jump to navigation

Cegah Hepatitis B Kronik Sejak Bayi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Rabu, 18 Juni 2008 | 11:09 WIB

PEMBERIAN vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B.

Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo Sp.PD-KGEH, pemberian vaksin hepatitis B bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal. Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti, si bayi dapat menderita hepatitis kronik.

“Dari pengidap hepatitis kronik yang berada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi mereka masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita,” ungkap dr. Unggul di Jakarta, Selasa (17/6) kemarin.

Ia menjelaskan, infeksi sangat mungkin terjadi karena saat melahirkan jalan lahir ibu terluka dan berdarah sehingga mempermudah kontaminasi darah terhadap kulit bayi yang rentan gesekan persalinan. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat ibu menyusui, di mana luka pada puting ibu menjadi jalan mudah masuknya virus.

“Penularan virus Hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu . Tapi bisa terjadi saat persalian atau juga ketika menyusui di mana terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dengan mulut bayi,” terangnya.

Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan sang ibu yang berisiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan.

“Yang perlu ditekankan, untuk ibu hamil yang positif mengidap virus, selain vaksinasi aktif, sang bayi juga wajib mendapatkan imunisasi pasif dengan pemberian serum. Dengan pemberian vaksinasi pasif (imunoglobulin) maka tubuh bayi sudah langsung mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B dari ibunya saat melahirkan,” ujarnya.

Unggul mengingatkan pula, pentingnya pencegahan hepatitis B sejak dini karena penyakit ini tidak memberikan keluhan dan gejala. Keadaan ini jelas membahayakan karena anak-anak bisa terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya mengandung virus hepatitis B yang akan berjalan progresif menahun dan menjadi kronis ketika mereka dewasa. “Bila sudah kronis, baru akan memberikan gejala antara lain lemah, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tulang, kulit badan dan mata kuning serta perubahan warna urin yang mencolok,” tandasnya.

sumber : kompas

Vaksinasi dan Autisme Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Vaksinasi dan Autisme

Published by Lita October 19th, 2006 in Health.

Saya termangu membaca tulisan pak Harry tentang autisme. Teringat kegelisahan seorang ibu yang menanyakan pada saya, hubungan antara imunisasi dan autisme.

Anaknya sebaya Daud dan (saat itu) masih punya jadwal beberapa kali imunisasi. Rupanya e-mail tentang imunisasi yang menyebabkan autisme sedang beredar di milis yang ia ikuti. Sebenarnya ini bukan berita baru. Semacam siklus saja, muncul periodik. Vaksinnya tak selalu sama, tapi intinya sama: bahaya autisme mengintai di balik imunisasi.

Pak Harry menulis tentang autisme dengan mencuplik dari wikipedia. Izinkan saya untuk mengambil sumber dari tulisan yang lain dan dari sisi pandang yang agak berbeda.

Dari dr. Sears:

There has been some recent press over a concern of some medical researchers that the MMR vaccine may be a contributing link to autism. There has been no conclusive medical evidence to date that supports this concern, and the potential severity of these three illnesses makes vaccinating against them very important.

Some parents who have a child with autism, or know someone who has a child with autism, and have a concern about its relation to the MMR vaccine, can give their child each of the three components of this shot separately, one year apart. However, this is two extra injections.

Dari mayoclinic:

Some people believe autism is caused by vaccines — particularly the measles-mumps-rubella vaccine (MMR), as well as vaccines containing thimerosal, a preservative that contains a very small amount of mercury. But extensive studies have shown no link between vaccines and autism.

Sedangkan dari WHO:

Based on the extensive review presented, GACVS concluded that no evidence exists of a causal association between MMR vaccine and autism or autistic disorders. The committee believes the matter is likely to be clarified by a better understanding of the causes of autism.

GACVS also concluded that there is no evidence to support the routine use of monovalent measles, mumps and rubella vaccines over the combined vaccine, a strategy which would put children at increased risk of incomplete immunization. Thus, GACVS recommends that there should be no change in current vaccination practices with MMR.

Penelitian yang dijadikan rujukan bagi pemberitaan adanya korelasi antara vaksin MMR dan autisme dinyatakan memiliki cacat serius. Bertanggal 13 Juni 2003, artikel ini menuliskan:

Committee on Safety of Medicines (CSM) advice on methodology used in this paper

Previous research by Geier and Geier, using similar methodology, has been carefully reviewed by the CSM. The advice of the CSM was that this type of analysis (use of spontaneously reported adverse reaction data and numbers of vaccine doses distributed) cannot be used to determine and compare the incidence of adverse reactions associated with different vaccinations.

CSM will shortly be asked to review the current study by Geier and Geier. However, it is clear from CSM’s previous advice that this methodology is seriously flawed and the conclusions of the authors concerning the association between MMR and DTP vaccine and the outcomes studied cannot therefore be justified.

Sedangkan dari asosiasi dokter anak Amerika (AAP):

The most important weakness of the article is the reliance on VAERS (Vaccine Adverse Event Reporting System) data to draw conclusions about adverse event associations or causality. VAERS is a passive surveillance system for reporting possible vaccine adverse events that depends on health care professionals, patients, and others to file reports.

Health effects reported to VAERS as being associated with vaccines may represent true adverse events, coincidental occurrences, or mistakes in filing. Inherent limits of VAERS include incomplete reporting, lack of verification of diagnoses, and lack of data on people who were immunized and did not report problems.

Data from VAERS are useful for hypothesis generation (raising questions) but should not be used for research aimed at determining whether vaccines cause certain health problems (hypothesis proving), as was done in the article by Geier and Geier.

Dan dari Vaccine Safety, (format pdf):

Consistent evidence from ecologic, case-control, case-crossover, and cohort studies showing lack of an association between MMR vaccine and an increased risk for developing autism, either in the short time window following vaccination or at times distant from vaccination.


Group Health Cooperative Center for Health Studies
CDC Vaccine Safety Datalink Project

Sebagai pengingat: ini bukan pengganti nasihat/diskusi medis. Saya bukan peneliti, apalagi dokter. Namun jika anda bertanya tentang keputusan saya, saya tetap bergeming dengan jadwal imunisasi MMR untuk kedua anak saya.

Saya hanya berharap, para orangtua membuat keputusan tidak berdasarkan emosi dan paranoia semata. Pertimbangkan baik-baik, dan jika ragu dengan kondisi anak, konsultasikan pada dokter.

Walau demikian, keputusan ada di tangan orangtua. Milik orangtua. Dan dijalani anak kelak. Semoga tak ada kata menyesal.

fakta dan mitos imunisasi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Fakta dan Mitos Mengenai Imunisasi

1/22/2007

Sejak pemberian vaksinasi secara luas di Amerika Serikat, jumlah kasus penyakit pada anak seperti campak dan pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) turun hingga 95% lebih. Imunisasi telah melindungi anak-anak dari penyakit mematikan dan telah menyelamatkan ribuan nyawa. Saat ini beberapa penyakit sangat jarang timbul sehingga para orang tua kadang mempertanyakan apakah vaksinasi masih diperlukan.

Anggapan yang keliru ini hanya salah satu dari kesalahpahaman mengenai imunisasi. Kebenarannya adalah bahwa sebagian besar vaksin mampu mencegah penyakit yang masih ada di dunia, walaupun angka kejadian penyakit tersebut jarang. Vaksinasi masih sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan anak. Bacalah lebih lanjut tentang imunisasi secara lebih jelas dalam uraian berikut!

