Semua anak yang tinggal di kondisi yang padat, khususnya di penampungan pengungsi atau saat kondisi bencana alam, harus mendapatkan imunisasi sesegera mungkin

Fakta #1:  Imunisasi sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terkena penyakit infeksi, menjadi cacat permanen, menderita kekurangan gizi dan bahkan kematian.

Semua vaksin yang diwajibkan dan dianjurkan untuk diberikan pada anak adalah vaksin yang melindungi tubuh dari penyakit infeksi yang serius dan membahayakan. Sistem kekebalan tubuh bayi dan anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan; belum kuat untuk menangkal penyakit infeksi yang berbahaya. Oleh karena itu, mereka harus mendapatkan perlindungan sedini mungkin. Penundaan imunisasi akan menghadapkan anak pada risiko kematian atau kecacatan; kita seolah kembali ke era kegelapan dengan angka kematian yang tinggi, kematian di usia muda karena anak-anak akan bergelimpangan, meninggal sebelum mencapai usia sekolah.

Setengah dari angka kematian pada anak batuk rejan, sepertiga dari semua kasus penyakit diakibatkan polio dan seperempat dari angka kematian akibat campak muncul pada anak di bawah 1 tahun.

Anak yang tidak mendapat imunisasi sangat rentan terhadap campak, batuk rejan, dan penyakit-penyakit mematikan lainnya. Anak yang sembuh dari penyakit-penyakit tersebut menjadi lemah, dimungkinkan tidak dapat tumbuh dengan normal atau juga dimungkinkan menderita cacat permanent. Kemudian mereka bisa meninggal akibat kekurangan gizi dan penyakit-penyakit lainnya.

Imunisasi dilakukan lewat suntikan atau tetesan pada mulut. Vaksin bekerja dengan membentuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Imunisasi hanya dapat bekerja jika diberikan SEBELUM penyakit hinggap pada anak.

Fakta #2: Imunisasi umumnya aman,  bahkan pada anak yang menderita sakit ringan, mempunyai cacat atau menderita kekurangan gizi.

Salah satu alasan utama mengapa orang tua tidak membawa anak ke dokter atau unit layanan kesehatan atau Pekan Imunisasi Nasional adalah anak mereka sedang terkena demam, batuk, flu, diare dan sejumlah penyakit yang diderita pada hari anak harus diimunisasi. Bahkan sering kali petugas kesehatan tidak menganjurkan pemberian vaksin pada anak yang sedang batuk, flu, diare, demam ringan, dan penyakit ringan lainnya. Padahal. imunisasi aman diberikan pada anak yang terkena penyakit-penyakit ringan tersebut.

Kadang kala seorang petugas kesehatan tidak menyarankan pemberian imunisasi kepada anak cacat atau yang kekurangan gizi. Padahal, imunisasi aman diberikan kepada anak yang cacat atau kekurangan gizi. Justru mereka perlu perlindungan segera melalui pemberian imunisasi. Misalnya, anak yang kekurangan gizi harus segera diberikan vaksin campak karena campak sangat berbahaya bagi anak yang kekurangan gizi, khususnya jika kasus kekurangan gizinya parah.

Setelah disuntik, anak mungkin akan menangis atau terkena demam, ruam ringan atau nyeri. Hal ini normal. Tingkatkan asupan cairan, berikan ASI sesering mungkin atau berikan banyak cairan (dan makanan). Kompres dengan air hangat dan berikan parasetamol jika demam. Jika anak terkena demam tinggi selama lebih dari 72 jam, bawa ia ke unit layanan kesehatan.

Falta #3: Pemberian imunisasi secara simultan/kombinasi aman bagi anak dan memberikan perlindungan lebih cepat.

Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa vaksin-vaksin mempunyai efektifitas yang sama, baik jika diberikan sendiri-sendiri maupun secara simultan/kombinasi. Selain itu, imunisasi simultan/kombinasi tidak mempunyai efek merugikan bagi sistem kekebalan tubuh bayi serta tidak meningkatkan kadar efek samping yang biasa muncul pasca imunisasi (demam, nyeri, ruam ringan). Oleh karena itu, di banyak negara termasuk misalnya di Amerika Serikat, Committee on Immunization Practices (ACIP) dan the American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian vaksin secara simultan/kombinasi untuk semua jenis vaksin pada anak.

Ada dua keuntungan dari pemberian imunisasi simultan dalam satu kunjungan. Pertama, kita memberikan kekebalan tubuh pada anak sedini mungkin dalam rangka memberikan perlindungan selama beberapa bulan pertama yang merupakan masa-masa rentan bagi bayi. Kedua, pemberian sejumlah vaksin pada saat yang sama berarti mengurangi jumlah suntikan yang diterima oleh bayi dan juga mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, sehingga menghemat waktu dan uang. Selain itu, kunjungan ke klinik/RS meningkatkan risiko paparan penyakit infeksi pada anak kita.

Falta #4: Hanya dengan pemberian imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, anak akan terlindung dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.

