jump to navigation

kejang demam Juni 20, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Kejang demam adalah kejang pada saat terjadi demam tinggi, muncul dalam fase 24 jam pertama. Kejang demam tidak bias dicegah, dan tidak hanya terjadi di suhu tinggi. Kejang demam dapat muncul berulang bila ada riwayat kejang di rumah.

Treatment kejang demam :

Ø Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak

Ø Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas

Ø Jangan memegangi anak untuk melawan kejang

Ø Sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan
penanganan khusus

Ø Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera
dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan anak
untuk dibawa ke fasilitas kesehatan jika kejang masih berlanjut setelah
5 menit. Ada pula sumber yang menyatakan bahwa penanganan lebih baik
dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit

Ø Setelah kejang berakhir (jika <10 menit), anak perlu dibawa
menemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan
leher, muntah-muntah yang berat, atau anak terus tampak lemas

Deka Belajar Jalan Juni 5, 2008

Posted by annisa in Merdeka.
3 comments

Ga terasa deh ………

Deka dah masuk 10 bulan umurnya. Tambah berat (10 kg) dan Tambah tinggi (7,2 M bulan kemaren, belum ukur lagi). Sekarang lagi belajar jalan. Ga mau digendong, carinya jari telunjuk ayah ato bundanya buat pegangan saat jalan padahal cuma nempel. Tapi lama – lama diperhatiin kalo pegangan tangan ortunya terus jadi ga pede jalan sendiri pegangan kursi didorong ato pegangan tembok. Salah kasih stimulasi neh bundanya. Makanya sekarang lagi ngusahain supaya belajar jalannya ga pegangan tangan orang laen tapi pake benda biar pede dan berani.

Tips buat para ortu yang baru punya anak mulai belajar jalan :

1. Jangan sering digendong, anak jadi malas belajar jalan

2. Pake benda dengan catatan kuat untuk pegangan tangannya biar lebih berani

3. Jangan dilarang kalo anak berdiri sendir pegangan benda, cuma dijagain dan diperhatiin biar ga jatoh

4. Cari alas kaki yang ringan dan ga licin

5. Biarkan kakinya menapak tanah biar syaraf – syaraf kakinya kuat tapi dijaga dari benda tajam

Mungkin bisa jadi acuan.

Mencemaskan Tayangan Anak Di TV Juni 5, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Selasa, 3 Juni 2008 | 20:34 WIB
PELANGGARAN tindak kekerasan tidak hanya terjadi di kawasan Monumen Nasionas (Monas), tetapi juga telah mendarah daging di program-program tayangan anak di stasiun televisi nasional di Indonesia. Bahkan sekurangnya 20 tayangan anak melakukan pelanggaran terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS).

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Don Bosco Selamun, mengemukakan hal itu menjawab Kompas, Selasa (3/6) di Jakarta. Dari kajian yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia setiap bulan sejak satu setengah tahun terakhir terhadap program-program tayangan anak di stasiun-stasiun televisi nasional, umumnya banyak pelanggaran P3-SPS, karena mengandung unsur kekerasan, unsur mistik, pornografi, dan memberi contoh buruk pada anak, ungkapnya.

Don Bosco menjelaskan, KPI melakukan kajian terhadap tayangan anak itu karena banyak keluhan dari para orangtua, kalangan pendidikan, dan masyarakat luas. Ada empat kategori pelanggaran, pertama mengandung unsur kekerasan, seperti misalnya menampilkan kekerasan secara berlebihan sehingga menimbulkan kesan bahwa kekerasan adalah hal lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagi pelaku dan korbannya (pasal 29).

Kekerasan dalam hal ini tidak saja dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal seperti memaki dengan kata-kata kasar (pasal 62 e). Kedua, karena mengandung unsur mistik yang bersumber dari pasal 63 F SPS yaitu menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual masis mistik atau kontak dengan ruh. Sedangkan kelompok ketiga, pelanggaran yang mengandung unsur pornografi, termasuk di dalamnya menampilkan cara berpakaian siswa dan guru yang menonjolkan sensualitas (pasal 14 d), menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, baik bergerak atau diam (pasal 27 ayat 1) dan menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar (pasal 13 ayat 1).

Keempat, kategori pelanggaran tayangan anak yang mengandung unsur perilaku negatif. Seperti misalnya menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru (pasal 63 e) dan menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok dalam tayangan anak (pasal 16 b).

Di sela-sela penjelasannya, Don Bosco juga memperlihatkan cuplikan tayangan-tayangan anak yang melakukan pelanggaran itu, baik pada film kartun, sinetron anak, film fiksi nonkartun. Serta program pendidikan dan kuis. ” Pada bulan April 2008, misalnya, terdapat 47 program tayangan anak setiap minggu dengan durasi tayang rerata 30 menit plus iklan. Namun, yang dianalisis hanya 11 tayangan anak di tujuh stasiun televisi, ” katanya, sembari minta dirahasiakan dulu nama/judul program tayangan anak itu, karena KPI belum memberikan surat teguran.