Apa yang terjadi pada tubuh dengan imunisasi

Vaksin bekerja dengan mempersiapkan tubuh anak anda untuk memerangi penyakit. Setiap suntikan imunisasi yang diberikan mengandung kuman mati atau yang dilemahkan, atau bagian darinya, yang menyebabkan penyakit tertentu. Tubuh anak anda akan dilatih untuk memerangi penyakit dengan membuat antibodi yang mengenali bagian-bagian kuman secara spesifik. Kemudian akan timbul respon tubuh yang menetap atau dalam jangka panjang. Jadi, ketika anak terpapar pada penyakit yang sebenarnya, antibodi telah siap pada tempatnya dan tubuh tahu cara memeranginya sehingga anak tidak jatuh sakit. Inilah yang disebut sebagai imunitas (ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu).

Fakta dan mitos

Yang patut disayangkan, beberapa orang tua yang salah mendapatkan informasi mengenai vaksin memutuskan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak mereka, akibatnya risiko anak tersebut untuk jatuh sakit lebih besar.

Untuk lebih memahami keuntungan dan risiko dari vaksinasi, berikut ini beberapa mitos umum yang ada di masyarakat dan faktanya.

Imunisasi akan menimbulkan penyakit yang seharusnya ingin dicegah dengan vaksinasi pada anak saya

Anggapan ini timbul pada beberapa orang tua yang memiliki kekhawatiran besar terhadap vaksin. Adalah suatu hal yang mustahil untuk menderita penyakit dari vaksin yang terbuat dari bakteri atau virus yang telah mati atau bagian dari tubuh bakteri atau virus tersebut. Hanya imunisasi yang mengandung virus hidup yang dilemahkan, seperti vaksin cacar air (varicella) atau vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR), yang mungkin dapat memberikan bentuk ringan dari penyakit tersebut pada anak. Namun hal tersebut hampir selalu tidak lebih parah dari sakit yang dialami jika seseorang terinfeksi oleh virus hidup yang sebenarnya. Risiko timbulnya penyakit dari vaksinasi amatlah kecil.

Vaksin dari virus hidup yang tidak lagi digunakan di Amerika Serikat adalah vaksin polio oral (diberikan melalui tetes ke dalam mulut anak). Keberhasilan program vaksinasi memungkinkan untuk mengganti vaksin virus dari virus hidup ke virus yang telah dimatikan yang dikenal sebagai vaksin polio yang diinaktifkan. Perubahan ini secara menyeluruh telah menghapuskan penyakit polio yang ditimbulkan oleh imunisasi di Amerika Serikat.

Jika semua anak lain yang berada di sekolah diimunisasi, tidak ada bahaya jika saya tidak mengimunisasi anak saya

Adalah benar bahwa kemungkinan seorang anak untuk menderita penyakit akan rendah jika yang lainnya diimunisasi. Jika satu orang berpikir demikian, kemungkinan orang lain pun akan berpikir hal yang sama. Dan tiap anak yang tidak diimunisasi memberikan satu kesempatan lagi bagi penyakit menular tersebut untuk menyebar. Hal ini pernah terjadi antara tahun 1989 dan 1991 ketika terjadi wabah campak di Amerika Serikat. Perubahan laju imunisasi pada anak pra sekolah mengakibatkan lonjakan tinggi pada jumlah kasus campak, angka kematian, serta jumlah anak dengan kerusakan menetap akibatnya. Hal serupa pernah terjadi di Jepang dan Inggris pada tahun 1970 yaitu wabah pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) yang terjadi saat laju imunisasi menurun.

Walaupun angka laju vaksinasi cukup tinggi di Amerika Serikat, tidak dapat dijamin bahwa anak anda hanya akan kontak dengan orang-orang yang telah divaksinasi, apalagi sekarang banyak orang bepergian dari dan ke luar negeri. Sepeti wabah ensefalitis pada tahun 1999 dari virus West Nile di New York, suatu penyakit dapat menyebar ke belahan bumi lain dengan cepatnya akibat perjalanan internasional. Cara terbaik untuk melindungi anak anda adalah dengan imunisasi.

Imunisasi akan memberikan reaksi buruk pada anak saya

Reaksi umum yang paling sering terjadi akibat vaksinasi adalah keadaan yang tidak berbahaya, seperti kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan, demam, dan ruam pada kulit. Walaupun pada kasus yang jarang imunisasi dapat mencetuskan kejang dan reaksi alergi yang berat, risiko untuk terjadinya hal tersebut sangat kecil dibandingkan risiko menderita penyakit jika seorang anak tidak diimunisasi. Setiap tahunnya jutaan anak telah divaksinasi secara aman, dan hampir semua dari mereka tidak mengalami efek samping yang bermakna.

Sementara itu, penelitian secara terus menerus dilakukan untuk meningkatkan keamanan imunisasi. The American Academy of Pediatrics (AAP) sekarang menganjurkan dokter untuk  menggunakan vaksin difteri, tetanus, dan pertusis yang mengandung hanya satu bagian spesifik sel kuman pertusis dibandingkan dengan yang mengandung seluruh bagian sel kuman yang telah mati. Vaksin pertusis yang aselular (DtaP) dikaitkan dengan lebih kecilnya efek samping seperti demam dan kejang.

Baru-baru ini telah disetujui untuk mengganti zat pengawet timerosal dari semua vaksinasi, seperti yang direkomendasikan oleh The Advisory  Commitee on Immunization Practice (ACIP), American Academy of Pediatrics, dan United States Public Health Service (USPHS).

Timerosal adalah produk dari etil merkuri dan telah digunakan sebagai pengawet vaksin sejak 1930. Jumlah timerosal yang terkandung dalam vaksin sangat rendah, pada kadar yang tidak berhubungan dengan keracunan merkuri. Namun USPHS sekarang merekomendasikan untuk meminimalkan semua paparan terhadap merkuri, tidak peduli berapapun sedikit kadarnya, hal ini termasuk pula penggunaan termometer kaca yang mengandung merkuri.

Pada tahun 1999, The Centre for Disease Cintrol (CDC) Amerika Serikat menunda penggunaan vaksin baru rotavirus setelah beberapa orang anak menderita sumbatan di usus yang mungkin dicetuskan oleh vaksin tersebut.  Walaupun hanya beberapa kasus yang dilaporkan, CDC menghentikan pemberian vaksinasi karena adanya kekhawatiran mengenai keamanannya. Setelah dilakukan penelitian, vaksin rotavirus  tidak diberikan lagi.

Ada rumor yang dikuatkan, banyak diantaranya yang diedarkan melalui internet, menghubungkan beberapa vaksin dengan multipel sklerosis, sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS), autisme, dan masalah kesehatan lainnya. Namun beberapa penelitian gagal dalam menunjukkan hubungan  antara imunisasi dengan keadaan tersebut. Angka kejadian sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS) telah menurun lebih dari 50% beberapa tahun ini, padahal jumlah vaksin yang diberikan tiap tahun semakin meningkat.