Penting sekali bagi anak untuk mendapatkan jumlah dan jenis imunisasi secara lengkap dan penuh – kalau tidak, maka vaksin tidak akan bekerja sebagaimana mestinya.

Untuk melindungi anak terutama selama tahun pertama hidupnya, berikan imunisasi sesuai jadwalnya. Imunisasi sangat efektif jika diberikan pada umur yang disebutkan pada jadwal, atau pada usia yang paling dekat dengan ketentuan.

Jika karena suatu sebab, anak tidak mendapatkan rangkaian imunisasi secara lengkap, maka penting sekali untuk melengkapinya sesegera mungkin atau pada saat Pekan Imunisasi Nasional.

Di beberapa Negara, tambahan vakinasi, atau disebut booster shots/vaksinasi ulangan, ditawarkan setelah anak berusia lebih dari 1 tahun. Vaksin ulangan/ekstra/tambahan ini membuat perlindungan vaksin menjadi lebih efektif.

Fakta #5: Semua wanita hamil harus dilindungi dari tetanus. Walaupun ia sudah mendapatkan imunisasi sebelumnya, ia membutuhkan tambahan vaksin toxoid tetanus.

Di banyak negara, kaum ibu melahirkan dalam kondisi atau tempat yang tidak higienis. Hal ini menimbulkan resiko terkena tetanus pada ibu dan bayi, tetanus adalah pembunuh utama bagi bayi yang baru lahir.

Jika seorang ibu hamil tidak diberikan imunisasi tetanus dan kemudian bakteri atau spora tetanus masuk ke dalam tubuhnya, maka nyawanya juga akan terancam.

Bakteri atau spora tetanus tumbuh dalam luka yang kotor. Mereka dapat berkembang biak jika tali pusat dipotong dengan pisau yang tidak tajam atau jika benda apapun yang tidak bersih menyentuh ujung tali pusat. Setiap alat yang menyentuh tali pusat harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudia direbus atau dipanaskan di atas api dan kemudian didinginkan. Selama minggu pertama setelah proses kelahiran, kebersihan tali pusat harus tetap dijaga.

Semua wanita hamil harus memastikan bahwa mereka telah mendapatkan imunisasi tetanus, yang dapat melindungi baik ibu dan bayinya.

Pemberian imunisasi pada wanita hamil adalah aman. Perhatikan jadwal pemberian imunisasi tetanus pada wanita hamil:

§    Pemberian pertama: Segera setelah kehamilan terdeteksi.
§   Pemberian kedua: Sebulan setelah pemberian vaksin pertama, dan paling lambat dua minggu sebelum waktu kelahiran. 
§   Pemberian ketiga: 6-12 bulan setelah pemberian vaksin kedua, atau selama masa kehamilan berikutnya. 
§   Pemberian keempat: 1 tahun setelah pemberian vaksin ketiga, atau selama masa kehamilan berikutnya. 
§   Pemberian kelima: 1 tahun setelah pemberian vaksin ketiga, atau selama masa kehamilan berikutnya.

Jika seorang gadis atau wanita telah diberikan 5 kali vaksin tetanus dengan rentang waktu yang tepat, ia akan terlindungi sepanjang hidupnya. Anak-anaknya juga terlindungi selama beberapa minggu awal setelah kelahiran mereka.

Fakta #6: Imunisasi harus dilakukan dengan mempergunakan jarum dan alat suntik yang baru. Setiap orang harus meminta jarum dan alat suntik baru bila akan diimunisasi.

Jarum dan peralatan yang tidak steril dapat menyebabkan penyakit yang membahayakan jiwa. Penggunaan alat dan jarum suntik secara bergantian, bahkan antar sesama anggota keluarga, dapat menyebarkan penyakit yang membahayakan jiwa. Jarum dan alat suntik hanya boleh dipergunakan jika berada dalam keadaan steril.

Fakta #7: Penyakit akan menyebar secara cepat saat orang berdekatan. Semua anak yang tinggal di kondisi yang padat, khususnya di penampungan pengungsi atau saat kondisi bencana alam, harus mendapatkan imunisasi sesegera mungkin.

Situasi darurat dan keadaan yang memaksa orang mengungsi dan meninggalkan tempat tinggal mereka seringkali menyebabkan penyebaran penyakit infeksi. Oleh karena itu, pengungsi yang berusia di bawah 12 tahun harus segera diimunisasi, khususnya vaksin campak, saat pertama kali ditemui atau ditempatkan di penampungan.

Semua imunisasi yang diberikan dalam kondisi darurat harus diberikan menggunakan alat suntik sekali pakai.

Campak akan menjadi sangat serius jika anak-anak kekurangan gizi atau tinggal dalam keadaan yang tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai. Oleh karena itu:

§ Karena penyakit seperti campak dapat secara cepat menular, setiap anak yang terkena campak      harus diisolasi dari anak-anak lain dan diperiksa oleh tenaga kesehatan yang terlatih.

§ Campak seringkali menyebabkan diare akut. Pemberian vaksin campak akan mencegah diare