Menurut Don Bosko, tayangan anak yang dianalisis tidak hanya dari aspek tampilan visual, tetapi juga aspek percakapan (narasi), dan nilai pendidikan, mencakup informasi, moral, dan perilaku positif. Dari aspek visual, terdapat 13 poin kriteria pelanggaran yang mengacu pada P3 – SPS KPI, yaitu menayangkan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak, menayangkan adegan yang memperlihatkan perilaku atau situasi yang membahayakan yang mudah atau mungkin ditiru anak, menayangan adegan yang menakutkan atau mengerikan, menayangkan penggunaan senjata tajam atau senjata api untuk melukai orang lain.

Kemudian, menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru, menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual magis, mistik atau kontak dengan ruh. Menampilkan anak-anak berpakaian minim, bergaya dengan menonjolkan bagian tubuh tertentu atau melakukan gerakan yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual.

Menayangkan adegan ciuman atau mencium yang eksplisit dan didasarkan atas hasrat seksual. Menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, eksploitasi bagian-bagian tubuh yang dianggap membangkitkan birahi. Juga menayangkan perilaku berpacaran saat anak-anak. Menayangkan adegan yang menggambarkan atau mengesankan aktivitas hubungan seks. Menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok, dan menampilkan perbuatan antisosial (tamak, licik, brbohong) tanpa sanksi.

Dari aspek narasi, KPI menemukan empat pelanggaran, yaitu memaki dengan kata-kata kasar, menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar. Mengejek atau menghina seseorang menggunakan kata-kata yang merendahkan, dan mengolok-olok atau menertawakan kelompok masyarakat tertentu bertujuan melecehkan.

“Sedangkan analisis dari aspek pendidikan, pada tayangan anak itu tidak mengandung muatan informasi atau pengetahuan. Tidak mengajarkan perilaku positif, tidak mengajarkan nilai-nilai atau pesan moral yang baik,” papar Don Bosko Selamun.

Sumber : Kompas

Dikutip dari kiriman email ghozansehat@yahoo.com di milis sehat

Infeksi Di RS Mengancam Pasien Juni 5, 2008

Posted by annisa in Artikel Dari Milis Sehat.
add a comment

Infeksi di Rumah Sakit Mengancam Pasien
Rabu, 4 Juni 2008 | 16:16 WIB
RUMAH sakit sebagai tempat perawatan dan penyembuhan pasien ternyata rentan
bagi terjadinya infeksi penyakit. Infeksi di rumah sakit (Health-care
Associated Infections/HAIs) merupakan persoalan serius karena dapat
menimbulkan kematian pasien.

Menurut keterangan Direktur Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan Farid W Husain saat peluncuran kampanye pengendalian infeksi
nosokomial di Jakarta, Rabu (5/6), kasus infeksi di rumah sakit (nosokomial)
pada pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia saat
ini diperkirakan mencapai sembilan persen.

“Artinya kasus infeksi semacam ini dialami oleh lebih dari 1,4 juta pasien
rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia,” ungkapnya

Di Indonesia, menurut Farid, sejauh ini belum ada data akurat tentang angka
infeksi nosokomial nasional meski sudah sejak lama mengetahui dan melakukan
upaya untuk mencegah dan mengendalikan masalah kesehatan tersebut.

“Di sini juga ada. Hanya belum ada yang mengeluarkan datanya. Karena itu,
selama kampanye diharapkan data-data sekalian bisa dikumpulkan, ” katanya.

Masalah infeksi di rumah sakit, lanjut Farid, adalah persoalan serius karena
bisa menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien.
Kalaupun tak berakibat kematian, infeksi yang bisa terjadi melalui penularan
antar pasien, dari pasien ke pengunjung atau petugas dan dari petugas ke
pasien itu bisa mengakibatkan pasien dirawat lebih lama sehingga pasien
harus membayar biaya rumah sakit lebih banyak.

Oleh karena itu, katanya, kejadian infeksi nosokomial harus ditekan hingga
seminimal mungkin dengan menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian
infeksi yang tepat.

“Supaya tidak ada lagi infeksi, semua yang ada di rumah sakit harus tahu
cara mencegah dan mengendalikannya, baik itu perawat, dokter, petugas
laboratorium, penjaga, pasien, maupun pengunjungnya, ” kata Farid.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petugas
kesehatan akan ancaman infeksi nosokomial mulai tahun ini Departemen
Kesehatan melakukan kampanye dengan memberikan pendidikan dan pelatihan
pengendalian infeksi di rumah sakit bagi tenaga kesehatan di rumah sakit.

Pada tahap awal, kampanye yang akan dilakukan bekerja sama dengan MRK
Diagnostics dan The Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit
(GTZ) itu dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di 100 rumah
sakit selama Juni 2008-Oktober 2009.

“Target awalnya 100 rumah sakit, dan selanjutnya ini akan dilakukan terus
menerus di seluruh rumah sakit,” katanya.

Ia menambahkan, Departemen Kesehatan dalam hal ini telah menetapkan Rumah
Sakit Umum Pendidikan (RSUP) Adam Malik Medan, RSUP dr.Hasan Sadikin
Bandung, RSUP dr Sardjito Yogyakarta, RSUP dr.Sutomo Surabaya dan RSUP
Sanglah Denpasar sebagai pusat pelatihan regional pencegahan dan
pengendalian infeksi.

AC
Sumber : Antara

Diambil dari Kompas.com

Dikutip dari kiriman email ghozansehat@yahoo.com di milis sehat