Anak saya tidak perlu diiimunisasi karena penyakit tersebut telah dimusnahkan

Penyakit yang jarang atau tidak terjadi lagi di Amerika Serikat, seperti polio dan campak, tetap berkembang di belahan bumi lain. Dokter melanjutkan pemberian vaksin untuk penyakit tersebut karena penyakit tersebut sangat mudah ditularkan melalui kontak dengan penderita melalui perjalanan. Hal tersebut termasuk orang-orang yang mungkin belum diimunisasi masuk ke Amerika Serikat, seperti halnya orang Amerika yang bepergian ke luar negeri.

Jika laju imunisasi menurun, penyakit yang dibawa oleh seseorang yang datang dari negara lain dapat menimbulkan keadaan sakit yang berat pada populasi yang tidak terlindungi dengan imunisasi. Pada tahun 1994 polio telah terbawa dari India ke Kanada, namun tidak menyebar karena banyak masyarakat yang telah diimunisasi. Hanya penyakit yang telah diberantas tuntas dari muka bumi, seperti cacar (smallpox), yang aman untuk dihentikan pemberian vaksinasinya.

Anak saya tidak perlu diimunisasi jika ia sehat, aktif, dan makan dengan baik

Vaksinasi dimaksudkan untuk menjaga anak tetap sehat. Karena vaksin bekerja dengan memberi perlindungan tubuh sebelum penyakit menyerang. Jika anda menunda samapi anak anda sakit akan terlambat bagi vaksin untuk bekerja. Waktu yang tepat untuk memberikan imunisasi pada anak anda adalah saat ia dalam keadaan sehat.

Imunitas hanya bertahan sebentar

Beberapa vaksin, seperti campak dan pemberian beberapa serial vaksin hepatitis B, dapat menimbulkan kekebalan seumur hidup anda. Vaksin lainnya, seperti tetanus, bertahan sampai beberapa tahun, membutuhkan suntikan ulang dalam periode waktu tertentu (booster) agar dapat terus memberi perlindungan untuk melawan penyakit. Dan beberapa vaksin, seperti pertusis, akan semakin berkurang namun tidak memerlukan suntikan ulang (booster) karena tidak berbahaya pada remaja dan dewasa. Penting untuk menyimpan catatan pemberian suntikan imunisasi anak anda sehingga anda tahu kapan ia membutuhkan suntikan ulang (booster).

Fakta bahwa penelitian tentang vaksin masih terus berlanjut dan diperbaiki menunjukkan bahwa pemberiannya belum aman

Pusat pengawas obat dan makanan merupakan badan milik pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengatur tentang vaksin di Amerika Serikat. Bekerja sama dengan CDC dan The National Institutes of Health (NIH) mereka meneruskan penelitian dan memonitor keamanan dan keefektifan pemberian vaksin.

Surat ijin bagi vaksin baru dikeluarkan setelah dilakukan penelitian laboratorium dan percobaan klinis, dan pengawasan keamanan tetap berlanjut walaupun vaksin telah disetujui. Telah dilakukan dan akan terus dilakukan perbaikan (misalnya seperti yang berlaku pada DtaP dan vaksin polio) yang akan meminimalkan efek samping yang mungkin terjadi dan untuk menjamin standar keamanan yang terbaik.

Informasi tambahan

Jelaslah bahwa vaksin adalah satu dari alat terbaik yang kita miliki agar anak sehat, namun keberhasilan dan program imunisasi bergantung pada ketersediaan. Anda bisa mendapatkan vaksin dengan harga murah atau gratis melalui klinik kesehatan masyarakat dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), dan pada kampanye vaksinasi anak (misal pekan imunisasi anak).

Anda dapat mengunjungi situs-situs kesehatan lain untuk mengetahui lebih lanjut mengenai vaksinasi. Sumber informasi lainnya adalah dokter anak anda. Bersama, anda dapat menjaga anak anda sehat dan ceria.

Salah Paham Mengenai Imunisasi

Timerosal mengakibatkan Autisme

Beberapa ilmuwan telah melemparkan wacana bahwa kandungan merkuri dalam vaksin merupakan penyebab autisme dan anak yang menderita autisme dianjurkan untuk menjalani terapi kelasi (chelation therapy, pemberian zat khusus sebagai upaya “mengikat” merkuri agar tidak dapat bereaksi dengan komponen sel tubuh) untuk detoksifikasi. Beberapa kasus telah dijadikan perkara hukum yang disidangkan dan beberapa pengacara menyebarkan informasi di internet untuk mendapatkan klien. Situasi ini semakin berkembang karena sampai sekarang beberapa vaksin masih mengandung timerosal, zat pengawet yang mengandung merkuri yang tidak digunakan lagi. Ada beberapa alasan mengapa kecemasan mengenai timerosal dalam vaksin sebenarnya merupakan informasi yang menyesatkan:

  • Jumlah merkuri yang terkandung sangat kecil
  • Tidak ada hubungan merkuri dan autisme yang terbukti
  • Tidak ada alasan yang masuk akal untuk mempercayai bahwa autisme terjadi karena sebab                  keracunan

Timerosal telah digunakan sebagai pengawet pada makhluk hidup dan vaksin sejak tahun 1930 karena dapat mencegah kontaminasi bakteri dan jamur, terutama pada tabung yang digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pada tahun 1999, FDA (Food and Drug Administration) memeriksa catatan bahwa dengan bertambahnya jumlah vaksin yang dianjurkan pada bayi, jumlah total merkuri pada vaksin yang mengandung timerosal dapat melebihi batas yang dianjurkan oleh badan pengawas lain (1). Jumlah merkuri yang ditentukan oleh FDA memiliki batas aman yang lebar, dan belum ada informasi mengenai bayi yang sakit akibatnya. Meski demikian untuk berhati-hati, US Public Health Service dan the American Academy of Pediatrics meminta dokter untuk meminimalkan paparan terhadap vaksin yang mengandung timerosal dan kepada perusahaan pembuat vaksin untuk menghilangkan timerosal dari vaksin sesegera mungkin (2). Pada pertengahan 2000 vaksin hepatitis B dan meningitis bakterial yang bebas timerosal tersedia luas.kombinasi vaksin difteri,pertusis, dan tetanus sekarang juga tersedia tanpa timerosal. Vaksin MMR, cacar air, polio inaktif, dan konjugasi pneumokok tidak pernah mengandung timerosal.

Sebelum adanya pembatasan, paparan maksimal kumulatif merkuri pada anak dalam 6 bulan pertama kehidupan dapat mencapai 187,5 mikrogram (rata-rata 1 mikrogram/hari). Pada formula vaksin yang baru paparan maksimal kumulatif selama 6 bulan pertama kehidupan adalah tidak lebih dari 3 mikrogram (3). Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa batasan maksimal keduanya memiliki efek toksik (keracunan).

Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit (CDC) telah membandingkan angka kejadian autisme dengan jumlah timerosal yang ada dalam vaksin. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perubahan relatif angka kejadian antara autisme dengan jumlah timerosal yang diterima anak dalam 6 bulan pertama kehidupan (dari 0-160 mikrogram). Hubungan yang lemah ditemukan antara asupan timerosal dan beberapa kelainan pertumbuhan saraf (seperti gangguan pemusatan perhatian) pada satu penelitian saja, namun tidak terbukti pada penelitian selanjutnya (4). Penelitian lain yang direncanakan sepertinya juga tidak akan menunjukkan hubungan bermakna.

Komite Intitute of Medicine (IOM) yang telah menyebarkan luaskan laporannya pada bulan Oktober 2001 menemukan tidak ada bukti hubungan antara vaksin yang mengandung timerosal dan autisme, ggangguan pemusatan perhatian, keterlambatan bicara dan bahasa, atau kelainan perkembangan saraf lainnya (5)

Penggunaan terapi kelasi untuk penanganan anak yang menderita autisme sama sekali tidak berhubungan.

7 Fakta Tentang Vaksinasi Juli 3, 2008

Posted by annisa in vaksinasi.
add a comment

Berikut adalah  7 fakta yang harus dan berhak diketahui oleh setiap orang, keluarga dan kelompok masyarakat tentang Imunisasi:

1. Imunisasi sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terkena penyakit yang bersangkutan, menjadi cacat permanent, menderita kekurangan gizi dan bahkan kematian.

2. Imunisasi umumnya aman, bahkan pada anak yang menderita sakit ringan, mempunyai cacat atau menderita kekurangan gizi.

3. Pemberian imunisasi secara simultan/kombinasi aman bagi anak dan memberikan perlindungan lebih cepat.

4. Hanya dengan pemberian imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, anak akan terlindung dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.

5. Semua wanita hamil harus mendapatkan vaksin tetanus untuk perlindungan diri dan bayinya.

6. Imunisasi harus dilakukan dengan mempergunakan jarum dan alat suntik yang baru. Setiap orang harus meminta jarum dan alat suntik baru bila akan diimunisasi.

7. Penyakit akan menyebar secara cepat saat orang berdekatan. Semua anak yang tinggal di kondisi yang padat, khususnya di penampungan pengungsi atau saat kondisi bencana alam, harus mendapatkan imunisasi sesegera mungkin

Fakta #1:  Imunisasi sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terkena penyakit infeksi, menjadi cacat permanen, menderita kekurangan gizi dan bahkan kematian.

Semua vaksin yang diwajibkan dan dianjurkan untuk diberikan pada anak adalah vaksin yang melindungi tubuh dari penyakit infeksi yang serius dan membahayakan. Sistem kekebalan tubuh bayi dan anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan; belum kuat untuk menangkal penyakit infeksi yang berbahaya. Oleh karena itu, mereka harus mendapatkan perlindungan sedini mungkin. Penundaan imunisasi akan menghadapkan anak pada risiko kematian atau kecacatan; kita seolah kembali ke era kegelapan dengan angka kematian yang tinggi, kematian di usia muda karena anak-anak akan bergelimpangan, meninggal sebelum mencapai usia sekolah.

Setengah dari angka kematian pada anak batuk rejan, sepertiga dari semua kasus penyakit diakibatkan polio dan seperempat dari angka kematian akibat campak muncul pada anak di bawah 1 tahun.

Anak yang tidak mendapat imunisasi sangat rentan terhadap campak, batuk rejan, dan penyakit-penyakit mematikan lainnya. Anak yang sembuh dari penyakit-penyakit tersebut menjadi lemah, dimungkinkan tidak dapat tumbuh dengan normal atau juga dimungkinkan menderita cacat permanent. Kemudian mereka bisa meninggal akibat kekurangan gizi dan penyakit-penyakit lainnya.

Imunisasi dilakukan lewat suntikan atau tetesan pada mulut. Vaksin bekerja dengan membentuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Imunisasi hanya dapat bekerja jika diberikan SEBELUM penyakit hinggap pada anak.

Fakta #2: Imunisasi umumnya aman,  bahkan pada anak yang menderita sakit ringan, mempunyai cacat atau menderita kekurangan gizi.

Salah satu alasan utama mengapa orang tua tidak membawa anak ke dokter atau unit layanan kesehatan atau Pekan Imunisasi Nasional adalah anak mereka sedang terkena demam, batuk, flu, diare dan sejumlah penyakit yang diderita pada hari anak harus diimunisasi. Bahkan sering kali petugas kesehatan tidak menganjurkan pemberian vaksin pada anak yang sedang batuk, flu, diare, demam ringan, dan penyakit ringan lainnya. Padahal. imunisasi aman diberikan pada anak yang terkena penyakit-penyakit ringan tersebut.

Kadang kala seorang petugas kesehatan tidak menyarankan pemberian imunisasi kepada anak cacat atau yang kekurangan gizi. Padahal, imunisasi aman diberikan kepada anak yang cacat atau kekurangan gizi. Justru mereka perlu perlindungan segera melalui pemberian imunisasi. Misalnya, anak yang kekurangan gizi harus segera diberikan vaksin campak karena campak sangat berbahaya bagi anak yang kekurangan gizi, khususnya jika kasus kekurangan gizinya parah.

Setelah disuntik, anak mungkin akan menangis atau terkena demam, ruam ringan atau nyeri. Hal ini normal. Tingkatkan asupan cairan, berikan ASI sesering mungkin atau berikan banyak cairan (dan makanan). Kompres dengan air hangat dan berikan parasetamol jika demam. Jika anak terkena demam tinggi selama lebih dari 72 jam, bawa ia ke unit layanan kesehatan.

Falta #3: Pemberian imunisasi secara simultan/kombinasi aman bagi anak dan memberikan perlindungan lebih cepat.

Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa vaksin-vaksin mempunyai efektifitas yang sama, baik jika diberikan sendiri-sendiri maupun secara simultan/kombinasi. Selain itu, imunisasi simultan/kombinasi tidak mempunyai efek merugikan bagi sistem kekebalan tubuh bayi serta tidak meningkatkan kadar efek samping yang biasa muncul pasca imunisasi (demam, nyeri, ruam ringan). Oleh karena itu, di banyak negara termasuk misalnya di Amerika Serikat, Committee on Immunization Practices (ACIP) dan the American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian vaksin secara simultan/kombinasi untuk semua jenis vaksin pada anak.

Ada dua keuntungan dari pemberian imunisasi simultan dalam satu kunjungan. Pertama, kita memberikan kekebalan tubuh pada anak sedini mungkin dalam rangka memberikan perlindungan selama beberapa bulan pertama yang merupakan masa-masa rentan bagi bayi. Kedua, pemberian sejumlah vaksin pada saat yang sama berarti mengurangi jumlah suntikan yang diterima oleh bayi dan juga mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, sehingga menghemat waktu dan uang. Selain itu, kunjungan ke klinik/RS meningkatkan risiko paparan penyakit infeksi pada anak kita.

Falta #4: Hanya dengan pemberian imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, anak akan terlindung dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.

Penting sekali bagi anak untuk mendapatkan jumlah dan jenis imunisasi secara lengkap dan penuh – kalau tidak, maka vaksin tidak akan bekerja sebagaimana mestinya.

Untuk melindungi anak terutama selama tahun pertama hidupnya, berikan imunisasi sesuai jadwalnya. Imunisasi sangat efektif jika diberikan pada umur yang disebutkan pada jadwal, atau pada usia yang paling dekat dengan ketentuan.

Jika karena suatu sebab, anak tidak mendapatkan rangkaian imunisasi secara lengkap, maka penting sekali untuk melengkapinya sesegera mungkin atau pada saat Pekan Imunisasi Nasional.

Di beberapa Negara, tambahan vakinasi, atau disebut booster shots/vaksinasi ulangan, ditawarkan setelah anak berusia lebih dari 1 tahun. Vaksin ulangan/ekstra/tambahan ini membuat perlindungan vaksin menjadi lebih efektif.

Fakta #5: Semua wanita hamil harus dilindungi dari tetanus. Walaupun ia sudah mendapatkan imunisasi sebelumnya, ia membutuhkan tambahan vaksin toxoid tetanus.

Di banyak negara, kaum ibu melahirkan dalam kondisi atau tempat yang tidak higienis. Hal ini menimbulkan resiko terkena tetanus pada ibu dan bayi, tetanus adalah pembunuh utama bagi bayi yang baru lahir.

Jika seorang ibu hamil tidak diberikan imunisasi tetanus dan kemudian bakteri atau spora tetanus masuk ke dalam tubuhnya, maka nyawanya juga akan terancam.

Bakteri atau spora tetanus tumbuh dalam luka yang kotor. Mereka dapat berkembang biak jika tali pusat dipotong dengan pisau yang tidak tajam atau jika benda apapun yang tidak bersih menyentuh ujung tali pusat. Setiap alat yang menyentuh tali pusat harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudia direbus atau dipanaskan di atas api dan kemudian didinginkan. Selama minggu pertama setelah proses kelahiran, kebersihan tali pusat harus tetap dijaga.

Semua wanita hamil harus memastikan bahwa mereka telah mendapatkan imunisasi tetanus, yang dapat melindungi baik ibu dan bayinya.

Pemberian imunisasi pada wanita hamil adalah aman. Perhatikan jadwal pemberian imunisasi tetanus pada wanita hamil:

§    Pemberian pertama: Segera setelah kehamilan terdeteksi.
§   Pemberian kedua: Sebulan setelah pemberian vaksin pertama, dan paling lambat dua minggu sebelum waktu kelahiran. 
§   Pemberian ketiga: 6-12 bulan setelah pemberian vaksin kedua, atau selama masa kehamilan berikutnya. 
§   Pemberian keempat: 1 tahun setelah pemberian vaksin ketiga, atau selama masa kehamilan berikutnya. 
§   Pemberian kelima: 1 tahun setelah pemberian vaksin ketiga, atau selama masa kehamilan berikutnya.

Jika seorang gadis atau wanita telah diberikan 5 kali vaksin tetanus dengan rentang waktu yang tepat, ia akan terlindungi sepanjang hidupnya. Anak-anaknya juga terlindungi selama beberapa minggu awal setelah kelahiran mereka.

Fakta #6: Imunisasi harus dilakukan dengan mempergunakan jarum dan alat suntik yang baru. Setiap orang harus meminta jarum dan alat suntik baru bila akan diimunisasi.

Jarum dan peralatan yang tidak steril dapat menyebabkan penyakit yang membahayakan jiwa. Penggunaan alat dan jarum suntik secara bergantian, bahkan antar sesama anggota keluarga, dapat menyebarkan penyakit yang membahayakan jiwa. Jarum dan alat suntik hanya boleh dipergunakan jika berada dalam keadaan steril.

Fakta #7: Penyakit akan menyebar secara cepat saat orang berdekatan. Semua anak yang tinggal di kondisi yang padat, khususnya di penampungan pengungsi atau saat kondisi bencana alam, harus mendapatkan imunisasi sesegera mungkin.

Situasi darurat dan keadaan yang memaksa orang mengungsi dan meninggalkan tempat tinggal mereka seringkali menyebabkan penyebaran penyakit infeksi. Oleh karena itu, pengungsi yang berusia di bawah 12 tahun harus segera diimunisasi, khususnya vaksin campak, saat pertama kali ditemui atau ditempatkan di penampungan.

Semua imunisasi yang diberikan dalam kondisi darurat harus diberikan menggunakan alat suntik sekali pakai.

Campak akan menjadi sangat serius jika anak-anak kekurangan gizi atau tinggal dalam keadaan yang tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai. Oleh karena itu:

§ Karena penyakit seperti campak dapat secara cepat menular, setiap anak yang terkena campak      harus diisolasi dari anak-anak lain dan diperiksa oleh tenaga kesehatan yang terlatih.

§ Campak seringkali menyebabkan diare akut. Pemberian vaksin campak akan mencegah diare

Renungan Diri Juni 23, 2008

Posted by annisa in Anything.
add a comment

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a.
” Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.
Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit royal adalah hidup mewah, dan
penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan….

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. ,  Rasulullah SAW bersabda :
Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu :
rajin beribadah ketika dilihat orang,
malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala
perkara.
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah :
” Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-2ku yang tersembunyi darinya,
dan janganlah kata-2nya mengakibatkan siksaan bagiku…”

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata:
” Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-2 dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…”

ISI KOTAK OBAT DI RUMAH Juni 23, 2008

Posted by annisa in Anything.
add a comment

ISI KOTAK OBAT DI RUMAH

1. Digital thermometer

2.   Sirup parasetamol

3. Calamine lotion, hydrocortisone cream (1/2%),

4.   ALKOHOL

5. Petroleum jelly untuk LUBRIKASI thermometer rectal

6. Antiseptic lotion-ointment

7. Plester – kasa steril – roll pads

8. Alat bantu memberikan obat sirup (dropper, spuit/syringe, cup/mangkok atau sendok kalibrasi

9. Untuk kompres hangat/dingin

10. Senter kecil

11. Oralit/pedialit

12. Kasa Steril – rolls; pads

Rational Use Of Medicine Juni 23, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

RATIONAL USE OF MEDICINE (RUM)
Oleh : Purnamawati S Pujiarto Dr SpAK, MMPed

Semua orang dalam hidupnya suatu saat pasti membutuhkan obat, termasuk tenaga medis. Semua orang, termasuk pemberi jasa layanan kesehatan (provider) adalah konsumen. Semua orang butuh dan berhak memperoleh layanan kesehatan yang TERBAIK. Di lain sisi, apakah semua gangguan kesehatan harus senantiasa dijawab dengan obat? Apakah ketika anak sakit, solusinya harus peresepan sederet obat dalam bentuk puyer?
Memang, tidak sedikit konsumen yang beranggapan bahwa konsultasi medis adalah kunjungan berobat” alias upaya meminta obat. Uniknya, meminta obat ini sudah seolah terpatri, harus” cespleng dan harus” puyer. Ironisnya lagi, anak merupakan populasi yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional antara lain pemberian antibiotika dan steroid yang berlebihan, serta polifarmasi. Padahal, gangguan kesehatan harian pada anak umumnya merupakan penyakit ringan yang sifatnya self limiting”. Demam, diare akut, batuk pilek, dan radang tenggorokan, merupakan kondisi yang umumnya ditangani dengan antibiotika. Keempat kondisi tersebut juga peresepannya polifarmasi. Padahal, ketika orang dewasa mengalami gangguan yang sama, peresepan obatnya lebih ramping” ketimbang buat anak. Padahal, di dalam kamus bahasa Indonesia, konsultasi medis adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk mencari penyebab terjadinya penyakit & untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Singkatnya, konsultasi medis adalah upaya advocacy, upaya berbagi informasi, upaya meminta penjelasan dan kejelasan. Namun demikian, siapa yang paling berperan terhadap terpaterinya pola pikir sakit = obat, obat = puyer (kalau mau murah, praktis dan cespleng”)? Barangkali, sudah waktunya kita merenungkan kembali praktek keseharian kita di lapangan. Membuka hati, karena kita ingin senantiasa memberika yang TERBAIK buat bangsa ini. Waktunya pun terasa cocok karena sudah semakin banyak konsumen yang memahami bahwa konsultasi medis tidak selalu berarti obat, keputusan klinis tergantung penyebab gangguan kesehatan yang tengah dialami si konsumen.
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya perenungan dan upaya berbagi terkait konsep pola pengobatan yang rasional, yag sudah lebih dari 20 tahun di canangkan. Diawali dengan beberapa cuplikan termasuk dari beberapa guru yang saya hormati dan kagumi semangat dedikatifnya bagi pasien-pasien kita tercinta.


PENINGKATAN MUTU PENGGUNAAN OBAT DI PUSKESMAS MELALUI PELATIHAN BERJENJANG PADA DOKTER DAN PERAWAT
Iwan Dwiprahasto; Bag Farmakologi & Toksikologi FK, UGM Yogyakarta

Berbagai studi menemukan bahwa penggunaan obat untuk ISPA cenderung berlebih. Penyebab pertama, keterbatasan pengetahuan petugas kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tak jarang tetap meresepkan obat yang tak diperlukan (misal antibiotika dan steroid untuk common cold). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien. Contoh, kebiasaan memberikan injeksi pada pasien dengan gejala pada otot-sendi.
43 puskesmas ikut dalam penelitian. Jumlah ratarata obat yang diresepkan untuk ISPA anak dan dewasa, yaitu 3.62 dan 3,69. Pasien myalgia mendapat rata-rata 3.24 jenis obat. Di sebagian besar kabupaten penggunaan antibiotika untuk ISPA mencapai lebih dari 90%. Hanya beberapa puskesmas yang meresepkan antibiotika kurang dari 70%.

Tujuan penelitian (1) menilai pola peresepan ISPA dan myalgia di puskesmas di 8 kab/kota, SumBar (data peresepan retrospektif), dan (2) meningkatkan mutu penggunaan obat untuk ISPA dan myalgia (dilakukan intervensi pelatihan penggunaan obat rasional, melibatkan dokter dan perawat di 15 puskes).
Enam bulan pasca intervensi, penggunaan obat termasuk antibiotika dan injeksi menurun bermakna. Rata-rata jumlah obat untuk ISPA pada anak turun dari 3.74 + 0.58 menjadi 2.47 + 0.67 (p<0.05) (dokter) dan dari 3.67 + 0.49 menjadi 2.39 + 0.73 (p<0.05) (perawat). Penurunan penggunaan antibiotika pada anak dengan ISPA secara bermakna hanya ditemukan pada perawat, dari 81.37% menjadi 42.40%.
Proporsi pasien dewasa dengan ISPA yang mendapat antibiotika Turun bermakna dari 89.18% menjadi 44.15% (p<0.05) (dokter) dan dari 91.22% menjadi 38.71% (p<0.05) (perawat). Penggunaan injeksi juga turun bermakna pada pasien myalgia, yaitu dari 69.11% menjadi 31.89% (p<0.05) (dokter) dan dari 79.56% menjadi 62.91% (p<0.05) (perawat).

Rabu, 22 November 2000: Obat, Komoditas atau Produk Karitas?

OBAT itu unik. Ia adalah komoditas ekonomi komersial tetapi sekaligus produk yang lekat dengan fungsi sosial, penyelamat nyawa manusia. Obat memag telah lama menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan. Otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan, menimbulkan pengobatan yang irrasional yang merugikan konsumen, namun memperkaya para dokter dan industri farmasi.
Ivan Illich (Medical Nemesis: Expropriation to Health, 1975) mengkritik institusi dan industri medis yang membuat manusia tak lagi memiliki otonomi atas kesehatannya sendiri. Dunia medis justru menciptakan “kesehatan” menjadi “kesakitan”. “Industri kesehatan telah menjadi ancaman besar terhadap kesehatan.” Buku-buku lain yang menggugat kemapanan “kolusi” industri dan para dokter ditulis Dianna Melrose (Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines?, 1984), John Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984), hingga pengarang novel Arthur Hailey (Strong Medicine, 1984). ………
Khusus tentang obat-obat generik bermerek, di Indonesia jumlahnya paling banyak. Obat-obat ini berhasil membangun citra seolah-olah seperti obat paten. Ada nilai tambah dengan kemasan yang baik, merek yang keren, serta biaya promosi yang tidak kecil.
Obat, kecil skala ekonominya. Namun, keuntungan yang diraih luar biasa besar. Di Amerika Serikat, menurut survei majalah Fortune, 12 perusahaan farmasi termasuk dalam kelompok 50 perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling besar. Padahal tidak satu pun yang omsetnya besar. Di Indonesia, ada perusahaan farmasi PMA mematok harga obat lebih tinggi daripada di Kanada dan banyak negara kaya. Ini karena praktik transfer pricing ke perusahaan induk. Sementara perusahaan farmasi swasta nasional juga pesta pora obat generik bermerek yang sebenarnya obat latah (me-too drugs) yang margin keuntungannya jauh lebih besar ketimbang obat paten PMA sehingga mereka leluasa mengontrak dokter.
Apakah masih layak menyebut obat dan dokter itu penyelamat? (ij)

Obat Rasional, Kuncinya Dokter

PROFESI kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan preskripsi. Sampurno berharap masalah ketidakrasionalan penggunaan obat dapat diatasi, sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, antara lain meningkatnya inefisiensi biaya pengobatan dan terjadinya efek obat yang tidak diharapkan. Ia mengusulkan 3 agenda aksi untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: Konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional RS pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan preskripsi yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya. “Sayangnya, justru di Indonesia rumah sakit pendidikan adalah tempatnya mengajarkan preskripsi yang tidak rasional”. Agenda aksi kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. DOEN yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda aksi ketiga, intervensi regulasi. ………
Jumlah dan merek obat yang terus bertambah (sekitar 10.000 merek atau bentuk sediaan), bukan soal mudah bagi seorang dokter untuk menjatuhkan pilihan. Menurut Prof Iwan, dalam proses pemilihan ini dokter mudah dipengaruhi produsen. Sering pilihan dokter jatuh pada preparat yang kurang efektif atau yang malahan merupakan plasebo (obat bohong) dan substandar yang seringkali jauh lebih mahal dibanding obat-obat lama yang telah terbukti keampuhannya. Di tengah rimba belantara ribuan merek obat, dokter harus mempelajari sifat obat yang lama dan yang baru secara terus-menerus seumur hidup.

Selengkapnya : http://www.sehatgroup.web.id/isiHigh.asp?highID=60

Be Smarter Be Healthier

resep buat deka Juni 20, 2008

Posted by annisa in MPASI.
add a comment

Resep Apel Kukus
Bahan :

1. Apel merah,kupas buang bijinya, potong juring 1,5 cm 1 bh (150g)

2. tepung terigu 2 sdm

3. havermut instant (instant oats) 1 sdm

4. minyak zaitun extra virgin 1 sdm

5. Sultana/kismis, rendam air mendidih 2 sdm (diamkan 1 jam hingga mengembang, tiriskan

Cara Membuat :

  1. Campur tepung terigu, havermut dan minyak zaitun hingga menjadi adonan remah.
  2. Campurkan sultana/kismis aduk rata.
  3. Panaskan dandang berisi air mendidih.
  4. Sementara menunggu air mendidih, susun apel dalam mangkuk kaca tahan panas.
  5. Taburkan adonan remah merata diats apel, kukus hingga masak (30 menit).
  6. angkat dan Pindahkan ke mangkuk bayi, sajikan hangat.

Catatan :
Pilih sultana/kismis berlabel “unsulfured sun dried”. Artinya, sultana/kismis tersebut dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari, tanpa tambahan belerang sebagai pemucat.

Resep Pisang Kreol
Bahan :
1. Sultana/kismis 2sdm

  1. Jus jeruk manis (jeruk baby ato jeruk keprok) 100 ml
  2. Minyak zaitun 1 sdm
  3. Pisang raja matang dan empuk, kupas 1 bh kecil (100 g) tekan hingga setengah pipih (potong 3/4 bagian)

Cara Membuat :
1. Rendam sultana/kismis dalam jus jeruk.

  1. Diamkan dalam lemari es 1-2 jam hingga mengembang. Jika perlu lumatkan dengan punggung sendok.
  2. Panaskan minyak zaitun dalam wajan dadar, goreng pisang hingga kedua sisinya kecoklatan.
  3. Masukkan jus jeruk berikut sultana/kismis, masak hingga mendidih dan agak pekat.
  4. Segera berikan pada bayi ketika hangat.

Roti gurih sepinggan
Bahan :

  1. Roti tawar buang pinggirannya, potong 16 (1 lembar)
  2. Daging ikan tuna kalengan (tuna in oil)sudah ditiriskan, lumatkan 25 g
  3. Keju serut 1 sdt
  4. Wortel kupas,serut, rebus hingga empuk 25 g
  5. Buncis muda/buncis baby, iris tipis, rebus hingga empuk 25 g
  6. Kaldu ikan/air 50 ml
  7. Tepung terigu 1 sdm
  8. Telur kocok rata dengan garpu, ambil separuhnya (1 butir)

Cara membuat :
1. Ratakan wortel dan bincis di dasar mangkuk tahan panas.

  1. Atur roti diatasnya,taburi ikan dan keju, sisihkan.
  2. Campur kaldu ikan/air dan tepung terigu.
  3. Masukkan telur, aduk rata. Tuang keatas potongan roti.
  4. Kukus hingga masak (20 menit). Sajikan hangat.

Mi Campur Sayuran
Bahan :

  1. Wortel serut 2 sdm (25 g)
  2. Kacang polong beku,kupas cincang halus 2 sdm (25 g)
  3. Kaldu ikan 200 ml
  4. Mi kering remas-remas menjadi remahan, rebus hingga empuk 2 sdm (25 g)
  5. Tahu putih lumatkan 2 sdm (25 g)

Cara penyajian :
1. Masak wortel dan kacang polong bersama kaldu hingga empuk.

2. Setelah kuah mulai kesat masukkan mi dan tahu, aduk rata.

3. Masak hingga mendidih, angkat dan sajikan hangat.

Resep Pasta saus keju
Bahan :

1. Makaroni bengkok (elbow) mini, rebus hingga empuk 6 sdm (80g)
2. Brokoli, cincang, rebus 4 kuntum terkecil
3. Kembang kol, cincang, rebus 4 kuntum terkecil

Saus keju
1. Minyak zaitun/minyak goreng 1 sdm
2. Tepung terigu 1 sdm
3. Susu kedelai tawar/susu cair rendah lemak 175 ml
4. daun seledri, cincang 1 sdt
5. keju cheddar, serut 50 g

Cara membuat :

1. Saus keju :

Panaskan wajan mini diatas api sedang, tambahkan minyak zaitun/minyak goreng. Masukkan tepung terigu, aduk aduk hingga licin. Tambahkan susu, aduk hingga tepung larut. Masukkan seledri masak hingga lembut. Matikan api.

2. Masukkan makaroni dan sayuran, aduk rata. Tuang ke mangkuk bayi. Sajikan hangat.

Bahan :

1. Makaroni bengkok (elbow) mini 3 sdm (25 g) rebus hingga empuk & merekah
2. Filler ikan kakap, cincang 1,5 sdm (25 g)
3. Wortel kupas serut 2 sdm (25g)
4. Daun bayam, cincang 10 lbr
5. Telur, kocok dengan garpu, ambil separuhnya 1 btr
6. Minyak zaitun extra virgin/minyak goreng 1 sdt
7. Kaldu ikan/air 3sdm
8. Keju serut 1 sdt

Cara :
1. Campurkan seluruh bahan hingga rata. Masukka ke mangkuk tahan panas.
2. Kukus hingga masak (20 menit), angkat. Sajikan.

Bayam daging keju (untuk kuah makaroni)
Bahan :

1. 1 cangkir kaldu daging sapi
2. 2 potong daging sapi rebus ukuran 4X4 cm, haluskan
3. Bayam secukupnya, cincang halus
4. 1 sdtkeju parut

Cara membuat:
1.      Panaskan kaldu daging, masukkan bayam aduk hingga bayam lunak
2.      Masukkan keju parut aduk rata, angkat
3.      Masukkan daging giling, sajikan dengan makaroni saring/makaroni rebus

Makaroni saus keju
Bahan:
1. 2 sdm makaroni
2. 1 ½ cangkir kaldu ayam
3. 1 sdtkeju parut
4. 2 sdm Kabocha kuning parut
5. 1 butir kuning telur matang, haluskan
6. Bawang bombay secukupnya, cincang halus

Cara membuat:
1.   Masak makaroni dengan 1 cangkir kaldu ayam hingga matang, haluskan, sisihkan
2.   Tumis bawang bombay dengan 2 sdm kaldu ayam sampai layu dan wangi
3.   Masukkan ½ cangkir kaldu ayam, kabocha kuning, dan keju, aduk rata dan masak hingga kental
4.      Masukkan kuning telur, aduk rata, angkat
5.      Sajikkan makaroni saring dengan saus keju.

Sup Krim Makaroni
Bahan:
1. 1 sdm makaroni
2. 1 sdt oatmeal, grinder halus,ayak, cairkan dengan 2 sdm air matang
3. 1 sdt wortel parut
4. 1 sdt kentang parut
5. 2 sdm daging ayam cincang
6. 1 ½ cangkir air matang

Cara membuat:
1.  Rebus makaroni dengan wortel, kentang dan daging ayam cincang hingga matang

2. Masukkan oatmeal cair, aduk hingga sup kental

artikel simultan Juni 20, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Artikel simultan yang bisa dibawa ke DSA kalo ngotot DSA nya ga mau kasih simultan.  Dari http://www.cdc.gov/od/science/iso/multiplevaccines.htm

diterjemahkan oleh rita-JKT  dari jawaban pertanyaan di milis sehat

THE SAFETY OF MULTIPLE VACCINES

MULTIPLE VACCINES AND THE IMMUNE SYSTEM

1. Berapa jumlah vaksin yg direkomendasikan CDC untuk diberikan pada anak-anak?
Saat ini CDC merekomendasikan pemberian imunisasiuntuk melawan 12 penyakit yang bisa dicegah    melalui vaksin. Seorang anak bisa mendapatkan sampai 23imunisasi begitu dia mencapai 2 tahun karena beberapa vaksin tersebut ada yg harus diberikan lebih dari satu kali. Tergantung pada waktunya, seorang anak dapat mendapat maksimum 6 suntikan dalam satu kunjungan dokter.

2. Mengapa CDC merekomendasikan banyak imunisasi untuk anak-anak?
CDC merekomendasikan imunisasi untuk melawan 12 penyakit menular yaitu: campak, gondongan, rubella, cacar air, hepatitis B, diphtheria, tetanus, pertussis, Haemophilus influenzae type B (Hib), polio,
influenza dan penyakit pneumococcal. Vaksin adalah perlindungan terbaik melawan penyakit-penyakit ini
yang sering menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, meningitis, kanker hati, infeksi dalam
aliran darah dan bahkan kematian.

3. Mengapa imunisasi dilakukan pada waktu bayi? Bukankah lebih aman kalau menunggu sampai mereka lebih besar?
Imunisasi diberikan pada anak-anak karena pada saat inilah mereka lebih rawan terhadap beberapa penyakit.  Bayi yang baru lahir kebal terhadap beberapa penyakit karena mereka memiliki antibodi yang mereka dapat dari ibu. Namun kekebalan ini hanya bertahan sampai umur 1tahun. Selain itu, anak-anak umumnya tidak punya kekebalan maternal terhadap diphtheria, pertussis, polio, tetanus, hepatitis B ataupun Hib. Jika seorang anak tidak memperoleh imunisasi dan terpapar kuman pembawa penyakit, badan anak tersebut mungkin tidak akan kuat untuk melawan penyakit tersebut.  Sistem kekebalan tubuh bayi lebih siap untuk merespon kehadiran sedikit antigen yang sudah dilemahkan dan dibunuh dalam vaksin. Bayi memiliki kapasitas untuk merespon kehadiran antigen asing, bahkan sebelummereka lahir.

4. Saya pernah mendengar orang-orang membicarakan vaksin “simultan” dan “kombinasi”. Apa artinya? Kenapa  pemberian imunisasi seperti itu?
Imunisasi simultan (“Simultaneous vaccination”) adalah pemberian imunisasi ketika lebih dari satu vaksin diberikan dalam satu kali kunjungan dokter, biasanya di bagian tubuh berbeda (contoh: satu di masing-masing lengan atau paha). Vaksin kombinasi (“combination
vaccine”) terdiri dari dua atau lebih vaksin terpisah yang telah dijadikan satu dalam satu kali suntik.
Vaksin kombinasi telah digunakan di Amerika Serikat sejak pertengahan 1940-an. Contoh vaksin kombinasi yang sekarang digunakan adalah: DTap (Diphteria-Tetanus-Pertussis), trivalent IPV (3 strain
polio yang telah dilemahkan), MMR (measles-mumps-rubella), DTaP-Hib dan Hib-HepB.  Ada dua faktor praktis yang mendukung pemberian imunisasi simultan pada anak dalam satu kali kunjungan. Pertama, kami ingin memberikan imunisasi pada anak secepatnya supaya mereka terlindungi pada awal-awal bulan kehidupan mereka. Kedua, memberikan beberapa vaksin pada saat yang bersamaan berarti mengurangi kunjungan dokter dan ini menghemat waktu dan uang orang tua, bahkan dapat mengurangi trauma pada anak.

5. Apakah imunisasi simultan aman dilakukan? Bukankah lebih aman untuk memisahkan vaksin dan memberikan jeda yang cukup antar pemberian vaksin sehingga imunisasi hanya untuk satu penyakit sekali datang ke dokter?
Data ilmiah yang ada menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan menggunakan lebih dari satu vaksin tidak memilik efek yang membahayakan sistem kekebalan tubuh anak normal. Sejumlah riset telah dilakukan untuk meneliti efek dari pemberian berbagai macam vaksin secara simultan dan hasilnya membuktikan bahwa vaksin yg direkomendasikan sama-sama efektif baik diberikan sendiri maupun simultan, dan kombinasi-kombinasi itu tidak memiliki resiko lebih tinggi untuk efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian imunisasi simultan untuk semua imunisasi rutin anak-anak bila memungkinkan.   Benefit lain dari vaksin kombinasi adalah berkurangnya jumlah suntikan imunisasi dan trauma pada anak. Selain itu, merentangkan waktu imunisasi dan memberikannya
satu demi satu dapat memposisikan anak rawan terhadap penyakit yang berbahaya, padahal situasi ini dapat dihindari.

6. Dapatkah begitu banyaknya imunisasi yang  diberikan kepada anak pada umur yang begitu muda  justru menekan sistem kekebalan tubuh anak sehingga malah tidak berfungsi dengan benar?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian imunisasi yang direkomendasikan pada waktu kecil dapat meng- “overload” sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, sejak bayi baru lahir, mereka telah terpapar pada berbagai bakteria dan virus tiap harinya. Makanan membawa bakteria baru ke dalam tubuh, berbagai macam bakteria hidup di dalam mulut dan hidung dan anak kecil memasukkan tangan atau benda lain ke dalam mulutnya beratus-ratus kali tiap jam nya sehingga sistem kekebalan tubuh terekspos pada antigen-antigen lainnya. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) mengekspos seorang anak terhadap 4-10 antigen, dan dalam kasus “strep throat” sampai 25-50 antigen.  Imunisasi yang diberikan dalam dua tahun pertama kehidupan dianalogikan seperti “tetesan hujan di lautan kuman dan antigen yang sistem kekebalan tubuh seorang anak temui dalam lingkungan tiap harinya dan sistem kekebalan tubuh itu sukses melawan kuman-kuman  tersebut.” (Vaccine Education Center, Children’s of Philadelphia.

http://www.vaccine.chop.edu/concerns.shtml#question4)

References
Tortora GJ, Anagnostakos NP. Principles of Anatomy and
Physiology, 3rd ed. Harper and Row Publishers, New
York, 1981.

Whitney EN, Hamilton EMN, Rolfes SR. Understanding
Nutrition, 5th ed. West Publishing Company, St. Paul,
Minn., 1990.

Arsipkan Email Gmail, Jangan Delete Juni 20, 2008

Posted by annisa in Ilmu Baru.
add a comment

By : fatihsyuhud.com/tutorial-blog

Sekedar info bagi pengguna baru email Gmail.com yang mungkin belum begitu terbiasa dengan cara kerja pemberi layanan email gratis dari Google.com ini. Seperti diketahui, Gmail saat ini berkapasitas 6.5 GB atau 6.500 MB. Artinya, sebanyak apapun email yang masuk (selagi bukan file video atau image) tidak akan membuat email kita kepenuhan.

Oleh karena itu, ada baiknya kalau email yang masuk tidak didelete tapi diarsipkan sehingga bisa dicari (search) kapan saja kita butuh lagi. Caranya mudah, (a) kasih tanda tik email yang akan diarsipkan; (b) klik “Archive”. Selesai. Email tersebut akan hilang dari inbox tapi dapat dicari / search kapan saja melalui kotak “search email” di bagian atas.

Beberapa fasilitas lain Gmail:

1. Membuat label dan filter. Label sama dengan folder, dengan mensetting Filter, maka suatu email tertentu dapat dimasukkan langsung ke *Label* tanpa masuk ke inbox. Ini penting buat yg ikut milis, agar tidak campur aduk di inbox semua.

2. Delete atau Archive dapat dilakukan dengan memberi tanda tik / centang pada email yg diinginkan atau sekaligus. Caranya, klik Check All -> Delete / Archive All? -> klik.

3. Forward: email dapat diforward ke email lain. Klik Setting-> dst.